Wajah baru alun-alun Ciamis membuat saya terpana. Sebagai masyarakat yang baru berkunjung lagi setelah revitalisasi, semua sudut alun-alun rasanya ingin saya datangi. Tempat luas yang terhampar dan menjadi pusat kegiatan masyarakat ini, membuat saya terus berucap syukur kepada Tuhan atas segala yang telah dilimpahkan kepada tempat ini.
Saya sangat mencintai tempat saya lahir dan bertumbuh, tepatnya kabupaten kecil bernama Ciamis. Tahun lalu, daerah ini dinobatkan sebagai kota kecil terbersih se-Asia Tenggara, setelah sebelumnya meraih Adipura Kencana di tahun 2023. Hal ini menjadi pengumuman yang terdengar indah sekaligus mengagumkan bagi masyarakat Ciamis.
Saya sebagai masyarakat yang turut andil dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan tentunya turut berbangga hati. Sebab secara tidak langsung, saya telah ikut menjadi agen perubahan dan mendukung kemajuan daerah. Prestasi ini harus dijaga, dilestarikan, dan semangatnya harus ditularkan pada generasi selanjutnya.
Alun-alun Ciamis menjadi tempat yang digandrungi dan dicintai banyak orang, termasuk keluarga kami. Alun-alun Ciamis jadi tempat yang memiliki memori kuat untuk hubungan kami dan keluarga. Betapa tidak, saya dan suami mengawali perkenalan, ngobrol, dan tatap muka pertama kali disini.
Setelah tiga tahun berlalu sejak kunjungan terakhir, saya dan suami belum benar-benar kembali ke alun-alun dan menikmati suasananya. Karena tempat ini berisi memori bagi kami, jadi kurang pas rasanya jika kita pergi ke Ciamis tanpa menyambangi alun-alun. Setelah sekian lama, kami akhirnya kembali ke sini dengan keluarga baru, suasana dan perasaan yang baru. Wajah segar alun-alun juga memanjakan mata dan hati kami dengan tata ruang yang baru.
Area Parkir
Kami mengawali perjalanan dengan mencari area parkir khusus kendaraan roda dua. Meskipun suami saya sering bolak-balik Ciamis atas tuntutan pekerjaan, tapi menurutnya berkeliling alun-alun belum pernah ia lalukan, baru kali ini dengan keluarga. Jadi area parkir masih harus dicari bersama-sama.

Setelah ditemukan, kami menuju tangga yang menghubungkan area parkir, spot kuliner, dan alun-alun. Disana kami berkeliling mencari makanan dan minuman yang akan kami jadikan bekal saat bersantai di taman. Kami membeli sop buah, untuk menemani perjalanan.
Spot Kuliner
Setelah parkir, pihak pengelola seakan-akan mempersilakan pengunjung untuk memilih dahulu makanan yang akan menemani selama duduk di alun-alun. Jika dulu kita makan dengan gelaran tikar yang sejajar dengan Masjid Agung, kini disediakan bangku dan tempat duduk yang tertata di area spot kuliner. Di area alun-alun dulunya terdapat warung angkringan, namun penataan yang sekarang pengunjung difokuskan di satu titik.

Hal ini mempermudah pengunjung agar tidak lelah berjalan kaki, berkeliling alun-alun mencari penjaja makanan yang disukai. Begitu juga bagi para penjual, mereka bisa disambangi oleh pengunjung, karena mereka berada dalam satu area. Sebuah ruang yang memudahkan dan menguntungkan.
Akses Menuju Alun-alun
Untuk mengakses alun-alun, ada dua jalan yang memisahkan. Pagar estetik ini dulu saya bisa hanya menikmatinya lewat gambar yang beredar, sekarang saya bisa berdiri di sini. Nyaman, rapi dan bersih rupanya.

Area Bermain Anak

Alun-alun sejak dulu sudah saya anggap sebagai ruang terbuka yang sangat ramah anak. Namun setelah revitalisasi ternyata ada tambahan area bermain khusus untuk anak. Orang tua bisa mengawasi anak sambil duduk-duduk di taman, dan anak bisa menikmati permainan.

Sejauh yang saya pandang, saya mengunjungi dua titik arena permainan anak yang berisi perosotan, terowongan, ayunan, dan lebih banyak lagi. Saya dan suami menemani anak bermain. Pepohonan yang rindang, membuat ruang terbuka ini semakin terasa sejuk.
Tempat Duduk yang Nyaman
Kami sebagai pengunjung merasakan kenyamanan, karena memang alun-alun Ciamis ini sejak dulu terkenal dengan area terbuka hijaunya. Setelah revitalisasi, selain taman yang lebih luas pohon-pohon juga semakin banyak. Di setiap titik tempat duduk, ada pohon sebagai peneduhnya.
Satu hal yang menarik, dulu sekitar empat tahun ke belakang. Saya duduk di taman kota ini selalu terganggu oleh mereka yang mengalami masalah sosial. Badut yang berkeliaran, pengamen dan pengemis yang minta uang secara paksa, dan pelaku lain yang serupa.

Tapi di waktu keluarga kami berkunjung hari ini, kami tidak menemukan hal tersebut. Hal ini termasuk dari bagian harapan saya sebagai warga Ciamis. Semoga masalah sosial seperti itu memang sudah benar-benar tertangani.
Karena dulu, ketika kita sedang menikmati waktu bersama keluarga menikmati kebersamaan dan keindahan taman kota. Tiba-tiba kami disambangi oleh pengamen yang mendatangi keluarga kami berulang kali. Semoga masalah seperti itu tidak terlihat lagi di kawasan alun-alun.
Harapan saya semoga penataan kota yang lebih baik saat ini, diiringi dengan ketertiban dan kesadaran masyarakat yang lebih baik pula. Sebab menjadi masyarakat yang daerahnya berprestasi adalah sesuatu yang membanggakan. Masyarakat bahu membahu membangun daerah dengan kearifan lokal yang beriringan dengan modernisasi, karena keberhasilan dan prestasi daerah tidak lain adalah buah dari upaya masyarakat itu sendiri.
