Setiap pembaca pasti mempunyai buku favorit. Ada buku yang dibaca sekali lalu diletakkan kembali di rak tanpa pernah disentuh lagi. Namun ada pula buku yang berkali-kali dibuka, halaman-halamannya mulai menguning, sudut-sudutnya melipat, dan beberapa kalimat penting diberi tanda karena begitu dekat dengan pengalaman hidup pembacanya.
Begitulah hubungan antara manusia dan buku. Ia bukan sekadar benda yang tersusun dari kertas dan tinta, melainkan tempat menyimpan ingatan, gagasan, bahkan perjalanan batin seseorang. Di balik setiap koleksi buku, selalu ada cerita: kapan buku itu dibeli, di kota mana ditemukan, atau pada peristiwa apa ia menemani pemiliknya.
Saya memiliki banyak kawan yang menjadikan dunia buku bukan hanya sebagai kegemaran membaca, tetapi juga sebagai wilayah pengembaraan intelektual.
Di Yogyakarta, ada Muhidin M. Dahlan, seorang penulis yang lama menekuni seluk-beluk dunia buku, sejarah penerbitan, dan tradisi membaca. Melalui karya-karyanya, ia mengajak pembaca menengok kembali perjalanan buku dari berbagai sudut. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul 100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Sebuah judul yang provokatif, menggelitik, sekaligus menunjukkan kecintaannya terhadap khazanah sastra.
Di Bandung, saya mengenal Tanzil Hernandi, sosok yang dengan tekun menapaki dunia ulasan buku. Ratusan buku telah ia baca dan tuliskan kembali dalam bentuk resensi. Hampir lima ratus buku telah ia bedah. Di tengah arus media sosial yang serba cepat dan budaya membaca yang sering terburu-buru, ketekunannya seperti sebuah laku sunyi: membaca perlahan, memahami, lalu membagikan temuannya kepada orang lain.
Ada pula Anwar Holid, penerjemah dan penulis yang memiliki perhatian khusus terhadap dunia kepengarangan. Melalui tulisan-tulisannya yang kerap dimuat di Mata Baca, ia menelusuri kehidupan para pengarang, proses kreatif mereka, serta pergulatan yang melahirkan karya-karya penting. Ia tidak sekadar mengulas sebuah buku, tetapi berusaha masuk ke ruang kerja seorang penulis: bagaimana ide lahir, bagaimana sebuah karya dibangun, dan bagaimana seorang pengarang berdialog dengan zamannya.
Yang menarik dari ketiga sahabat tersebut adalah pilihan jalan kepenulisan mereka. Mereka tidak tergoda untuk mencemplungkan diri ke wilayah fiksi, tidak pula mengejar pengakuan melalui puisi atau cerita pendek. Mereka memilih jalur nonfiksi dengan satu kesetiaan yang jarang dimiliki banyak orang: konsisten membaca, mengkaji, dan menulis tentang buku.
Barangkali pekerjaan menulis resensi atau kajian buku tidak sepopuler menulis novel. Nama seorang peresensi jarang menjadi buah bibir. Namun sesungguhnya mereka memiliki peran penting dalam ekosistem literasi. Mereka adalah penjaga jembatan antara buku dan pembaca. Melalui tulisan mereka, sebuah buku menemukan kehidupan keduanya: dibicarakan, diperdebatkan, lalu dikenalkan kepada generasi pembaca berikutnya.
Pada akhirnya, dunia buku tidak hanya membutuhkan pengarang besar. Ia juga membutuhkan pembaca yang tekun, pengulas yang jujur, dan para pencatat yang merawat sejarah buku. Sebab sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang menulis buku, tetapi juga oleh mereka yang setia membaca dan menghidupkan percakapan tentang buku itu sendiri.
