“Tolong jangan ikut campur urusan kami lagi!”
Pesan terakhir dari nomor Edo menjadi penutup kalimat-kalimat makian yang kubaca dengan sunggingan. Menyesal rasanya pesan itu harus terbaca di tengah-tengah sibuknya pekerjaan.
Pak Dodi lelaki tua yang menunggu file laporanku dikirimkan tidak berhenti menelfon dan mengirim pesan via WA. Bosku yang satu ini memang kadang menyebalkan kalau urusan kerjaan.
“Jika sudah, lekas kirimkan saya tunggu filenya segera, Luna!”
Huh, kebiasaan. Memang senang sekali orang ini menggeretak, batinku kesal. Seketika aku langsung lupa dengan isi pesan makian yang dikirimkan nomor Edo tadi.
Pak Dodi adalah atasan ku di perusahaan cabang. Ia memang memiliki hak untuk menekan karyawan. Paham sih, pasti dia sendiri sedang mendapatkan tekanan dari atasannya juga. Ah, menjadi karyawan biasa memang melelahkan.
Soal Edo. Aku mengenalnya belasan tahun lalu sebagai lelaki yang bermasalah. Penampilannya memang menarik. Hidung mancung, wajahnya nyaris mirip penyanyi Marcell Siahaan meski perawakannya tidak begitu tinggi. Namun dengan modal tampang kayak begitu, menurutku Edo terlampau percaya diri untuk tebar pesona berkali-kali. Sampai-sampai aku hampir jatuh di pelukannya. Beruntung, kewarasanku masih bersisa. Ketika mengingat betapa playboynya dia.
Dengan tampang begitu, Edo memiliki kekasih di mana-mana. Memang tidak bisa dipungkiri, selain tampan dia pun begitu pandai mengolah kata, menata sikap, sehingga perempuan mana yang tidak tertarik kepadanya. Karena nyatanya bukan hanya tampan, tetapi Edo pun selalu berhasil membuat nyaman.
Belasan tahun mengenal Edo, akhirnya ia menikah dengan seorang perempuan. Tidak disangka perempuan yang dinikahinya justru bukanlah salah satu dari deretan wanita bucin yang rela menjadi budak lelaki itu.
Ania, adalah seorang perempuan lugu berasal dari keluarga kaya raya. Ia berprofesi sebagai seorang dokter. Ia rela menjadi istri Edo karen saran Ayahnya yang melarang anak-anaknya berpacaran. Sialnya, Ania malah jatuh cinta betulan kepada Edo yang bermental hidung belang. Ania yang sejak kecil kutu buku itu, terlalu fokus dengan belajar dan bergelut dengan perihal keilmuan. Sehingga kurang paham pergerakan seorang hidung belang seperti Edo. Yang ia tahu, ia jatuh cinta kepada lelaki yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Belasan bahkan puluhan perempuan ditipu Edo. Deretan orang yang sakit hati mungkin sudah terlalu banyak. Dari mulut ke mulut sudah menjadi rahasia umum jika Edo memang hidung belang.
Beberapa tahun silam, Edo kembali menyatakan cintanya. Ungkapan yang sangat gila ketika kami sudah sama-sama memiliki pasangan. Edo yang hampir kepala lima belum sembuh juga gilanya. Sempat kunasihati, bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan cintanya Ania yang begitu sempurna.
“Aku sebenarnya tahu jika mas Edo ada main dengan perempuan lain. Namun aku yakin, bahwa dengan doaku yang terus menerus mas Edo akhirnya akan paham kepada siapa akhirnya ia harus pulang,” ungkap Ania suatu hari.
Aku dan mbak Ania terpaut usia tujuh tahun. Dengan Edo sendiri sepertinya lebih dari sebalas. Dia memang sudah tua. Ya, cukup tua bangka. Sayangnya ia begitu awet muda di wajahnya. Mungkin karena ia sendiri sedang menolak tua dengan segala usahanya.
Ania tidak pernah terlihat mengeluh. Seolah sudah pasrah dengan keadaan. Aku salut kepada kesabarannya selama ini.
Namun menjadi hal yang sangat lucu, ketika di akhir kisah petualangan cinta Edo harus berlabuh di teman SMP-nya sendiri. Seolah sudah kehilangan cara untuk memikat lawan janis yang jauh lebih muda dan cantik seperti yang diincarnya selama ini.
“Susah sekali mendapatkan perhatianmu, Luna. Kupikir kita bisa saling berbagi walau sekadar mencuri waktu sibukmu,” ucapnya di ujung telepon.
“Ah, sudahlah Mas. Jangan suka mengada-ada. Baiknya sekarang berhenti mengkhayal yang bukan-bukan. Kasian mbak Ania dan anak-anakmu,” jawabku mengingatkan.
Lama berselang waktu. Aku terpaksa memblokir semua kontaknya. Sama sekali tidak lagi berminat komunikasi dengan mantan senior di kampusku itu. Namun tiba-tiba tanpa sengaja kami bertemu lagi di acara kampus yang menghadirkan alumni dari berbagai angkatan. sudah barang tentu, dalam acara tersebut Edo hadir. Karena ia termasuk alumni yang sangat loyal. Alumni yang dekat dengan adik angkatan walau terpaut beberapa tahun lamanya.
Dalam sebuah obrolan, “Aku sebenarnya sudah menikah lagi,” ucapnya begitu ringan.
Aku tercengang, ternyata ia memiliki nyali juga untuk melakukannya. Mungkin dia sudah mulai bosan dengan kebiasaan buruk sebelumnya.
“Hah? Akhirnya kau menikahi salah satu perempuan yang kau gombali, Mas. Perempuan mana yang berhasil membuatmu senekay itu?” tanyaku.
Ia tiba-tiba menunduk. Mimik wajahnya yang ceria mendadak berubah serius.
“Teman SMP ku dulu,”jawabnya.
Aku terbahak. Tidak bisa menahan tawa.
“Dia janda anak satu. Aku pernah mengikuti pengajian, ketika ustadz bilang bahwa menyelamatkan seorang janda itu adalah ibadah, maka hari ini aku melakukannya,” ungkapnya tanpa merasa bersalah.
“Hm, tapi kenapa harus dia? Bukankah tipe perempuan yang biasa kau dekati adalah …”
“Sepertimu. Tapi kau tak mau kepadaku. Setelah suami pertamamu meninggal karena kecelakaan, aku sangat berharap bisa menjadi pengganti. Tetapi kau hilang, menghindariku. Ya kan?”
Edo menatapku tajam. Aku menelan ludah, dengan pikiran yang terus mencerna. Mencoba memahami keanehan itu.
“Hm, aku tidak bisa berkata apapun. Satu yang aku titip. Jangan sampai Mbak Ania dan anak-anakmu menjadi korban. Apa mereka tahu?”
Edo menggeleng.
“Tapi aku menyesal,”jawabnya.
“Kenapa?”
Belum tuntas obrolan kami,
