ilustrasi potong rambut (Adam Winger/Unsplash)
Sejak sekolah dulu saya sangat jarang potong rambut ke salon. Dari kecil hingga kini benar-benar bisa dihitung jadi berapa kali saya pergi ke tempat potong rambut untuk memanjakan diri memantaskan diri dengan potongan rambut yang—menurut orang pas dengan wajah saya.
Pernah waktu SMP diajak mama ke tempat potong rambut yang ada di desa kami. Novita Salon namanya. Satu-satunya tempat pangkas rambut yang hasilnya bagus waktu itu. Sebab konon, Teh Enung sang pemilik salon merupakan lulusan tempat kursus terkemuka. Hasilnya, wajah saya menjadi pangling dan tentunya merasa cantik.
Setelah itu, saya baru pergi ke tempat potong rambut lagi ketika saya hamil anak lima bulan. Kini anaknya sudah usia 13 tahun saya belum pernah melakukannya lagi.
Mengapa? Alasannya simpel saja. Karena saya menggunakan jilbab sehari-hari sejak duduk di bangku SMP, jadi saya merasa potongan rambut saya tidak lagi terlalu penting untuk dipamerkan. Karena saya buka jilbab hanya ketika di dalam rumah yang bisa melihat hanya orang-orang yang boleh melihatnya saja.
Ketika rambut saya sehat, bebas rontok dan ketombe, maka itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Makanya saya lebih memperhatikan produk perawatan rambut daripada berpikir harus kemana saya mencari tempat potong rambut yang cocok.
Lalu, Jika Rambut Panjang, Siapa yang Potong Rambut Saya?
Saya memotongnya sendiri dengan metode coba-coba. Ketika remaja dulu, saya mempelajarinya dari majalah. Kalau sekarang, jauh lebih mudah, kita bisa mempelajarinya dari video youtube.
Apakah hasilnya memuaskan? Tentu saja pada awalnya sedikit mengecewakan. Hasil cutting yang kurang rapi antara bagian kiri dan kanan atau poni yang terlalu pendek adalah hal yang pernah saya alami di awal-awal praktik potong rambut sendiri.
Namun selanjutnya, memotong rambut sendiri adalah hal yang sangat menyenangkan. Jika dilakukan dengan sabar dan teliti, maka memotong rambut bukanlah hal yang terlalu sulit. Saya bisa mengkreasikan rambut sendiri dengan memotongnya sendiri di depan cermin dengan berbagai teknik. Makin baik dan puas. Dari ukuran pendek, panjang, atau sedikit meniru model rambut terbaru yang sedang in.
Saat saya mengetahui bahwa ternyata artis Rina Nose pun melakukannya.
Menjadi Tukang Pangkas Rambut Gratisan
Terbiasa memotong rambut sendiri, membuat saya memiliki keberanian untuk mengkreasikan rambut orang lain. Dan “korban” pertama yang saya gunakan untuk praktik adalah adik saya sendiri yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 2 SD. Masih terekam dalam ingatan, adik saya menangis karena tidak puas dengan potongan rambut yang dipotong oleh ayah. Rupanya ayah greget dengan rambut adik yang sudah terlalu panjang dan berantakan. Agar lebih rapi maka ayah berinisiatif memotongnya, tetapi hasilnya kurang rapi dan membuat adik menangis. Akhirnya saya bilang, “sini kita rapikan.”
Dengan ragu-ragu adik mau juga saya “bengkel” rambutnya. Hasilnya pun tidak terlalu buruk. Potongan rambut adik sedikit lebih baik daripada hasil ayah sebelumnya.
Setelah itu, adik selalu bilang, “ingin dipotong sama teteh saja”. Dan entah mulai kapan, setiap saya pulang kampung, mama, adik, nenek, uwak, bahkan tetangga selalu antre minta dipotongin rambut dengan menyerahkan sepenuhnya kepada saya mau dipotong seperti apa. Saya pun mencoba mencocokan potongan rambut dengan seizin orangnya. Sampai akhirnya kini saya paham, bahwa potongan yang pernah dibuat adalah model bob, shewing cut dan wolf cut. He he he.
Tidak hanya sampai di sana, ketika saya pindah tempat tinggal ke tempat baru pun, keponakan dan kakak ipar sering minta tolong memotong rambutnya. Dengan senang hati saya menerimanya. Meskipun sama sekali tidak ada bayarannya, tetapi selama model rambut yang dipilih adalah model standar yang saya bisa, maka memotong rambut adalah hal yang sangat menyenangkan.
Sayangnya saya tidak pernah mengabadikan “hasil karya” saya di rambut orang lain. Hu hu hu.
Tentu saja saya belum berani menerima permintaan potong rambut dari orang yang mengandalkan potongan rambut sebagai tolok ukur kecantikan dan rasa percaya dirinya. Kemampuan pangkas rambut dari hasil belajar otodidak tentu belum cukup untuk saya melakukan itu.
*Keterangan: artikel sudah tayang di Kompasiana
