Pagi itu langit Cianjur begitu cerah. Matahari belum terlalu tinggi, tetapi cahayanya sudah cukup membuat hamparan sawah di kiri dan kanan jalan kecil yang kami lewati tampak hijau berkilauan.
Padi yang masih muda bergerak pelan ditiup angin, sementara jalan yang kami lalui hanya cukup untuk dilewati beberapa orang. Kami berjalan beriringan dalam satu barisan, sesekali terdengar percakapan dan tawa dari orang-orang di depan maupun di belakang. Kami sedang menuju sebuah tempat untuk mengikuti outbound bersama rombongan.
Aku berjalan tidak jauh dari suamiku. Entah mengapa pagi itu aku merasa begitu tenang, mungkin karena suasananya menyenangkan dan perjalanan bersama banyak orang membuat semuanya terasa ringan.
Sampai kemudian seseorang yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti dan memberi tahu bahwa jalan yang sedang kami tuju ditutup sehingga kami harus mencari jalan lain. Beberapa orang mulai berbelok ke arah yang berbeda. Aku melihat sebuah gang kecil di antara dua rumah yang berdiri di tengah persawahan. Jalannya memang sempit, tetapi tampaknya bisa menjadi jalan pintas untuk menyusul rombongan yang lain. Tanpa banyak berpikir, aku pun mengambil arah itu.
Aku sempat menoleh ke belakang, mengira suamiku akan mengikutiku seperti biasa. Namun, ia tidak ada di sana. Dari kejauhan aku masih bisa melihat rombongan yang tadi kami ikuti dan tampak seperti suamiku masih berada di antara mereka. Aku berpikir mungkin ada sesuatu yang masih diurusnya, sehingga aku tidak menunggu terlalu lama. Toh, aku juga tidak sendirian. Ada beberapa orang yang lebih dahulu berbelok ke jalan kecil itu dan aku memilih berjalan bersama mereka.
Ternyata dari sanalah semuanya dimulai. Aku tidak tahu berapa lama kami berjalan ketika tiba-tiba aku melihat seseorang yang wajahnya begitu kukenal. Aku memperlambat langkah, memastikan penglihatanku tidak salah, lalu spontan memanggil namanya.
“Fuji?”
Ia menoleh dan wajahnya langsung berubah cerah. “Eh, kamu!”
Kami tertawa seperti dua orang yang tidak sengaja dipertemukan kembali setelah sekian lama. Fuji adalah teman kuliahku ketika dulu kami sama-sama belajar di PGTK. Kami kemudian berjalan berdampingan sambil bercerita tentang kehidupan masing-masing. Ia bercerita tentang aktivitasnya mengajar di Cilacap, tentang anak-anak didiknya, tentang kesibukan yang membuat hari-harinya hampir selalu penuh. Aku pun sesekali menimpali dengan ceritaku sendiri. Rasanya menyenangkan bertemu teman lama di tengah perjalanan seperti itu.
Saking asyiknya berbincang, aku tidak sadar bahwa langkah kami sudah semakin jauh dari jalan semula. Aku juga tidak lagi memikirkan suamiku. Dalam pikiranku, rombongan Fuji adalah rombongan yang sama dengan rombonganku. Kami hanya mengambil jalan berbeda karena jalan utama ditutup. Tidak ada sedikit pun kecurigaan bahwa aku sebenarnya sedang berjalan menuju tempat yang sama sekali berbeda.
Jalan kemudian mulai menanjak. Kami mendaki sebuah bukit yang permukaannya didominasi pasir dan kerikil berwarna hitam. Dari kejauhan tanah itu tampak seperti sisa letusan gunung yang mengering.
Aku mulai merasa lelah, tetapi orang-orang di depanku terus berjalan hingga akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang cukup luas. Beberapa orang mulai duduk di atas tikar yang sudah disediakan untuk beristirahat sejenak.
Tak lama kemudian, suara trainer terdengar melalui pengeras suara. Ia memanggil peserta untuk segera berkumpul di area yang lebih luas karena kegiatan akan dimulai.
Aku memilih tetap duduk duduk di atas tikar karena belum selesai membuka bekal. Fuji pun masih bersamaku, tetapi tak lama kemudian ia berdiri.
“Aku duluan, ya. Harus menjaga anakku. Dia juga ikut outbound.”
Aku mengangguk dan melihatnya berjalan menuju kerumunan. Aku pun berniat menyusul setelah membereskan barang-barang.
Namun sebelum berdiri, aku memperhatikan orang-orang yang sedang berkumpul di depan. Satu per satu wajah kuamati. Aku mencari orang-orang yang tadi berjalan bersamaku dari awal. Mencari wajah yang kukenal. Mencari rombongan yang seharusnya bersamaku.
Tidak ada satupun!
Aku berdiri dan kembali memperhatikan lebih teliti. Semakin lama jantungku berdetak semakin cepat. Tidak ada satu pun orang dari rombongan kami.
