Photo: @imadalassiry/Unsplash
Usia terus berjalan, waktu terus bergulir tanpa pernah menunggu. Maka sudah sepatutnya, seiring bertambahnya usia, kita pun menggulirkan hidup ini menuju hal-hal yang lebih baik. Menjelang usia senja, berjalan untuk kembali pada kebaikan. Ketika usia mulai menua, sejatinya kita sedang berjalan mendekati akhir perjalanan—bukan untuk kembali terjatuh dalam kemaksiatan, melainkan untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan setelahnya.
Ketika usia bertambah, ke mana arah hidup kita?
Usia 40 Tahun: Titik Kedewasaan dan Penegasan Karakter
Dalam perjalanan hidup manusia, usia 40 sering disebut sebagai fase kematangan. Pada usia ini, karakter dan kebiasaan seseorang cenderung telah mengakar kuat. Karena itu, bagi yang belum mencapainya, inilah waktu terbaik untuk memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya memanfaatkan masa sebelum datangnya masa yang lain:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)
Jangan sampai kebiasaan buruk, kelalaian dalam ibadah, dan akhlak yang kurang baik terus terbawa hingga usia senja. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kemungkinan besar kita panen di masa tua.
Semakin Tua, Semakin Dekat dengan Kematian
Bukankah seharusnya semakin bertambah usia, semakin meningkat pula ketaatan kita? Sebab hakikatnya, kita semakin dekat dengan kematian. Pertanyaan besar yang harus kita siapkan jawabannya adalah: apa yang telah kita lakukan dengan usia yang Allah titipkan?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan…” (HR. Tirmidzi)
Ini bukan sekadar pengingat, tetapi peringatan yang nyata.
Kematian Itu Pasti dan Sangat Dekat
Kematian tidak pernah menunggu kita siap. Ia tidak menunggu kita tua, tidak pula menunggu kita menjadi lebih baik. Betapa banyak yang meninggal saat masih bayi, saat masih muda, bahkan saat segalanya tampak baik-baik saja.
Allah ﷻ berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…”(QS. Ali ‘Imran: 185)
Artinya, ajal bisa datang kapan saja, di mana saja, sesuai kehendak-Nya. Lalu, masihkah kita ingin menunda perbaikan diri?
Jangan Pernah Berbalik dari Jalan Kebaikan
Saat kita sudah mulai melangkah menuju kebaikan, jangan pernah berpaling kembali. Teruslah mendekat kepada Allah, meskipun dengan langkah kecil.
Jika tidak mampu berlari, berjalanlah.
Jika tidak mampu berjalan, merangkaklah.
Namun jangan pernah berhenti, apalagi kembali ke arah yang menjauh dari-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Langkah Nyata Memperbaiki Diri
Refleksi ini juga menjadi pengingat pribadi, khususnya bagi kaum perempuan—dan juga bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri:
Jika sudah berhijab, pertahankan dan sempurnakan dengan menutup aurat secara lebih baik. Jika sudah salat lima waktu, tingkatkan dengan salat tepat waktu. Jika sudah tepat waktu, tambahkan dengan salat sunnah rawatib. Jika sudah mulai membaca Al-Qur’an, perbanyak dan rutinkan.
Jangan beri ruang bagi godaan untuk mundur. Ketika iman mulai goyah, segeralah kembali. Jangan biarkan diri larut dalam kelalaian.
Penutup: Nasihat untuk Diri Sendiri
Tulisan ini sejatinya adalah nasihat untuk diri sendiri. Sebuah pengingat agar tidak terlena oleh dunia yang sementara. Namun jika ada kebaikan di dalamnya, semoga bisa menjadi pengingat bersama.
Jangan sampai kita menyesal di akhir hayat. Jangan sampai kita kembali kepada Allah dalam keadaan yang tidak diridhai-Nya.
Mari terus berusaha memperbaiki diri, sebelum ajal benar-benar menjemput.
