Matahari Ramadan sore itu tampak seperti kuning telur yang pecah di ufuk barat, menyiram aspal jalanan dengan warna oranye yang gerah. Di trotoar Jalan Pemuda, klakson kendaraan saling bersahutan, menciptakan simfoni ketidaksabaran yang khas menjelang berbuka. Di tengah keriuhan itu, sebuah gerobak kayu dengan tulisan “Gorengan Barokah” menjadi pusat gravitasi bagi puluhan pasang mata yang lapar.
Bayu, seorang pemuda dengan kemeja kantor yang sudah kusut dan dasi yang dilonggarkan, berdiri di barisan paling depan. Peluhnya menetes, menyatu dengan aroma minyak panas dan adonan tepung yang digoreng garing. Targetnya hanya satu: Bakwan Sayur. Bukan sembarang bakwan, tapi bakwan buatan Cak Imron yang terkenal memiliki pinggiran setajam silet namun lembut di tengahnya.
“Sabar, Mas. Ini kloter terakhir sebelum saya tutup buat buka puasa sendiri,” teriak Cak Imron sambil mengaduk saringan raksasa di dalam wajan yang bergejolak.
Bayu melirik jam tangannya. Kurang tujuh menit lagi. Di dalam kantong plastiknya sudah ada tiga tahu isi dan dua pisang goreng. Namun, rasanya ada yang cacat jika ritual berbuka tanpa kehadiran sang primadona, bakwan sayur. Ia sudah membayangkan sensasi gigitan pertama yang beradu dengan cabai rawit hijau yang pedasnya meledak di lidah.
Tepat saat Cak Imron mengangkat saringan, hanya ada satu—ya, hanya satu—bakwan yang tersisa di sudut wajan. Bentuknya sempurna. Bulat tidak beraturan dengan irisan wortel dan kol yang mencuat artistik.
Tangan Bayu bergerak cepat secepat kilat, namun di saat yang bersamaan, sebuah tangan lain yang lebih kekar dan berbulu juga menyambar penjepit makanan yang sama.
“Eh, maaf Mas, saya duluan,” cetus Bayu, jarinya sudah mencengkeram gagang penjepit.
Seorang pria bertubuh besar dengan jaket ojek online yang sudah pudar warnanya menatap Bayu dengan mata yang juga menyala. “Waduh, nggak bisa gitu dong, Mas. Saya sudah nunggu di sini dari tadi pas Cak Imron masih nuang adonan.”
Bayu tidak mau kalah. “Saya juga dari tadi, Pak. Malah saya sudah pegang plastiknya duluan.”
Cak Imron menghentikan kegiatannya, memandang kedua pria itu dengan sendok kayu raksasa yang masih meneteskan minyak. Pelanggan lain di belakang mereka mulai bersorak, bukan karena kesal, tapi karena merasa mendapat hiburan gratis di waktu kritis.
“Begini saja, Mas Kantoran dan Mas Ojol,” sela Cak Imron dengan dialek khasnya. “Itu bakwan terakhir. Di wajan sudah habis, adonan juga ludes. Kalian suit saja atau gimana? Jangan berantem, ini bulan puasa, pahalanya nanti defisit.”
Bayu menatap pria ojol itu. Namanya, jika dilihat dari atribut di dadanya, adalah Agus. Wajah Agus tampak sangat lelah. Debu jalanan menempel di pori-pori wajahnya, dan ada gurat kecemasan yang lebih besar daripada sekadar urusan perut.
“Mas, tolonglah. Istri saya di rumah lagi ngidam bakwan Cak Imron. Dari kemarin saya nggak sempat mampir karena ngejar setoran. Kalau hari ini saya pulang nggak bawa bakwan ini, bisa panjang urusannya,” Agus memulai diplomasinya dengan nada yang agak memelas namun tetap tegas.
Bayu mendengus pelan, mencoba mempertahankan egonya. “Pak, saya ini kerja lembur tiga hari berturut-turut. Buka puasa cuma pakai mi instan di kantor. Hari ini saya pengen banget ngerasain bakwan ini sebagai ‘self-reward’. Bapak kan bisa beli di tempat lain?”
“Di tempat lain rasanya beda, Mas! Bakwan Cak Imron ini ada ‘jiwa’-nya,” balas Agus tak mau kalah.
Keduanya saling tatap. Penjepit makanan itu masih tertahan di udara, menggantung di atas bakwan yang mulai meneteskan minyak terakhirnya. Suasana mendadak hening, seolah-olah seluruh hiruk-pikuk jalanan berhenti hanya untuk menyaksikan siapa yang akan memenangkan diplomasi gorengan ini.
“Dua menit lagi adzan, Mas,” Agus mengingatkan, suaranya kini melunak. “Masih mau lanjut debat atau mau buka puasa?”
Bayu terdiam. Ia melihat tangan Agus yang kasar dan pecah-pecah. Ia teringat ayahnya di kampung yang juga bekerja kasar. Rasa lapar yang tadinya membakar egonya tiba-tiba mendingin, digantikan oleh rasa malu yang menyelinap halus. Ia baru saja bertengkar demi sepotong gorengan seharga dua ribu rupiah dengan orang yang mungkin seharian ini sudah berjuang lebih keras darinya di bawah terik matahari.
