Ada sebuah kata dari masa lalu yang mungkin bagi sebagian orang sudah terdengar asing: deruk.
Bagi saya, kata itu bukan sekadar istilah. Ia adalah bagian dari kenangan tentang kehidupan desa, tentang kesederhanaan, tentang bagaimana butiran-butiran kecil yang tercecer bisa menjadi sesuatu yang berarti.
Deruk adalah kegiatan memunguti sisa butiran kedelai yang tercecer setelah kedelai digedhig, yaitu dipukuli atau dipukul-pukul untuk memisahkan biji kedelai dari kulitnya. Biasanya proses tersebut dilakukan di halaman rumah. Kedelai yang sudah dikeringkan diletakkan di halaman, kemudian digedhig hingga kulitnya terlepas dan bijinya berhamburan.
Tentu saja tidak semua biji berhasil dikumpulkan.Sebagian tercecer ke mana-mana. Ada yang masih terlihat jelas di atas tanah. Ada yang masuk ke sela-sela pasir. Ada pula yang tertutup sedikit oleh tanah sehingga nyaris tidak terlihat oleh mata.
Nah, butiran-butiran yang tersisa itulah yang kemudian kami cari. Kami menyebut kegiatan itu deruk.
Kalau sekarang dipikir-pikir, pekerjaan itu sebenarnya sederhana sekali. Bahkan mungkin bagi sebagian orang tidak menarik sama sekali. Bayangkan harus jongkok atau membungkuk, memperhatikan tanah dan pasir dengan teliti, lalu memunguti satu demi satu butiran kedelai yang terselip di antara permukaan halaman.
Hasilnya pun tidak seberapa.Tetapi anehnya, dulu kami melakukannya dengan gembira.Ada semacam kegembiraan tersendiri ketika mata menemukan satu butir kedelai yang tersembunyi di antara pasir.
“Oh, masih ada!” Satu butir dipungut. Kemudian menemukan satu lagi. Lalu dua.Lama-lama terkumpullah segenggam, dua genggam, atau mungkin lebih, tergantung seberapa banyak kedelai yang tercecer dan seberapa teliti kami mencarinya.
Kami tidak merasa sedang melakukan pekerjaan yang hina. Kami juga tidak merasa sedang mencari sesuatu yang tidak bernilai.Justru sebaliknya, ada kepuasan ketika melihat hasil deruk yang sedikit demi sedikit mulai terkumpul. Kalau hasilnya cukup banyak, kedelai itu bisa dijual.
Memang hasilnya mungkin tidak seberapa. Tidak akan membuat seseorang menjadi kaya. Tetapi ada rasa senang ketika sesuatu yang tadinya tercecer dan hampir tidak diperhitungkan ternyata bisa menghasilkan uang.
Kalau hasil deruk tidak banyak, tidak perlu dipaksakan untuk dijual. Kedelai itu bisa dibawa pulang dan dimasak. Menjadi camilan sederhana. Mungkin direbus, digoreng, atau diolah sesuai kebiasaan keluarga saat itu.Dan sekali lagi, jumlahnya mungkin tidak banyak.Tetapi rasanya tetap menyenangkan.Ada rasa puas karena makanan itu berasal dari sesuatu yang kami cari sendiri. Ada cerita di baliknya. Ada proses yang membuat makanan sederhana itu terasa lebih berharga.
Kini, ketika saya mengingat kegiatan deruk, yang muncul dalam ingatan bukanlah berapa banyak kedelai yang berhasil kami kumpulkan.Yang saya ingat justru kegembiraannya.Betapa sederhananya kebahagiaan pada masa itu.Kami tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa senang.Tidak membutuhkan tempat yang bagus.Tidak membutuhkan makanan mahal.Tidak membutuhkan sesuatu yang sedang tren.Cukup sebuah halaman rumah, butiran kedelai yang tercecer, dan kemauan untuk mencarinya. Lalu kami bisa tertawa dan bergembira bersama.
Mungkin karena dahulu kami lebih mampu menikmati sesuatu yang kecil.Atau mungkin karena kami belum terbiasa mengukur kebahagiaan dari banyaknya sesuatu yang berhasil dimiliki.
Hari ini, kita hidup di zaman yang jauh berbeda. Banyak hal dapat diperoleh dengan mudah. Makanan bisa dipesan dari rumah. Barang bisa dibeli tanpa harus pergi ke pasar. Hiburan tersedia hanya dengan membuka telepon genggam.