Saat itulah sebuah kesadaran datang begitu saja dan membuat tubuhku terasa dingin. Mereka bukan rombonganku. Aku salah jalan. Rombongan yang sejak tadi kuikuti ternyata rombongan lain.
Aku menoleh ke arah jalan yang baru saja kulewati. Tiba-tiba jarak yang tadi terasa biasa saja berubah menjadi begitu jauh dan menakutkan. Aku harus kembali dan menemukan rombongan kami. Aku harus menemukan suamiku.
Aku segera mencari sepatu. Tetapi etntah kenapa sepatu itu mendadak begitu sulit kucari. Sampai aku putus asa mencarinya karena tak kunjung ditemukan.
Belum sempat aku berpikir harus bagaimana, hujan tiba-tiba turun begitu deras. Langit yang beberapa saat lalu masih cerah berubah gelap dan air jatuh seperti ditumpahkan dari atas sana. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh, sementara aku hanya berdiri kebingungan.
Aku akhirnya memutuskan turun dari bukit, tanpa sepatu. Kerikil-kerikil tajam menusuk telapak kakiku setiap kali melangkah. Beberapa kali aku meringis menahan sakit, tetapi aku terus berjalan. Aku hanya memikirkan bagaimanapun caranya aku harus menemukan suamiku.
Ponsel berkali-kali kunyalakan. Aku mencoba meneleponnya, tetapi panggilan tidak tersambung. Aku mencoba lagi. Tetap sama. Tidak ada sinyal. Aku berjalan sambil mengangkat ponsel tinggi-tinggi, berharap satu garis sinyal muncul di layar. Tidak ada.
Hujan semakin deras dan kakiku semakin terasa sakit. Kepanikan mulai menguasai perasaanku.
Aku semakin jauh dari rombongan Fuji dan untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa sendirian di tempat yang sama sekali tidak kukenal. Tidak tahu jalan pulang dan tidak tahu di mana rombonganku berada. Yang paling membuatku panik adalah aku tidak tahu apakah suamiku menyadari bahwa aku sudah tidak ada bersamanya?
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku melihat sebuah warung kecil di pinggir jalan. Aku segera menghampirinya dengan kaki yang sudah kotor dan penuh lumpur.
“Bu, ada sandal?” Penjual warung itu menunjukkan beberapa pasang sandal jepit swalow. Aku langsung memilih satu, nomor 9, pas di kakiku. Rasanya sedikit lega, akhirnya kakiku tak akan terlalu sakit lagi.
“Berapa, Bu?”
“Seratus ribu.”
Aku terdiam. Seratus ribu? Aku membuka dompet dan memeriksa isinya. Benar. Hanya ada satu lembar uang seratus ribu. Tidak ada uang pecahan lain. Karena memang bepergian dengan suami tak pernah mengkhawatirkan soal uang.
“Seratus ribu? Mahal sekali, Bu. Masa sandal jepit sampai seratus ribu?”
Penjual itu menjawab santai, seolah harga tersebut sangat wajar. “Ini merek bagus. Lagipula di tempat wisata,” katanya.
Aku menatap sandal yang sudah terpasang di kaki. Dalam keadaan biasa mungkin aku tidak akan pernah membeli sandal semahal itu, tetapi saat itu aku tidak punya pilihan. Aku membutuhkan alas kaki untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan berat hati, kuberikan uang seratus ribu itu yang merupakan terakhir yang kupunya.
Aku kembali berjalan tanpa arah dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Tidak ada lagi yang bisa kuandalkan selain ponsel yang tak kunjung mendapatkan sinyal dan kakiku yang mulai terasa nyeri. Berkali-kali aku mencoba menelepon suami. Tidak tersambung. Aku mencoba lagi. Tidak ada.
Aku hampir menagis. Bukan karena uang seratus ribu yang habis, bukan pula karena hujan yang membuat tubuhku basah kuyup. Aku hanya ingin seseorang menemukanku. Aku sangat berharap suamiku tahu bahwa aku tersesat dan datang mencariku.
Aku berhenti di tengah jalan dan berpikir mungkin ia tidak tahu aku hilang. Karena memang suamiku sudah terbiasa sibuk bersama rombongan. Bisa jadi dia juga panitia yang banyak mengurusi orang. Apa mungkin ia bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi aku tidak ada di sampingnya. Pikiran-pikiran itu membuat dadaku semakin sesak.
Aku hendak mencoba menelepon nomor lain ketika tiba-tiba seseorang menyentuh kepalaku dari belakang. Aku membeku. Akhrnya ada seseiorang yang menemukanku, pikirku.
Pelan-pelan aku berbalik. Seorang laki-laki tinggi dan tegap berdiri di belakangku.
Suamiku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasa lega yang begitu besar tiba-tiba membuat lututku kehilangan tenaga. Air mataku langsung tumpah dan tanpa sadar aku bersujud di kakinya.