“Pak Agus,” kata Bayu akhirnya, melepaskan pegangannya pada penjepit. “Ambil saja. Berikan buat istri Bapak. Salam buat calon bayinya.”
Agus tertegun. Ia tidak menyangka pemuda klimis di depannya akan mengalah semudah itu. “Lho, beneran Mas? Nanti Mas buka pakai apa?”
Bayu tersenyum, kali ini tulus. “Saya masih punya tahu isi. Lagi pula, pahala mengalah buat orang yang ngidam kayaknya lebih enak daripada rasa bakwan ini.”
Agus tertawa kecil, sebuah tawa yang meruntuhkan ketegangan di antara mereka. Ia mengambil bakwan itu, tapi bukannya memasukkannya ke plastiknya sendiri, ia malah meminta Cak Imron membelahnya menjadi dua bagian yang sama besar menggunakan sodet.
“Cak, potong jadi dua,” perintah Agus.
Cak Imron dengan cekatan membagi bakwan panas itu. Agus mengambil separuh bagian dan meletakkannya di plastik milik Bayu.
“Lho, Pak? Kan tadi buat istri Bapak?” Bayu bingung.
“Istri saya ngidam, tapi dia juga nggak akan senang kalau tahu suaminya serakah,” ujar Agus sambil mengantongi separuh bakwan sisanya. “Ini namanya diplomasi bagi rata. Mas dapat rasanya, saya dapat syaratnya buat istri. Adil, kan?”
Tepat saat itu, suara adzan Maghrib berkumandang dari pengeras suara masjid di seberang jalan. Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Suasana yang tadi tegang berubah menjadi hangat. Cak Imron membagikan air mineral gelas secara gratis kepada semua orang yang mengantre. Bayu dan Agus berdiri bersisian di pinggir trotoar, tidak lagi sebagai dua orang asing yang berebut makanan, melainkan sebagai dua manusia yang sama-sama merayakan kemenangan kecil.
Bayu menggigit separuh bakwan itu. Rasanya memang luar biasa. Renyah, gurih, dan hangat. Tapi entah kenapa, rasa yang paling dominan di lidahnya saat itu bukanlah rasa micin atau sayuran, melainkan rasa persaudaraan yang aneh.
“Enak ya, Mas?” tanya Agus sambil mengunyah separuh bagian miliknya.
“Banget, Pak. Kayaknya ini bakwan terenak yang pernah saya makan,” jawab Bayu jujur.
Agus menepuk bahu Bayu. “Nama saya Agus. Kalau Mas lewat sini lagi dan butuh tumpangan ojek atau mau cari gorengan enak lainnya, panggil saja. Saya sering mangkal di depan minimarket sana.”
“Saya Bayu, Pak. Kerja di gedung ujung jalan itu.”
Mereka mengobrol selama hampir lima belas menit di pinggir jalan itu. Agus bercerita tentang perjuangannya mengejar target bonus demi biaya persalinan istrinya bulan depan, sementara Bayu bercerita tentang tekanan pekerjaannya yang seringkali membuatnya lupa cara bersyukur. Dua dunia yang berbeda itu dipertemukan oleh sepotong bakwan yang tersisa.
Seringkali kita berpikir bahwa ibadah di bulan Ramadan hanya terjadi di atas sajadah atau di dalam masjid yang sejuk. Kita lupa bahwa ujian kesabaran dan keikhlasan yang sesungguhnya seringkali hadir dalam wujud yang sangat sederhana: antrean takjil yang panjang, jalanan yang macet, atau keinginan untuk memenangkan ego di depan umum.
Sebelum berpisah, Agus sempat menahan lengan Bayu. “Mas Bayu, makasih ya. Bukan cuma buat bakwannya, tapi buat diingatkan kalau hidup itu bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi soal siapa yang paling tahu cara berbagi jalan.”
Bayu tertegun mendengar kalimat sederhana dari seorang pengemudi ojek itu. Ia melihat Agus menghidupkan motornya, memasukkan kantong plastik berisi separuh bakwan itu dengan hati-hati ke dalam bagasi, lalu melaju membelah sisa-sisa kemacetan sore.
Bayu berdiri sejenak, menatap kantong plastiknya yang kini kosong dari bakwan namun penuh dengan pelajaran. Ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ternyata, kenyang yang paling nikmat bukanlah ketika perut terisi penuh, melainkan ketika hati merasa cukup karena telah memberi ruang bagi orang lain.
Malam itu, di bawah langit Ramadan yang bertabur bintang, Bayu menyadari bahwa diplomasi terbaik di dunia ini tidak dilakukan di meja-meja bundar gedung kedutaan, melainkan di depan gerobak gorengan, di mana setiap orang belajar untuk meletakkan “aku” demi “kita”.
“Terkadang, Tuhan menyisakan satu bagian terakhir bukan untuk diperebutkan, melainkan untuk menguji siapa di antara kita yang lebih mencintai saudaranya daripada egonya sendiri. Karena kenikmatan sejati tidak terletak pada apa yang kita telan, tapi pada apa yang kita relakan.”