Namun semakin mudah hidup dijalani, terkadang semakin banyak pula yang kita inginkan.Yang sedikit terasa kurang.Yang sederhana terasa tidak menarik.Yang sudah dimiliki terasa biasa saja karena mata terus melihat milik orang lain.Kadang saya bertanya dalam hati, ke mana perginya kebahagiaan sederhana yang dulu begitu mudah kami temukan?
Mungkin sebenarnya kebahagiaan itu tidak pernah pergi.Hanya saja kita yang semakin jarang mencarinya.Deruk mengajarkan saya sesuatu yang sederhana: jangan meremehkan sesuatu hanya karena jumlahnya sedikit. Butiran kedelai yang tercecer di halaman memang kecil. Satu butir bahkan hampir tidak berarti.Tetapi jika dipungut satu demi satu, ia akan menjadi kumpulan yang memiliki nilai.
Begitu pula kehidupan.Satu kebaikan mungkin terasa kecil.Satu rupiah mungkin terasa tidak berarti.Satu perhatian mungkin tampak sederhana.Satu kenangan mungkin terlihat biasa.Tetapi bukankah kehidupan kita juga tersusun dari hal-hal kecil seperti itu?
Bahkan kenangan yang bertahan puluhan tahun terkadang lahir dari peristiwa yang pada saat itu kita anggap biasa saja. Seperti deruk. Dulu kami mungkin tidak pernah berpikir bahwa kegiatan memunguti kedelai di halaman rumah akan menjadi sebuah kenangan yang suatu hari dirindukan.Kami hanya menjalani hari. Kami hanya mencari kedelai yang tercecer.Kami hanya ingin mendapatkan sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.Tetapi waktu ternyata menyimpan semuanya dengan caranya sendiri.
Kini, ketika mengenangnya kembali, saya justru merasa bahwa yang kami kumpulkan dahulu bukan hanya butiran kedelai.Kami sedang mengumpulkan kebahagiaan dari sesuatu yang sederhana.Ada pelajaran lain yang saya dapatkan dari deruk: sesuatu yang dianggap sisa oleh orang lain belum tentu kehilangan nilainya.
Kedelai yang tercecer mungkin tidak lagi diperhitungkan. Sebagian bahkan sudah tertutup pasir dan tanah. Tetapi bagi orang yang mau melihat dengan teliti, masih ada sesuatu yang bisa ditemukan.
Barangkali kehidupan kita pun demikian. Ada masa ketika seseorang merasa dirinya tidak lagi berharga karena tidak mendapatkan penghargaan.Ada orang yang merasa dirinya tertinggal karena melihat pencapaian orang lain.Ada pula yang merasa hidupnya tidak berarti hanya karena apa yang dimilikinya tidak sebanyak orang lain.Padahal bisa jadi masih banyak hal berharga dalam dirinya yang selama ini tidak ia lihat.
Seperti butiran kedelai di antara pasir, sesuatu yang berharga kadang memang tidak langsung terlihat. Kita hanya perlu lebih sabar untuk menemukannya.Saya bersyukur pernah mengalami masa itu.Masa ketika memunguti kedelai yang tercecer bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.Masa ketika hasil yang sedikit tidak membuat kami kecewa.Masa ketika makanan sederhana yang berasal dari hasil deruk terasa begitu nikmat. Dan masa ketika kebahagiaan tidak harus dicari jauh-jauh.
Ia ada di halaman rumah.Ia ada di antara pasir dan tanah.Ia ada pada butiran kedelai yang tercecer.Ia ada pada tawa orang-orang yang bersama-sama mencarinya.
Mungkin zaman telah berubah dan deruk perlahan menjadi bagian dari cerita masa lalu. Tetapi kenangannya mengingatkan saya pada satu hal yang sering dilupakan manusia modern:
Tidak semua yang sedikit itu tidak berarti.Kadang yang sedikit justru mengajarkan kita untuk bersyukur.Kadang yang tercecer justru mengajarkan kita untuk menghargai.Dan kadang sesuatu yang sederhana justru meninggalkan kenangan paling lama.
Dulu kami memunguti kedelai yang tercecer.Hari ini, mungkin yang perlu kita lakukan adalah memunguti kembali kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang tercecer di sepanjang hidup.Sebab boleh jadi, kebahagiaan itu sebenarnya masih ada.Hanya saja kita terlalu sibuk mencari sesuatu yang besar sampai lupa memperhatikan yang kecil.
