Di desaku, cinta tidak pernah diucapkan dengan lantang. Ia tidak ditulis dalam surat panjang, tidak pula dijanjikan dalam kata-kata yang megah. Cinta tumbuh diam-diam,mengakar di tanah yang sama tempat padi disemai,hidup dalam kebiasaan yang berulang,dan setia dalam kesederhanaan. Aku mengenalnya dari sebuah bunyi—bunyi yang datang setiap senja,menyusup di antara desir angin dan harum tanah basah.
Eklek… eklek… eklek…
Bunyi itu berasal dari cangklekan, sebuah alat sederhana dari kayu, berbentuk setengah oval,yang menggantung di pinggang ayahku. Di dalamnya, tersimpan sabit yang tajam,dan di balik itu, tersimpan hari yang panjangyang ia jalani di bawah terik dan langit terbuka.

Sumber : Koleksi pribadi
Ayahku seorang petani.Langkahnya berangkat pagi-pagi,ketika embun belum selesai berdoa di ujung daun.Ia tidak banyak bicara tentang lelah,tidak pula pandai menjelaskan cinta.Namun setiap hari ia pergi,
dan setiap senja ia kembali—itu saja sudah cukup menjelaskan segalanya.
Ibu tidak pernah bertanya kapan ayah pulang.Ia tidak menunggu dengan gelisah yang berisik.Ia hanya mendengarkan.Karena ia tahu,cangklekan akan berbicara.
Eklek… eklek… eklek…
Begitu bunyi itu terdengar dari kejauhan, ibu akan berhenti sejenak dari pekerjaannya. Tangannya yang sibuk akan melambat,
matanya akan menoleh tanpa ragu. Bukan karena ia melihat sosok ayah, tetapi karena ia mengenali iramanya—irama yang telah ia hafal lebih dari namanya sendiri.
Di dapur, api segera dinyalakan. Air dituang ke dalam gelas dengan kehati-hatian,seakan ia tahu betapa dahaga telah menunggu.Makanan disiapkan bukan sekadar untuk mengisi perut,tetapi untuk merawat tubuh yang telah berjuang
tanpa banyak keluh.
Begitulah cinta mereka bekerja.Tidak saling memanggil dengan kata-kata manis, tidak saling menggenggam di depan dunia,
namun hadir utuh dalam setiap hal kecil yang dilakukan dengan setia.Cangklekan itu menjadi saksi. Ia menggantung di pinggang ayah, mengikuti setiap langkahnya di pematang sawah,mendengar diamnya kerja keras,dan kemudian membawa pulang kabarkepada seseorang yang selalu menunggu.

Eklek… eklek… eklek…
Bunyi itu bukan sekadar suara kayu yang beradu,melainkan bahasa yang hanya dimengerti oleh hati.Bahasa tentang pulang,
tentang tanggung jawab,tentang cinta yang tidak perlu dibuktikan dengan apa punselain kehadiran yang tak pernah absen.
Aku tumbuh di antara bunyi itu,menyaksikan bagaimana dua manusia sederhanamenjalani hidup tanpa banyak tuntutan,
namun penuh pengabdian.Ayah mencintai dengan bekerja tanpa lelah.Ibu mencintai dengan menunggu tanpa resah. Dan di antara keduanya,cangklekan menjadi penghubung yang setia—mengabarkan bahwa hari telah selesai, bahwa seseorang telah kembali, bahwa cinta masih tinggal di rumah yang sama.
Kini, ketika waktu perlahan mengubah banyak hal,dan bunyi-bunyi lama mulai tergantikan,aku mengerti satu hal:bahwa cinta yang paling kuatbukanlah yang paling terlihat,melainkan yang paling bertahan.Seperti bunyi itu—yang sederhana, yang berulang,namun selalu dirindukan.
Eklek… eklek… eklek…
Di sanalah cinta itu hidup. Dalam langkah yang pulang,dalam tangan yang menyiapkan,dalam dua hati yang tak pernah berkata banyak—namun tidak pernah berhenti setia.
