Perjalanan saya ke Bali Utara membawa langkah ke sebuah pantai yang namanya begitu puitis: Lovina. Di balik debur ombak yang tenang, ada jejak seorang tokoh yang mengubah wajah Buleleng dan Bali secara keseluruhan—A.A. Panji Tisna, yang dikenang sebagai Bapak Pariwisata Bali.
Lovina bukan sekadar hamparan pasir hitam yang memantulkan cahaya matahari pagi. Ia adalah simbol gagasan besar Panji Tisna tentang pariwisata yang berakar pada nilai lokal. Di sini, ia memilih “menyepi,” bukan untuk menjauh dari masyarakat, melainkan untuk membangun sebuah destinasi yang kelak dikenal dunia.
Menyusuri Jejak Sang Raja
Panji Tisna bukan hanya seorang raja Buleleng, ia juga seorang sastrawan, pendidik, dan visioner. Di Lovina, ia merintis gagasan pariwisata yang tidak sekadar menjual keindahan alam, tetapi juga memperkenalkan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Ia mendirikan SMP Bhaktiyasa, perpustakaan umum, gereja, bahkan bioskop. Semua itu menunjukkan kepeduliannya pada pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Bagi Panji Tisna, pariwisata tidak bisa dipisahkan dari pembangunan manusia.
Lovina sebagai Simbol
Berjalan di sepanjang pantai Lovina, saya merasakan bahwa tempat ini bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Panji Tisna berhasil menjadikan Lovina sebagai jendela Bali Utara ke dunia luar, tanpa kehilangan akar lokalnya.
Di sini, wisatawan tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, mengenal budaya, dan merasakan kehidupan sehari-hari. Lovina menjadi simbol pariwisata yang berkelanjutan, jauh sebelum istilah itu populer.
Sebagai seorang pengembara kata, saya melihat Lovina bukan hanya sebagai tempat indah, tetapi sebagai memoar hidup Panji Tisna. Ia mengajarkan bahwa pariwisata sejati adalah tentang membangun jembatan: jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara lokal dan global, antara manusia dan alam.
Di era ketika pariwisata sering terjebak dalam komersialisasi, gagasan Panji Tisna terasa semakin relevan. Ia menekankan bahwa pariwisata harus berakar pada budaya, harus memberi manfaat bagi masyarakat, dan harus menjaga keseimbangan dengan alam.
Penutup
Memoar perjalanan ini adalah catatan kecil tentang jejak Panji Tisna di Lovina. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan inspirasi yang hidup. Lovina menjadi saksi bahwa pariwisata bisa lahir dari cinta pada tanah sendiri, dari kepedulian pada pendidikan, dan dari keberanian untuk berpikir berbeda.
Bagi saya, berjalan di Lovina adalah berjalan di dalam gagasan besar Panji Tisna: bahwa pariwisata bukan hanya tentang tempat, tetapi tentang manusia dan budaya yang menghidupinya.
__Buleleng 2008 di Istana A.A Panji Tisna. Tulisan ini sebagai memoar perjalanan saya pernah tertunda menulikannya.
