Ada satu kejadian yang sudah lama sekali berlalu, tetapi sampai sekarang masih saya ingat.
Waktu itu saya mengikuti sebuah pengajian rutin yang diadakan oleh kepala yayasan sebuah lembaga pendidikan. Seperti biasa, kami berkumpul untuk mengikuti pengajian. Namun ada satu hal yang agak berbeda. Semua peserta kemudian diolesi minyak wangi tertentu.
Sebenarnya saya tidak suka dengan aroma minyak wangi tersebut. Bahkan bukan baru sekali itu saya mengatakannya. Saya sudah beberapa kali menyampaikan bahwa saya tidak menyukai aromanya.Tetapi saat itu minyak wangi tetap dioleskan kepada saya.
Begitu aroma itu menempel, tubuh saya langsung memberikan reaksi. Saya merasa ingin muntah dan perut saya terasa sakit. Bukan karena saya melihat sesuatu yang aneh. Bukan pula karena saya merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh.
Saya hanya tidak tahan dengan aromanya.Namun kemudian muncul sebuah pernyataan yang membuat semuanya menjadi berbeda. Katanya, jika di dalam tubuh peserta pengajian terdapat jin, jin tersebut tidak akan tahan dengan minyak wangi itu.Saya yang sejak awal memang tidak menyukai aromanya akhirnya menjadi bahan pembicaraan.Apalagi setelah pengajian itu saya jatuh sakit. Bukan sehari atau dua hari. Saya merasa tidak sehat selama kurang lebih dua minggu.
Mulailah terdengar kasak-kusuk. “Jangan-jangan kemasukan jin.” Saya mendengar cerita semacam itu dengan perasaan campur aduk. Benarkah? Saya mencoba memikirkan kembali semuanya.
Sejak kecil saya memang bukan orang yang terbiasa menggunakan minyak wangi. Saya hampir tidak pernah memakai parfum. Tetapi selama itu pula tidak pernah ada masalah dengan tubuh saya. Saya juga tidak pernah merasa tubuh saya mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Karena penasaran, saya bahkan pernah bertanya kepada beberapa teman, “Memangnya badan saya bau?” Mereka menjawab tidak. Tidak ada aroma tubuh yang mengganggu. Lalu mengapa ketika mencium minyak wangi tertentu saya justru merasa mual dan sakit perut? Apakah benar itu tanda ada jin?
Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kita perlu berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu.Dalam Islam, kita memang tidak boleh mengingkari keberadaan jin. Al-Qur’an sendiri menjelaskan keberadaan mereka. Allah berfirman:
قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌۭ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًۭا
“Katakanlah (Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan.’” (QS. Al-Jinn: 1)
Jadi, mempercayai keberadaan jin adalah bagian dari keyakinan kita. Tetapi mempercayai keberadaan jin tidak berarti kita boleh menghubungkan setiap kejadian yang tidak biasa dengan jin.Di sinilah menurut saya kita harus belajar membedakan antara iman dan dugaan. Saya percaya jin itu ada. Tetapi saya juga tidak ingin setiap kali tubuh seseorang bereaksi terhadap sesuatu, kita buru-buru mengatakan, “Itu jin.”
Sebab, kalau setiap reaksi tubuh dianggap sebagai tanda gangguan jin, kita bisa saja mengabaikan penjelasan yang jauh lebih sederhana dan masuk akal.Tubuh manusia memang dapat memberikan reaksi terhadap aroma tertentu. Bagi sebagian orang, bau parfum yang kuat dapat memicu sakit kepala, mual, pusing, bahkan keluhan fisik lainnya. Ada pula orang yang memiliki sensitivitas terhadap bahan kimia atau wewangian tertentu.
Jadi, ketika seseorang mencium parfum lalu merasa mual, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa ada jin di dalam tubuhnya. Apalagi jika orang tersebut memang sudah sejak awal mengatakan bahwa ia tidak tahan dengan aroma tersebut. Yang menarik, saya justru belajar satu hal dari pengalaman itu: kadang-kadang kita terlalu cepat memberikan penjelasan spiritual terhadap sesuatu yang sebenarnya perlu dilihat dari banyak sisi.
Kalau seseorang sakit setelah mencium parfum, tentu boleh saja kita mendoakannya. Kita bisa membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa memohon perlindungan kepada Allah. Itu bagian dari ikhtiar spiritual.Tetapi jangan sampai doa dan ruqyah kemudian membuat kita berhenti mencari penyebab medis.Demikian pula sebaliknya.Jangan karena ada penjelasan medis, lalu kita merasa tidak perlu lagi berdoa kepada Allah.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.Yang perlu dipertentangkan justru adalah keyakinan yang memiliki dasar dengan dugaan yang hanya dibangun dari cerita. Sampai sekarang, saya tidak menemukan dalil yang sahih yang mengatakan bahwa orang yang mual, muntah, atau sakit setelah diolesi minyak wangi tertentu berarti sedang kemasukan jin.
Bahkan ada pembahasan ulama yang menyebut bahwa penggunaan wewangian tertentu untuk mengusir jin tidak memiliki dasar yang jelas dalam syariat. Perlindungan dari gangguan setan justru diajarkan melalui dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan memohon perlindungan kepada Allah.
Karena itu, saya memilih untuk tidak percaya bahwa reaksi tubuh saya terhadap minyak wangi waktu itu adalah bukti bahwa saya kemasukan jin.Bisa saja saya memang sangat sensitif terhadap aroma tersebut.Bisa juga tubuh saya mengalami reaksi tertentu yang kebetulan terjadi setelah acara itu.
Dan sakit selama dua minggu setelahnya juga tidak otomatis membuktikan penyebab tertentu. Sakit memiliki banyak kemungkinan penyebab dan tidak seharusnya didiagnosis hanya berdasarkan urutan kejadian.
Saya tidak ingin menghakimi orang yang pada waktu itu memiliki keyakinan berbeda. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang sesuatu yang tidak terlihat. Jangan sampai seseorang yang sebenarnya sedang mengalami masalah kesehatan justru diberi label “kemasukan jin”.Jangan sampai seseorang menjadi takut terhadap dirinya sendiri hanya karena tubuhnya bereaksi terhadap sesuatu. Dan jangan sampai keyakinan agama kita justru dipenuhi oleh kesimpulan-kesimpulan yang tidak pernah diajarkan oleh agama itu sendiri.
Percaya kepada jin adalah bagian dari iman.Tetapi mengatakan bahwa “tidak tahan parfum berarti ada jin” adalah perkara lain.Yang pertama memiliki dasar.Yang kedua membutuhkan dalil.Dan dalam perkara agama, rasanya kita memang perlu belajar membedakan keduanya.
Sebab tidak semua yang terasa aneh adalah gangguan jin. Kadang tubuh hanya sedang berkata,“Aku tidak cocok dengan ini.”Dan mungkin, kali ini, tubuh memang hanya sedang meminta kita untuk mendengarkannya.
