Ilustrasi Karnaval dengan Tema Perjuangan (Sumber: Dok. Pribadi/KKN UM Kuningan
Mempertanyakan rasa cinta warga negara Indonesia terhadap negaranya, hari ini mungkin menjadi topik yang kompleks dan sensitif. Mengingat, banyak peristiwa dan kegaduhan di penjuru negeri, yang seakan tak kunjung selesai. Kian rumit meskipun klasik, masalah korupsi sana sini, penyalahgunaan wewenang, dan sebagainya.
Namun, Adakah Rasa Cinta?
Mencintai tanah air adalah perasaan kasih sayang, bangga terhadap negara, bangga terhadap tempat ia lahir dan dibesarkan, serta bersetia untuk menjaga dan memajukannya. Sebagai warga Indonesia, tentunya mencintai negara adalah keharusan. Siapa lagi yang akan melestarikan budaya jika bukan kita, menjaga generasi dan memajukan negara dengan berbagai kontribusi di berbagai bidang.
Apakah Benar Cinta Kita Terbalas?
Di tengah banyaknya ketimpangan di negeri ini, sebenarnya masih banyak masyarakat yang mencintai negerinya. Meskipun memang banyak kebijakan yang tak berpihak pada mereka sebagai masyarakat.
Masyarakat hari ini butuh pemimpin yang bukannya saling sikut berebut kekuasaan. Melainkan pemimpin yang mengerti keadaan masyarakat di lapangan. Baru-baru ini ada masalah dalam birokrasi BPJS, akibat dampak efisiensi anggaran.
Beralih ke masalah program Makanan Bergizi Gratis, dengan masalah anggaran dan kemelut sistem di lapangan. Lain lagi dengan berhenti beroperasinya Koperasi Merah Putih dengan ketidaksiapan SDMnya. Lagi di daerah lain ada rekening masyarakat yang diblokir tanpa pemberitahuan, dengan alasan karena lama tidak digunakan.
Sayangnya disaat itu, bertubi-tubi pula masyarakat disuguhi berita-berita di media nasional, tentang penyelesaian masalah yang sebenarnya tak harus jadi konsumsi publik. Contohnya masalah pribadi Gubernur Jabar yang berlarut-larut, atau dengan kasus Ijazah palsu Presiden RI terdahulu. Sebenarnya, hal seperti itu sama sekali tidak bermanfaat untuk masyarakat.
Sebenarnya banyak masyarakat yang tak peduli sama sekali. Mereka butuh solusi dan program yang berpihak kepada mereka, bukannya mempertontonkan nama baik dan adu pencitraan. Entah prestasi mereka tak tersorot media atau memang tak ada yang bisa dinarasikan oleh pemerintah pada masa ini.
Di tengah carut marut ekonomi, sosial, dan ketidakstabilan politik seperti ini. Rasa cinta tanah air di hati warganya mungkin sangat pantas dipertanyakan. Namun, khusus di bulan Agustus ini, bisa dilihat betapa antusiasnya warga saat merayakan ulang tahun Republik Indonesia yang ke-80.
Mereka berpesta, bersukaria, merayakan dan mensyukuri kehidupan mereka. Meski hidup di tanah air yang mungkin tak berpihak pada rakyat kecil seperti mereka.
Mempersiapkan perayaan dengan membersihkan, menghias, dan mengecat jalanan kampung sampai habis belasan juta. Mengadakan kegiatan dengan anggaran swadaya, mengadakan upacara di lapangan dengan menggelar karnaval budaya, dan masih banyak lagi. Warga Indonesia masih mensyukuri kehidupan mereka, mensyukuri rasa aman di negaranya.
Kini, mungkin kebebasan berekspresi tidak masuk dalam daftar perasaan merdeka, karena saat ini berekspresi juga harus hati-hati. Berekspresi di lain sisi, bisa jadi boomerang bagi diri sendiri. Contohnya ringan saja, lambang animasi yang diperdebatkan karena disinyalir berisi makna politik. Sempat viral dan menuai tanggapan dari pemerintah.
Padahal jika disadari, itu adalah ekspresi masyarakat yang mungkin menunjukkan adanya sinyal dari lapangan yang membutuhkan perbaikan di berbagai sistem sektor pemerintahan. Perayaan ulang tahun Republik Indonesia biasa masyarakat rayakan dengan berbagai kegiatan perlombaan.
Kegiatannya biasa dirangkum dalam kegiatan yang dihimpun dalam satu sebutan, yakni Agustusan. Ajang lomba-lomba kecil yang menunjukan semangat, kerjasama, gotong royong dan perjuangan. Pada hari kemerdekaan, biasanya masyarakat berbondong-bondong untuk mengikuti upacara bendera dan menggelar banyak kegiatan.
Disaat itu pula masyarakat memperlihatkan, betapa cintanya mereka terhadap tanah airnya. Tetap merayakan ulang tahun negaranya, mencintai sepenuhnya, menyambut usia baru dengan harapan dan penuh sukacita. Meski mungkin cinta mereka sebenarnya belum terbalaskan, setidaknya mereka sudah lebih dulu jatuh cinta dengan patuh terhadap negara yang dicintainya.
Mengikuti dan menuruti alur juga kebijakan yang berlaku, patuh dan tunduk karena cinta.
Cinta tanah air sepenuhnya.
