“Apa yang Anda keluhkan tidak terlihat di sini.”
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi rasanya seperti palu. Merlin menatap layar monitor di hadapannya, penuh garis dan angka yang sama sekali tidak ia mengerti.
“Jika ginjal bermasalah, seharusnya ada keluhan lain—susah berkemih, nyeri saat buang air kecil, atau pembengkakan. Tapi hasil Anda bersih.”
“Lalu… saya sakit apa, Dok?” suara Merlin bergetar. Ia sendiri lelah mendengarnya.
Dokter itu menarik napas, seolah menimbang kata yang akan diucapkan.
“Gangguan psikosomatik.”
Kata itu membuat ruang periksa terasa mengecil. Psikosomatik. Artinya tubuhnya menjerit karena pikirannya terlalu lama dipaksa diam.
Dokter bahkan menyarankan ia menemui psikiater. Bukan karena Merlin “mengada-ada”, melainkan karena rasa sakit itu nyata—hanya saja sumbernya bukan organ, melainkan tekanan yang bertumpuk dan tak pernah dilepaskan.
Setiap hari Merlin kesakitan. Perut kirinya seperti diremas perlahan. Kadang keram itu datang tiba-tiba, membuatnya terpaksa duduk sambil menahan napas. Jalan beberapa langkah saja terasa berat, seolah tubuhnya menolak bergerak.
Ia sudah melakukan segalanya. Mengatur jam minum, menahan makanan pedas, mengurangi kopi. Ia bahkan memaksa dirinya tidur lebih cepat. Tapi tidur justru menjadi medan paling kejam.
Begitu mata terpejam, pikirannya berteriak. Suara-suara muncul tanpa wujud. Kekhawatiran kecil membesar. Kesalahan lama datang berbarengan. Kalimat yang tak pernah ia ucapkan kembali menggema. Ia terbangun berkali-kali, berkeringat, jantung berdebar, merasa seperti sedang dikejar sesuatu yang tak bisa ia lihat.
Subuh hampir selalu datang sebelum tidur sempat singgah.
“Ini obat sementara untuk membantu tidur,” kata dokter sambil menyerahkan resep. “Tapi ini bukan penyelesaian. Anda perlu bantuan profesional.”
Merlin mengangguk, meski kepalanya kosong.
Di luar ruang periksa, dokter sempat berkata,
“Beruntung Anda datang sekarang. Jika terlambat beberapa bulan, kondisinya bisa jauh lebih buruk.”
“Seberapa buruk?” tanya Merlin lirih.
Dokter menyebut nama seorang artis—cantik, cerdas, sukses. Semua orang tahu kisahnya. Karier bagus, keluarga tampak harmonis. Namun satu hari, publik melihat sisi lain: video depresi, tatapan kosong, lalu kabar gangguan kejiwaan.
“Tekanan batin yang dipendam terlalu lama,” kata dokter. “Siapa pun bisa jatuh.”
Merlin menelan ludah. Ia membayangkan dirinya sendiri: tersenyum di depan orang lain, menjawab “baik” saat ditanya kabar, lalu runtuh sendirian di malam hari. Tidak ada yang tahu seberapa sering ia ingin berteriak. Tidak ada yang tahu betapa dekatnya ia dengan kehilangan kendali.
Di apotek, Merlin membuka ponsel. Ia membaca gejala psikosomatik. Setiap kalimat seperti menelanjangi dirinya. Nyeri tanpa sebab medis. Insomnia kronis. Kecemasan terus-menerus. Perasaan terasing dari diri sendiri.
“Ya Allah,” bisiknya dalam hati. “Jika ini ujian, aku hampir tak sanggup.”
Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang. Satu dorongan kecil saja—dan ia mungkin tak kembali.
Di bangku tunggu, suaminya duduk di samping. Sejak tadi ia diam. Wajahnya kusut, matanya merah, seolah menahan sesuatu.
Tiba-tiba suaranya pecah.
“Apakah hidup denganku membuatmu menderita?”
Merlin menoleh. Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari semua rasa sakit fisik. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa selama ini ia tidak hanya menyakiti dirinya sendiri—ia juga membiarkan orang terdekatnya tenggelam dalam ketidaktahuan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Saat itu Merlin mengerti: kegilaan tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang pelan, lewat diam yang terlalu lama dipelihara. Lewat stres yang dianggap sepele. Lewat luka batin yang terus disangkal—sampai tubuh dan pikiran akhirnya menyerah bersama-sama.
Dan Merlin… sudah terlalu dekat dengan batas itu.
