Perempuan Hebat, Ibu Hebat (Sumber: Meta AI)
Saat hidup ditakdirkan sebagai perempuan, tugas kita hanyalah menjalankan peran dengan baik, ikhlas, sabar, dan penuh kekuatan. Selamat berjuang para ibu hebat!
Saat seorang anak tumbuh dewasa, kita sering melihat orang tua yang hidup dengan segala mitos dan kepercayaan yang mereka yakini. Seringkali mereka banyak menyampaikan wejangan, cara hidup, dan deskripsi tentang pembagian peran ketika berumah tangga nanti. Namun ternyata, mereka tidak memahami bahwa saat ini berumah membutuhkan energi dan ilmu dasar tambahan lain yakni bagaimana cara menghadapi tentang zaman.
Berguru kehidupan akan lebih baik jika kita belajar pada mereka yang telah menikah dan menjadi orang tua. Dari mulai lelaki yang harus matang mental dan finansialnya, tentang wanita harus tangguh namun tetap anggun tampilannya, dan lain masih banyak lagi perbandingan-perbandingan lain. Ilmu-ilmu pernikahan dipungut oleh anak yang menjadi generasi penerus mereka.

Padahal dalam penerapannya, tergantung pada beda orang, beda pernikahan, beda konsep, beda impian. Lalu, mana bisa strategi pernikahannya disamakan?
Lelaki harus belajar menjadi individu berpendirian dan matang cara berpikirnya. Cermat dalam mengambil tindakan sebagai modal menjadi pelindung keluarga, lihai mengelola diri, dan siap menyediakan urusan finansial yang stabil. Tentunya, menjadi lelaki sangatlah berat, namun pembahasan kali ini kita akan memfokuskan pada peran perempuan dalam kehidupan.
Baru-baru ini, beredar cuplikan podcast yang berisi pernyataan seseorang yang isinya kurang lebih begini.
“Perempuan itu, jika bekerja selalu dituntut seakan tidak punya anak. Sedangkan saat berada di rumah mengurus anak, ia harus berperan seolah-olah tidak punya pekerjaan.”
Kalimat pertama menunjukkan sejauh apa keberdayaan perempuan dan terlibatnya ia dalam kontribusi global secara nyata. Namun dalam kalimat selanjutnya, seakan memberi penjelasan bahwa sebenarnya saat di rumah, seorang ibu akan terkurung bersama dengan diri dan mimpi-mimpinya yang tertunda. Tidak ada bandingan tentang beratnya peran menjadi laki-laki atau perempuan, tapi tantangan masa kini perlahan akan menjawabnya.
Jika laki-laki peran besarnya mencari uang, sedangkan ketidakstabilan politik dan ekonomi disadari oleh semua kalangan termasuk perempuan. Ia pasti sedikit banyak berpikir dan mencemaskan masa depan keluarganya. Maka tak heran, banyak perempuan yang berkontribusi dan membantu laki-laki dalam pemenuhan finansial di keluarganya.
Jika dalam ajaran Islam, perempuan setelah menikah boleh bekerja dengan niat mengembangkan diri dan tidak bertujuan membantu mencari nafkah. Lain halnya dengan banyak kaum hawa di luar sana yang juga bekerja terpaksa dengan tujuan menopang ekonomi keluarganya. Tak salah memang, namun jika disadari pada akhirnya perempuan punya keunikan.

Mereka punya peran ganda, selain menjadi manajer di keluarga, ia juga jadi sumber penghasilan alternatif bagi keluarganya. Bahkan saat hidup mulai tak berpihak padanya, perempuan biasanya bisa sekaligus menjalani peran laki-laki di rumah sembari menjalankan kodrat dan peran dirinya. Jika saja memang di dunia ini, tugas laki-laki hanya mencari uang, mari membuka mata dan melihat sisi lain.
Kita lihat, bahwa tak sedikit dari mereka yang berdaya, dan menghasilkan uang seperti laki-laki. Mereka menjual makanan dari rumah, membuat konten, membuat kerajinan tangan dan menjualnya, menjadi pelaku online shop, juga sebagainya.
Lantas? Ketika laki-laki hanya wajib mencari uang sedangkan perempuan pun bisa melakukannya. Apakah laki-laki bisa melakukan semua yang jalankan seorang ibu selama hidup?
Hidup ditakdirkan menjadi perempuan memang berat tapi kita sebagai perempuan tak boleh berkeberatan.
