Ilustrasi gambar (Rio Syhputra/Unsplash)
Keputusan saya untuk menikah dalam usia yang belum genap 25 tahun, perlahan membuat saya sadar. Bahwa bukan menikahnya yang terlalu cepat, melainkan terlalu banyak hal yang saya tunda dan saya lewatkan. Banyak yang saya tidak pelajari, sebelum saya mengambil keputusan untuk menikah di usia muda. Untuk para perempuan yang sekarang tengah mempersiapkan diri menjadi pasangan, ibu dan istri. Banyak hal yang bisa dipelajari untuk mendapatkan rasa siap. Inilah 5 hal yang harus dipelajari perempuan sebelum benar-benar memutuskan berkeluarga.
1. Memahami Pasangan
Siapa di sini yang telah mengenal pasangan selama bertahun-tahun? Meskipun telah mengenal bertahun-tahun, namun kehidupan pernikahan tidak semudah yang dibayangkan. Kehidupan berpasangan sebelum dan sesudah menikah sangat jauh berbeda.
Dari mulai pola hidup, pemikiran, dan pengambilan keputusan cepat di dalam menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari, akan sangat dirasakan perbedaan yang sangat signifikan. Menjadi teman dekat, lalu menjadi suami merupakan transisi yang ekstra berubah. Karena menjadi suami dan istri akan memiliki kewajiban dan hak masing-masing.
Bukan hanya mengenal saja, tapi diharapkan perempuan mampu memahami pasangan. Bisa dirasakan melalui kebersamaan sehari-hari atau melalui informasi dari orang-orang terdekatnya. Tentang bagaimana ia mengendalikan emosi, bagaimana cara dia menghargai orang tua dan saudaranya serta masih banyak lagi sifat dan sikapnya yang perlu dipelajari secara rinci.
2. Berlatih Menjadi Orang Tua
Berlatih menjadi orang tua ini adalah sesuatu yang sangat sangat saya sesalkan. Karena saya banyak melewatkan hal-hal yang harusnya dipelajari sebelum memiliki bayi. Jika semua ibu akan selalu belajar bersama bayi, menurut saya justru seharusnya perempuan mempelajarinya sebelum memiliki bayi.
Seperti jadwal dan cara mandi bayi baru lahir, bagaimana kalau ia sakit, bagaimana stimulasi untuk tumbuh kembangnya. Padahal banyak sekali metode parenting yang beredar dari sosial media, bahkan para pakar membagikannya di laman-laman resmi. Sangat wajar jika para ibu baru panik dan punya perasaan takut saat terjadi sesuatu pada bayinya, namun setidaknya jika dari awal ia belajar, pastinya sang ibu akan mampu membedakan mana keadaan yang wajar dialami bayi atau tidak.
3. Mempelajari dan Mengelola Keuangan
Mengelola keuangan keluarga adalah sesuatu yang vital. Salah mengendalikan diri sedikit saja akan mempengaruhi daya beli, pemikiran, dan pemasukan yang ada di keluarga. Saya menyesali hal ini tidak dipelajari sebelumnya, karena saya pikir mempelajari pengelolaan keuangan akan berjalan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas keluarga itu sendiri.
Tetapi ketika perempuan tidak mampu memanage uang, maka akan sangat berpengaruh pada diri dan keluarga. Ibu yang biasanya menjadi pengelola keuangan keluarga harus memahami pos-pos kebutuhan prioritas, serta mampu membangun investasi untuk kebutuhan jangka panjang keluarga. Meski terdengar sepele, namun pengendalian dan pengelolaan adalah hal yang harus dipahami setiap perempuan.
4. Memahami Kehidupan Setelah Berkeluarga
Hal yang saya lewatkan selanjutnya adalah bertanya kepada orang tua mengenai apa yang harus kita sesuaikan dengan masyarakat setelah menikah. Karena hari pertama setelah menikah dan beberapa minggu setelahnya, seketika saja kehidupan kami berbeda. Kami bukan lagi pemuda, tapi kita adalah orang yang dihitung dan ditunggu dalam kegiatan gotong royong, dan segala kegiatan di lingkungan.
Keterlibatan di masyarakat bukan lagi bersifat suka rela, tapi setiap kita berkewajiban berkecimpung di lingkungan, setidaknya melalui kewajiban berbentuk iuran lingkungan. Akan sangat berbeda lagi ketika membantu tetangga dalam berkeperluan seperti hajatan, membantu prosesi pemakaman, atau banyak hal lain yang mangharuskan kita berinteraksi. Setelah menikah kita harus melibatkan diri, mengikuti norma yang ada, dan status kita menjadi sama dengan orang tua kita sebagai keluarga.
5. Menghadapi Orang Lain
Setelah berkeluarga, menghadapi orang lain adalah salah satu hal yang sangat perlu dipelajari. Tetapi hal itu akan berjalan beriring dengan tingkat kedewasaan seseorang. Menghadapi orang lain saat menjadi gadis atu bujang, akan berbeda setelah berkeluarga.
Apa yang dilakukan dan ucapkan, semuanya membawa nama baik keluarga. Perangai harus benar-benar dijaga, sebab jika salah nantinya ditakutkan memberikan dampak buruk bagi keluarga. Cara berinteraksi dengan orang lain benar-benar harus dijaga dan kita yang harus mengontrol diri sendiri.
Hal itu harus dipikirkan matang, karena setelah dewasa dan berkeluarga kita jadi tahu ternyata berbuat sesuatu yang tidak baik di masyarakat akan berdampak pada anggota keluarga terdekat. Kita dapat mengambil pelajaran dari infotainment yang tengah gaduh di Indonesia. Konflik figur publik dan skandalnya dengan beberapa selebriti.
Dari isu yang diberitakan, seketika berpengaruh terhadap anak dan istrinya. Mereka terkena dampak yang signifikan dan berpengaruh besar bagi mental mereka tentunya. Hal itu merupakan contoh, bahwa perilaku seseorang setelah menikah akan berdampak pada kehidupan sosial terdekat setelahnya.
Setelah usia pernikahan empat tahun ini, saya merasa masih sangat banyak kekurangan dari diri pribadi. Tulisan ini berasal dari perempuan untuk perempuan. Semoga kalian yang sedang mempersiapkan diri dan mantap memilih jalan untuk berkeluarga membaca ini dengan saksama dan ulasan ini sedikit banyak membantu pembaca.
Penutup
Sebagai seorang perempuan yang telah memiliki keluarga dan pernah mengambil keputusan untuk menikah dan memiliki anak di usia muda, rasanya memiliki rasa siap sebelum menikah adalah sesuatu yang mestinya menjadi perhatian perempuan. Pesan ini ditulis oleh perempuan untuk perempuan. Mengingat betapa jauhnya perbedaan ritme kehidupan yang akan kita tempuh jika kita mengawali kehidupan berumah tangga.
Semoga bermanfaat.
