Setiap tanggal 21 April, kita mendadak ingat sama satu nama: Kartini. Perempuan Jawa, visioner, penulis surat-surat penuh keresahan, dan pencetus kutipan legendaris: “Habis gelap, terbitlah terang.”
Tapi entah kenapa, Wak, kayaknya kita kebalik. Di negeri ini, habis terang malah terbit gelap lagi. Yang terang benderang malah disumputkeun (disembunyikan), yang mestinya dijelasin malah dikelabui. Bahkan uang negara pun… disulap jadi nggak kelihatan.
Mau contoh? Banyak Wak… Tapi takut dibaca auditor. Intinya, kegelapan di zaman Kartini itu real: akses pendidikan dibatasi, perempuan dilarang baca buku, nasib ditentukan mertua. Tapi zaman sekarang, gelapnya lebih soft, lebih halus, dan lebih absurd. Misal:
- Rakyat: Nuntut keadilan, malah dibilang provokator.
- Kritik: Dikit-dikit dilaporkan, dibilang pencemaran nama baik.
- Pacar: Udah jalan bertahun-tahun, status masih “kekasih gelap”.
Ini negara apa FTV Indosiar?
Kartini pasti gemeter di alam sana.
Tapi jangan salah, makna perjuangan Kartini masih relevan banget. Dia bukan cuma simbol perempuan berkebaya dan nyanggul rapi di foto hitam-putih itu, ya. Kartini adalah simbol perlawanan. Simbol “Aku bisa mikir, Wak!” di tengah zaman yang membatasi.
Hari ini, banyak Kartini-Kartini masa kini yang lagi jungkir balik di berbagai lini:
- Ibu rumah tangga yang multitasking ngurus rumah, kerja online, sambil nyuapin anak pakai kaki.
- Aktivis perempuan yang ngomong data, tapi dibalas nyinyir netizen yang bilang, “Makanya jangan baper.”
- Perempuan muda yang masih harus bilang, “Saya nggak harus bisa masak biar bisa dihargai.”
Nah…
Jadi, selamat Hari Kartini, wahai perempuan hebat Indonesia.
Jangan lelah jadi cahaya. Karena jujur aja, kalau nunggu terang dari elite-elite negeri ini, kita bisa ketiduran di ruang gelap sambil peluk bantal tagihan listrik.
Kartini udah kasih kode keras:
“Habis gelap, terbitlah terang.”
Bukan “Habis gelap, upload selfie sambil gelap-gelapan.”
Kalau kamu perempuan dan sedang lelah berjuang, istirahatlah. Tapi jangan padam. Karena kalau kamu menyerah, dunia ini bisa benar-benar gelap. Dan gelap yang paling berbahaya adalah saat kita berhenti peduli. Wallahu’alam.
Wassalam,
Cag..!
