Ilustrasi bakso/unsplash.com/MuhammadnArifin Nursalim

Kok ada ya yang gak suka makan bakso? Padahal enak banget lho. Kalimat tersebut mungkin kerap terdengar. Apalagi di kalangan ibu-ibu pecinta bakso.
Baiklah, sebelum membahas bakso, izinkan saya menyapa dulu. Hai teman-teman! Bagaimana kabarnya? Makan apa aja hari ini? Di antara teman-teman ada yang sedang diet gak?
Bagaimanapun hari ini semoga kita semua selalu sehat ya.
Ngomongin soal makan, di antara teman-teman ada nggak yang selektif dalam memilih makanan?
Misalkan yang ini nggak suka tapi yang itu suka, yang ini suka kulitnya aja yang ini suka dagingnya aja. Akan tetapi, ada nggak yang menghindari sesuatu karena tidak suka bukan karena sedang dihindari? Semisal ada yang nggak suka keju atau ikan kaleng?
Mungkin sebagian dari kalian berpikir, mana ada orang kayak gitu? Kok pilih-pilih makanan? Beneran ada lho, saya termasuk salah satu orangnya.
Saya selektif dalam memilih makanan bukan karena menghindari, tapi memang banyak jenis makanan yang entah kurang cocok dengan lidah atau perut, atau tidak cocok dengan apa saya juga tidak mengerti, bahkan banyak makanan yang belum saya coba tapi saya sudah berkata bahwa saya nggak suka itu.
Bahkan orang-orang banyak yang maksa saya untuk banyak nyoba makanan yang saya sebut nggam suka, tapi satu-satunya makanan yang awalnya dipaksa dan sekarang suka adalah durian. Awalnya saya nggak suka karena saya dulunya benci dengan baunya, saya coba pelan-pelan dagingnya ternyata boleh juga, dan saya sampai sekarang saya bisa memakannya.
Saya adalah salah satu orang yang mungkin disangka vegetarian, saya bukan vegetarian tapi saya tidak suka daging, saya hanya bisa makan daging ayam.
Saya tidak suka daging hewan berkaki empat, saya tidak suka daging sapi, daging kambing juga daging domba. Saya tidak suka daging-daging lainnya bahkan suatu ketika ada seseorang yang bilang kalau dia menceritakan pernah makan daging landak, pernah makan belalang, pernah makan makan udang, dan pernah makan marmut.

Beberapa orang menceritakan kepada saya kalau katanya beberapa daging ada yang mirip sapi, ada yang mirip kambing. “Masa kamu nggak tahu sih? kira-kira teksturnya kayak sapi gitu loh, seratnya kira-kira alotnya kayak daging kambing, begitu alotnya.” Semua yang mereka jelaskan saya tidak mengerti sama sekali, karena saya tidak bisa membayangkan tekstur daging yang mereka maksud.
Saya ini bukan penyuka daging berkaki empat, tapi uniknya saya bisa makan olahannya, yakni bakso. Olahan tersebut adalah satu-satunya makanan yang bisa saya makan dan berasal dari daging hewan berkaki empat.
Tapi karena memang memiliki beberapa kriteria, saya cukup teliti untuk menandai kedai mana saja yang baksonya bisa saya santap. Dari mulai kuah yang tidak lekoh denga kaldu dan irisan daging yang tidak dominan lemaknya. Karena seringkali ketika saya menyantap bakso, bibir saya tidak nyaman setelahnya karena lema yang terlalu banyak.
Menurut saya, salah satu kedai yang dekat dari rumah dan besok lagi akan saya sambangi adalah Bakso Cinta di daerah Kawali. Mie pipih yanv khas, dan kuahnya yang cocok dengan saya, serta aromanya yang memikat, menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Menurut saya tekstur dan rasa baksonya cukup mengerti dengan saya yang tidak terlalu suka daging.
Beberapa orang ada yang nanya kenapa kamu kok nggak suka daging tapi bakso bisa makan? Teman bisa tanya dulu sama saya bakso yang seperti yang bisa saya makan, karena saya pernah punya pengalaman makan bakso dengan kakak kelas saya. Dia pesannya bakso dengan topping kikil, saya berusaha menyamai kakak kelas saya dengan memesan menu yang sama dengan harap saya juga bisa memakannya habis.
Nyatanya, saya hanya bisa makan satu biji bakso jumbonya. Sedangkan teman saya mungkin merasa tidak enak sebab kikilnya tidak saya makan, sementara dia juga sudah kenyang.
Khusus di kedai Bakso Cinta ini dengan mie dan bakso yang khas serta kuah dengan aroma yang mungkin tidak ditemukan di kuah bakso lain. Saya makan disini atas saran dari suami yang katanya dia ini dapat rekomendasi dari teman kerjanya, katanya semoga cocok di lidah saya. Suami saya mengerti betul kalau memang lidah saya ini suka bakso tapi tidak suka lemak, dan tidak suka yang berdaging, jikapun memesan ditempat yang baru, maka saya akan memesan bakso kecil dengan mie kuning serta sayur karena takut jika memesan yang biasa.
Kebetulan rasa bakso ini masuk juga di lidah anak saya, dia berumur dua tahun tapi suka bakso. Tentunya untuk memakannya masih dalam pengawasan saya, dengan bumbu yang tidak berlebih, serta memotong kecil-kecil baksonya. Bakso Cinta bisa jadi rekomendasi buat kalian kalau sedang ada di Kawali, mungkin untuk orang-orang penyuka daging yang baksonya bakso banget disarankan untuk pesan bakso beranak, kalau yang biasa saja kayak saya bisa pesan bakso urat.