“Akhirnya kamu menemukanku juga,” ucapku di sela tangis, benar-benar bahagia.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, setelah tubuh basah kuyup karena hujan, setelah kaki yang sakit, setelah telepon yang tidak tersambung, akhirnya orang yang paling kucari berdiri tepat di hadapanku. Namun suamiku tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berbalik dan berjalan. Aku mengikutinya.
Hari sudah siang ketika kami tiba di sebuah vila. Aku sempat berpikir kami akan kembali ke tempat outbound, tetapi ternyata ia justru mengajakku masuk.
“Sudah waktunya istirahat. Outbound-nya sudah berlangsung sejak tadi,” katanya.
Aku terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku. Sejak tadi aku menahannya, tetapi semakin lama rasanya semakin sulit dibendung.
“Kamu enggak nyari aku?” akhirnya pertanyaan itu keluar dengan meledak-ledak.
Ia tidak menjawab.
“Dari tadi aku hilang. Kamu enggak sadar?”
Ia tetap diam.
Aku memperhatikannya yang justru sibuk merakit sesuatu. Entah benda apa yang sedang dikerjakannya. Mungkin untuk acara berikutnya sehingga harus segera diselesaikan.
Tetapi aku tak sabar ingin medapatkan jawaban.
“Kenapa kamu enggak nyari aku?” tanyaku lagi dan ia tetap bergeming tak mempedulikan.
Aku merasa putus asa. Tangisku pecah. “Aku sendirian. Aku enggak tahu jalan. Aku kehujanan. Sepatuku hilang dan harus berjalan tanpa alas kaki sampai kakiku sakit. Aku bahkan kehabisan uang karena harus membeli sandal.”
Tenggorokanku tercekat, nyaris tak ada suara lagi, “Kenapa kamu enggak nyari aku?”
Tetap tidak ada jawaban.
Rasa kesal berubah menjadi kecewa. Kesedihanku semakin dalam. Jujur, aku merasa tidak dianggap. Seolah-olah kepergianku tidak penting. Andai aku benar-benar hilang pun sepertinya ia tak akan pernah peduli. Begitulah perasaanku saat itu. Namun apa salah jika aku aku ingin tahu kenapa dia tak mencariku?
Akhirnya aku tidak sanggup lagi menahan tangis. Tubuhku jatuh tersungkur di lantai. Aku menangis sejadi-jadinya, meminta satu jawaban yang sejak tadi tidak juga diberikan.
“Tolong jawab aku,” aku memohon.
Aku menundukkan kepala dan lagi-lagi meracau, “Kenapa kamu enggak mencariku?” dengan suara yang nyaris hilang karena bercampur dengan tangisan.
Lalu seseorang menyentuh pipiku hangat. Sontak aku terkejut.
“Bangun-bangun, Ayah pergi, ya.”
Perlahan aku membuka mata. Ternyata aku tidak berada di vila. Tak ada suara hujan yang terdengar. Tak ada jalan yang panjang bahkan hamparan sawah yang kulalui. Bahkan aku tak kehilangan seratus ribuku.
Aku masih berada di kamar. Mukena masih melekat di tubuhku dan seseorang sedang menyentuh pipiku untuk membangunkanku. Aku terdiam beberapa saat, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Cianjur, rombongan, Fuji, bukit hitam, hujan, sepatu yang hilang, sandal seratus ribu, dan suami yang tidak mencariku, semuanya hanya mimpi.
Aku langsung berhambur memeluk suamiku dengan sangat erat. “Jangan tinggalin aku…” pintaku. Rasanya ingin menangis, rasa takut dari mimpiku masih sangat besar tersisa di dada.
Aku baru saja tertidur setelah salat Subuh, meski sebelumnya tidak berniat tidur. Setelah makan sahur, mengaji dan salat, rasa kantuk datang begitu saja. Aku merebahkan tubuh di atas kasur masih dengan mukena yang kukenakan, lalu tanpa sadar terlelap. Tidur singkat itu membawaku ke sebuah perjalanan yang terasa begitu nyata.
Aku segera menceritakan semuanya kepada suami. Dari awal sampai akhir, termasuk bagaimana aku menangis karena merasa tidak dicari ketika tersesat. Kau menceritakannya sambil mengikuti langkah suamiku yang sedang bersiap pergi. Ia menggunakan kaus kaki, sepatu, memakai jaket dan mengenakan helem, aku tak berhenti bercerita.
Ia justru tertawa dan menggodaku. “Kamu mikirin apa sih sampai mimpinya begitu?”
Aku masih kesal. “Enggak lucu. Aku tadi benar-benar sedih.”
Tapi ia malah tertawa lagi dengan seringai yang lebih lepas. Lalu ia berusaha membujukku, “Nanti cerita lagi, ya. Sekarang Ayahnya kesiangan.”
Pagi tidak memberi kami banyak waktu untuk membahas mimpi itu. Suamiku memang harus segera berangkat. Ia pun pergi meninggalkanku sendiri dengan rasa yang masih campur aduk.
Lain kali, aku tak mau ketiduran lagi selepas solat subuh.
