Aku ingin hidup lebih lama lagi. Itu adalah harapan dan doa yang tak pernah berhenti kupanjtakan. Semenjak sakit ini terasa, setelah sekian lama aku bertahan. Kini, aku merasa bahwa mungkin saja ajal itu sudah mendekat ke arahku.
Hujan mengguyur pagi. Dingin menusuk pori. Jujur aku sudah tidak tahan lagi. Gigil ini teramat menyiksa dalam beberapa hari. Musim bediding yang melanda Bandung dan sekitarnya membuat suhu terasa lebih rendah dari biasanya. 13 derajat, cukup membuat rasa mual semakin hebat untuk aku yang memiliki kondisi tubuh seperti ini.
Jika sudah begini, aku semakin takut. Rapuh tubuhku semakin terasa ketika ingatan tentang kepergian ibu di usianya yang masih muda. Apa aku juga akan menyusulnya dengan segera? Penyakit yang dideritanya pun sama.
Apakah aku mulai pesimis? Tapi ya Allah, aku sangat ingin hidup lebih lama lagi.
Sembari selimutan aku mencoba menikmati semangkuk sup hangat yang dipanaskan sisa kemarin malam. Masih terasa lezat meskipun dinikmati sendirian. Tidak ada canda tawa anak jagoan semata wayang yang biasa menemani. Dia selalu bilang, “Aku akan solat, dan doakan Unda biar lekas sembuh ya.”
Tidak juga lelaki tangguh yang kerap menenangkanku saat resah karena tensi darah tetap tinggi dan pusing yang semakin menjadi.
Hanya pesannya yang kuingat setiap pagi sebelum ia berangkat kerja, “hari ini jangan terlalu capek. Kalau mau beraktivitas pilih salah satu saja. Habis itu, istirahat lagi.” Kalimat pesan yang terdengar agak membosankan tetapi aku tahu itulah bukti kasih sayang dan cintanya pada perempuan rapuh yang dinikahinya ini.
Ku pikir, ia telah benar-benar berani mengambil risiko besar. Menikahi perempuan yang semakin sakit-sakitan. Menolongnya dari kemalangan masa lalu yang masih menggantung dan meninggalkan kelelahan psikis yang belum benar-benar sembuh. Ya, dia telah mengambil bagian terberat itu.
Ia akan pergi dengan pesan, dan siang akan memantauku dari kejauhan lalu bersegera pulang dan kubombardir lagi dengan keluhan.
Oh, sungguh aku minta maaf atas semuanya. Maaf jika hari-hari kita tidak seindah dulu. Kini lisanku lebih fasih melafalkan apa yang aku rasakan sepanjang hari dibandingkan berbagi kisah seru dan menyenangkan seperti sebelumnya. Namun terima kasih kamu selalu mendengarkannya dengan sepenuh hati, meskipun ku tahu kau pun begitu lelah.
Pagi ini agak lain. Dia tersenyum sebelum pergi kerja. Pesan templatenya ditambah dengan kalimat, “Nulis lagi saja, biar fokusnya beralih. Jangan kerjain yang berat-berat. Kalau ngantuk lekas tidur.”
Aku selalu terharu dengan pesan-pesannya. Dia tidak pernah mempermasalahkan kalau rumah ternyata berantakan sepulang kerja. Dia tidak pernah mengeluh kalau pagi-pagi sarapan belum siap sebelum berangkat. Ia selalu mengerti bahkan lebih dari itu. Istrinya memiliki energi yang tak cukup untuk sehari.
Sarapan pagi yang disegerakan demi agar asam lambung tidak kambuh. Memilih dan memilah makanan yang rendah garam agar pusing dan debar jantung tidak terlalu mengganggu seharian.
Ah, bahkan kemarin nyaris saja bersorak kegirangan. Datang bulan yang telat, pusing dan mual yang hebat. Menjadi kombinasi penderitaan yang rasanya akan sangat disyukuri kalau hasil tesnya positif. Namun nyatanya keluar juga. Pusing dan dan mual kembali diratapi dan membuat sadar bahwa memang tubuh ini sudah terlalu “renta” untuk berharap diberikan amanah keturunan lagi.
Setiap hari aku harus minta maaf. Setiap sakit ini menyerangku selalu minta didoakan. Aku takut. Bahkan sangat takut jika aku akan meninggal lebih dulu, meninggalkanmu dan meninggalkan semua harapan yang baru saja aku temukan kembali dalam kehidupan.
Bahkan tanpa sepengetahuan siapapun, air mata ini kerap jatuh. Bukan lagi menetes, tetapi berderai, deras. Deras sekali. Sujud-sujud dalam sholatku tidak pernah absen untuk meminta kesembuhan dan ampunan atas dosa-dosa yang mungkin jadi penghalang untuk Allah memberikan nikmat sehat.
Hujan di pagi ini, menyadarkanku akan hidup. Mungkin esok lusa aku sudah tidak bisa menulis lagi. Esok atau lusa mungkin aku sudah tidak bisa berbagi cerita lagi. Bahkan mungkin aku sudah tiada.
Namun aku selalu berharap, andai aku pergi. Aku ingin suamiku tahu, bahwa aku benar-benar merasa beruntung memilikinya. Lelaki tersabar dengan maaf seluas samudera.
Aku sangat berterima kasih. Sangat, sangat berterima kasih. Semoga Allah senantiasa menjagamu, dan menjaga anak-anak kita.
Aku sebenarnya selalu berdoa agar aku panjang umur dengan sehat wal afiat. Agar aku bisa terus bersamamu, mengarungi ibadah terpanjang seumur hidup. Aku ingin bersamamu hingga di surga nanti.
Ya Allah, izinkan aku untuk hidup lebih lama lagi. Izinkan aku semakin baik di sisa usiaku ini dengan ibadah yang semakin sibuk, zikir yang semakin basah di lisanku. Karena hanya dengan mengingat-Mu aku memiliki harapan….
