Ilustrasii: Tattyan/Unsplash
Ada suatu masa, jauh sebelum riuh rendah dunia menyusup ke telinga, di mana kita semua adalah penguasaan dari kerahasiaan yang paling jujur. Saya sering menyebutnya sebagai fase “Panji”—sebuah metafora bagi jiwa yang berkibar putih, bersih, tanpa noda setitik pun. Ia adalah wajah yang kita bawa saat pertama kali menyapa bumi: tenang, murni, dan jernih, seperti air pegunungan yang belum sempat memenuhi syarat mineral tanah atau polusi industri.
Dahulu, ketika saya masih kecil, saya ingat duduk di teras rumah kayu kakek saat subuh baru saja pecah. Di pucuk daun pisang, terdapat butiran embun yang bergantung ragu. Ia berkilau tertimpa cahaya fajar yang masih malu-malu. Itulah kesucian awal. Embun itu tidak meminta perhatian, ia tidak berambisi untuk menjadi samudera, ia hanya ada dalam kepolosannya yang mutlak. Namun, begitu matahari naik mencapai galah, ia menguap atau jatuh ke tangan manusia yang penasaran.
Begitulah kita. Kita lahir sebagai fitrah .
Fitrah yang Terlupakan
Dalam tradisi Islam, kesucian ini bukanlah sesuatu yang harus dicapai dengan susah payah, melainkan sesuatu yang sudah kita miliki sejak awal. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” (QS. Ar-Rum: 30). Ayat ini bukan sekadar perintah dogmatis, melainkan sebuah pengingat puitis tentang jalan pulang.
Bayangkan jiwa kita adalah sebuah cermin besar. Saat kita lahir, cermin itu begitu bening hingga mampu memantulkan cahaya Tuhan dengan sempurna. Namun, seiring berjalannya waktu, pengalaman debu-debu mulai bermunculan. Kecewa, amarah, ambisi yang berlebihan, hingga luka-luka masa lalu perlahan membentuk lapisan jelaga yang tebal. Kita mulai lupa bahwa di balik lapisan hitam itu, permukaannya masih tetap jernih.
Saya sering berpikir, apakah mungkin bagi kita—manusia yang sudah “berkarat” oleh urusan cicilan, persaingan kantor, dan hiruk-pikuk media sosial—untuk kembali ke kesucian awal itu?
Menemukan “Panji” di Balik Kerumitan
Menjadi suci kembali bukan berarti kita harus menjadi bayi lagi. Itu tidak mungkin. Namun, kita bisa mengadopsi kualitas “Panji” dalam kesadaran kita. Panji adalah simbol keteguhan yang lembut. Ia bergerak mengikuti arah angin, namun tiangnya tetap kokoh tertancap di bumi.
Dalam kesekharian yang rumit, menemukan kesucian awal bisa terwujud: Kejujuran pada Diri Sendiri: Mengakui kelelahan tanpa perlu merasa bersalah.
Melihat Tanpa Menghakimi: Menatap orang lain sebagai sesama pengembara yang juga sedang membawa beban, bukan sebagai saingan.
Keheningan: Meluangkan waktu lima menit tanpa gawai, hanya untuk mendengarkan detak jantung sendiri.
Seringkali, kita mencari kedamaian di tempat-tempat jauh—naik ke puncak gunung atau terbang ke pulau terpencil—padahal kesucian itu tersimpan di ruang paling pribadi di dada kita. Ia adalah “inti” yang tidak pernah benar-benar rusak, hanya tertutup.
Pulang ke Rumah Diri
Seorang bijak pernah berkata bahwa hidup adalah perjalanan panjang untuk kembali ke rumah. Dan rumah itu bukanlah bangunan fisik, melainkan kondisi jiwa yang kembali pada fitrahnya. Saat kita mampu memaafkan kesalahan masa lalu, saat kita berhenti mengejar validasi duniawi yang semu, di sanalah kita sedang membasuh jelaga di cermin jiwa kita.
Kita semua merindukan kepolosan bayi itu—bukan ketidaktahuannya, melainkan kemurnian niatnya. Bayi menangis karena lapar, tertawa karena senang. Tidak ada manipulasi. Tidak ada topeng.
Kesucian awal mengingatkan kita bahwa di balik segala kerumitan hidup, ada lapisan kedamaian yang tak tersentuh. Seperti Panji yang tetap putih meski berada di tengah medan perang, jiwa kita punya kapasitas untuk tetap murni di tengah dunia carut-marutnya.
Maka, setiap kali dunia terasa terlalu bising dan menyesakkan, pejamkanlah mata sejenak. Ingatlah embun di ujung daun pisang itu. Ingatlah bahwa Tuhan menciptakanmu dalam bentuk sebaik-baiknya dan suci sebagai titik mulanya. Kesucian itu tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu untuk diingat kembali.
