Setiap orang harus mampu bertahan dalam hidup. Sebab, keadaan tidak selalu berpihak kepada kita. Ada masa ketika rezeki terasa lapang, tetapi ada pula saat seseorang harus terjun bebas hingga berada di titik paling sulit, seolah kehilangan hampir segalanya.
Bagi saya, tidak ada ujian yang lebih berat selain ketika kondisi ekonomi keluarga sedang tidak baik-baik saja. Kita sering mendengar cerita anak yang terpaksa berhenti sekolah, keluarga yang terlilit utang, hingga orang tua yang harus meminjam uang ke sana kemari demi memenuhi kebutuhan hidup.
Semua itu menjadi pelajaran berharga bagi saya sejak masih muda. Saya belajar bahwa hidup harus siap menghadapi segala kemungkinan. Saya pun terus berusaha memutar otak agar mampu mengelola keuangan keluarga dengan bijak, meskipun penghasilan tidak bertambah secara signifikan sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.
Saat ini hampir semua sektor mengalami kenaikan harga. Biaya pendidikan anak semakin besar, kebutuhan rumah tangga terus bertambah, sementara pendapatan banyak keluarga justru tetap. Kondisi inilah yang membuat banyak orang merasa semakin terhimpit.
Namun, mengeluh tidak akan mengubah keadaan. Sebagai keluarga yang sejak awal terbiasa hidup sederhana, kami memilih menyusun strategi agar uang yang kami miliki tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, sampai hari ini cara-cara sederhana tersebut cukup membantu kami menjaga kondisi ekonomi keluarga tetap stabil.
-
Menentukan Prioritas dengan Bijak
Hal pertama yang kami lakukan adalah belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dulu, dengan jumlah uang yang sama, rasanya masih leluasa membeli berbagai hal yang disukai. Sekarang, kami lebih berhati-hati. Sebelum membeli sesuatu, kami selalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar dibutuhkan?”
Kami mulai menyadari bahwa hidup bukan tentang memenuhi semua keinginan, melainkan menjalani kehidupan sesuai kondisi yang sedang dihadapi. Ketika kebutuhan pokok terpenuhi, itu sudah menjadi rasa syukur yang besar.
-
Membuang Gengsi
Di saat media sosial dipenuhi foto liburan dan kegiatan healing ke berbagai tempat, kami memilih cara yang berbeda. Healing bagi kami tidak harus mahal.
Berkumpul di rumah bersama keluarga justru menjadi kebahagiaan tersendiri. Kami bercocok tanam, memasak bersama, bermain dengan anak-anak, menikmati hasil kebun, atau sekadar mengobrol tanpa terburu-buru.
Kami tidak merasa iri melihat orang lain berlibur. Sebab setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat hati tidak tenang. Kebahagiaan ternyata tidak selalu membutuhkan biaya besar.
-
Hidup Sesuai Kemampuan
Menurut saya, salah satu penyebab kondisi ekonomi keluarg semakin berat adalah ketika gaya hidup lebih tinggi daripada kemampuan finansial.
Keinginan untuk terlihat mapan sering kali membuat seseorang memaksakan diri membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu dimiliki. Sudah sangat lama, kami menerapkan prinsip sederhana, kalau mampu, beli, kalau belum mampu, tidak perlu dipaksakan.
Beberapa tahun terakhir kami juga mulai menerapkan gaya hidup slow living. Kami memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai tanaman yang sering digunakan sehari-hari.
Sayuran, cabai, rempah-rempah, tanaman obat keluarga, hingga berbagai bumbu dapur kini banyak tersedia di kebun sendiri. Selain lebih segar, cara ini juga cukup membantu mengurangi pengeluaran bulanan.
-
Menghindari Utang Sebisa Mungkin
Bagi kami, menghindari utang adalah prinsip yang selalu dijaga. Utang memang bisa menjadi solusi sesaat, tetapi jika tidak dikelola dengan baik justru dapat menjadi beban yang berkepanjangan.
Kami sadar betul bahwa penghasilan yang tidak bertambah tidak akan mampu menutup cicilan yang terus berjalan. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, kami lebih memilih bersabar, berikhtiar semampunya, dan memohon pertolongan kepada Allah daripada terburu-buru berutang.
Tentu, dalam kondisi yang benar-benar darurat, seperti menyangkut keselamatan jiwa atau kebutuhan yang sangat mendesak, utang mungkin menjadi pilihan terakhir. Namun, jika kebutuhan tersebut masih bisa ditunda, kami lebih memilih menahan diri.
Bagi kami, hidup tanpa utang adalah salah satu bentuk kekayaan yang sesungguhnya.
-
Mengajarkan Anak Memahami Kondisi Keluarga dan Gemar Bersedekah
Menjaga kondisi ekonomi keluarga bukan hanya tugas orang tua. Anak-anak juga perlu diajak memahami kondisi keluarga sejak dini.
Ketika anak mengerti bahwa orang tuanya sedang berjuang, mereka akan lebih mudah belajar hidup sederhana dan tidak menuntut sesuatu di luar kemampuan keluarga.
Selain itu, kami juga membiasakan anak-anak untuk bersedekah. Bukan karena kami merasa berlebih, tetapi karena kami percaya bahwa sedekah adalah salah satu jalan datangnya keberkahan. Karena itu membiasakan sedekah meski hanya seribu rupiah.
Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah di jalan-Nya. Sedekah tidak pernah mengurangi harta. Justru sering kali rezeki datang dari arah yang sama sekali tidak disangka-sangka.
Bertahan Bersama dalam Kondisi Ekonomi Keluarga
Alhamdulillah, dengan menerapkan prinsip-prinsip sederhana tersebut, selama menjalani kehidupan rumah tangga kami masih mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan keadaan.
Bukan berarti hidup selalu mudah. Tetap ada masa-masa sulit. Tetap ada rasa khawatir. Namun, kami belajar menerima keadaan, hidup sesuai kemampuan, dan memperkuat ikhtiar.
Saya percaya, setiap keluarga memiliki caranya masing-masing untuk bertahan. Tidak perlu malu hidup sederhana, tidak perlu memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain.
Semoga kondisi ekonomi keluarga kita semua semakin membaik. Semoga keadaan negeri ini juga segera pulih sehingga semakin banyak keluarga yang kembali merasakan kelapangan rezeki, ketenangan hati, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Aamiin.
