“Mas Gimin Meninggal dunia”, sebuah kabar duka datang dari pasar Panawangan, yang melukai hati para pecinta bakso Mas Gimin. Penjaja bakso ramah yang tersohor bertahun-tahun, telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Memori yang berisi semangkuk cinta darinya, selalu menjadi topik yang penuh kenangan bagi kami sekeluarga.
Saya mendengar kabar duka akhir-akhir ini tentang Mas Gimin. Sumbernya berbeda-beda, ada yang berasal dari tetangga yang sering pergi ke pasar dan beberapa sumber di sosial media yang dibagikan orang-orang terdekatnya. Isinya menyatakan bahwa Mas Gimin telah berpulang.
Dulu saat saya masih kecil, banyak sekali kenangan yang tumbuh beriringan dengan kepingan ingatan saya di usia belia. Tentang terminal Panawangan, momen mengambil koran dan majalah ke tempat ayah berlangganan, membeli bakso Mas Gimin, dan belanja makanan kecil di toko (keluarga kami menyapanya dengan sebutan Ka Uus) samping Mas Gimin. Jika saya dan keluarga bepergian saat menunggu kendaraan umum, pasti duduk di sana.
Kenangan yang terpatri itu sangat lekat dalam ingatan saya. Terutama saya tumbuh dengan kedua orang tua yang bekerja, mereka berdua adalah guru sekolah dasar. Selagi saya ditinggal berkegiatan di luar sekolah, pasti ayah dan ibu saya selalu ingat kalau saya selalu berharap orang tua saya membawakan buah tangan.
Membawa apa saja untuk mengganti waktu saya saat berada di rumah tanpa mereka. Kilas balik tentang waktu saya bersama orang tua, banyak cerita di dalamnya. Orang tua saya dua-duanya bekerja, dan biasanya jika ada agenda rapat di luar sekolah ibu selalu membelikan saya makanan, dan ayah pun demikian.
Jika ayah sering sekali membelikan saya sate, lain juga dengan ibu. Ibu tak lupa selalu membawakan saya bakso, dan bakso itu jadi kenangan bagi saya meskipun saya tidak tahu persis jika harus mendeskripsikan lezatnya seperti apa. Tapi saya sangat antusias menunggu Ibu, dan bahagia jika ibu membawakan saya bakso dari kedai Mas Gimin.

Saya selalu bersemangat menyambut dan menunggu kedua orang tua saya karena jika pulang, selalu membawa buah tangan. Sesuatu yang membuat saya bahagia tempo hari, adalah saat rutinitas saya menyambut mereka di beranda rumah terbayarkan dengan aroma makanan yang mereka bawa.
Salah satu yang sangat melekat bagi saya adalah bakso Mas Gimin yang sering ibu bawa. Saya sering bertanya pada ibu, “Ini baksonya dari mana?” Lantas ibu menjawab dengan senyum yang hangat, “Biasa dong, dari Mas Gimin.”
Kini saat dewasa, saya mulai menyadari. Mungkin disamping rasa yang khas, di era itu penjaja bakso di Panawangan masih minim pesaing. Hingga hari ini, nama Mas Gimin sangat melekat di tengah keluarga kami, waktu itu bakso Mas Gimin jadi icon dan pembicaraan hangat seiring dengan bentuk cinta dari ibu untuk keluarga kami.
Jika bepergian kemana saja, saya sering diajak makan bakso di kedai Mas Gimin. Hari ini saya percaya, Mas Gimin sudah bertemu dengan salah satu pelanggannya di 15 tahun yang lalu, yakni ibu saya. Jika saya dibawa oleh Ibu dan Ayah ke kantor UPTD pendidikan Panawangan atau ke pasar, tak lupa makan atau membawa bakso Mas Gimin ke rumah.
Sekarang hal itu tinggal kenangan, Mas Gimin pergi dengan cinta, pergi dengan semangkuk sajian yang diracik sepenuh hati, untuk menghangatkan setiap keluarga yang pernah membeli di kedai bakso miliknya. Salah satu keluarga yang meja makannya pernah hangat karena sajian Mas Gimin adalah keluarga kami. Ingat sajiannya, kepulan asap di kedai baksonya, wangi khas jika Ibu saya datang.
Mas Gimin telah terbang bersama cinta, disusul dengan tulisan berisi memoar ini. Rasa kepedihan yang dalam nampaknya bukan keluarga kami saja, tapi banyak di luar sana orang-orang yang bersedih dan kenal dekat dengan Mas Gimin. Selamat jalan Mas Gimin, terima kasih atas semangkuk cinta yang pernah kau racik untuk keluarga kami.
Selamat berkumpul dengan orang-orang baik, selamat berkumpul dengan orang-orang penuh cinta dan kasih.
