“Neng kesini sebentar!” teriaknya dari seberang jalan. Perempuan paruh baya itu melambaikan tangannya memintaku untuk lekas menyebrang.
Lalu lintas sedang ramai. Meskipun ini jalan desa, tetapi pagi hari banyak kendaraan yang lalu lalang dengan berbagai aktivitas. Aku menyebrang setelah cukup lama menunggu jalanan lengang.
“Mau kemana?” tanya perempuan paruh baya itu. Tangannya membetulkan rambut yang sudah mulai memutih. Dasternya tampak sedikit kusut karena terlalu lama dipakai duduk di belakang meja kasir warung sembakonya.
“Mau olahraga,” jawabku jujur.
“Kemarin Neng salah bayar. Nih ibu kasih tahu ya. Harga minyak itu tiga puluh dua ribu, jadi Neng uangnya kurang ke warung ibu,” katanya dengan bersemangat. Aku tertegun, masih berusaha mengingat kejadian hari kemarin.
Kemarin tidak belanja minyak. Tidak pula menyuruh seseorang membeli minyak ke warung milik ibu ini.
Belum juga saya menjawab, ibu pemilik warung sembako sudah kembali mengingatkan harga minyak.
“Neng kurang ya. Kemarin anak saya salah ngasih harga. Harusnya segini,” ucapnya lagi sambil mengacungkan jari-jari tangannya ke arahku.
“Bu, saya tidak merasa belanja ke warung ibu hari kemarin. Mungkin salah orang,” ucap saya sedikit kesal.
“Lah, mana mungkin salah orang. Anak saya bilang orang yang beli pakai kerudung dan pakai kacamata. Lagian pulangnya ke arah rumahmu.” Ucap pemilik warung itu. Nada bicaranya sedikit ketus seolah benar aku memang orangnya.
Tidak ingin berlama-lama aku pamit melanjutkan aktivitas.
**
Keesokan harinya, perempuan paruh baya itu kembali memanggilku. Kini wajahnya jauh lebih ramah. Ia berkata, “ternyata orang berkacamata yang dimaksud bukan kamu, Neng. Ternyata ibu itu (sambil menyebutkan nama seorang tetangga yang juga berkacamata).
Aku tersenyum sedikit dipaksakan.
Kan, memang bukan aku pelakunya.
