Tidak ada yang pernah menyengaja dan berkeinginan untuk menjadi istri kedua seperti Amara. Perempuan cantik yang telah disia-siakan oleh suami pertamanya itu telah jatuh cinta kepada lelaki beristri bernama Doni, atas perjodohan yang diatur oleh ibunya sendiri. Mereka menikah secara agama di Kantor Urusan Agama disaksikan beberapa orang saja yang menjadi saksi pernikahan mereka. Amara sendiri tidak tahu pasti mengapa ibunya setuju dirinya menikah dengan lelaki yang memiliki istri.
Dari kesakitan yang selama ini diterima dari mantan suaminya, penyiksaan dan kekerasan rumah tangga serta perselingkuhan yang dilakukan suaminya berkali-kali membuat Amara hidupnya hancur. Doni datang membawa sejuta cinta dan perhatian yang mulai tumbuh di antara mereka setelah perjodohan itu.
“Ada baiknya kamu memulai kembali sebuah rumah tangga, Amara. Hidup sendirian setelah perceraian itu tidak baik untuk seorang perempuan.” Pesan ibunya yang mendorongnya untuk meneruskan pernikahan itu. Tidak dipungkiri, baginya, Doni adalah imam yang baik selama ini. Membimbing ibadah dan keseharian Amara. Sedikit banyak, kehidupan Amara membaik dengan kehadiran Doni. Meskipun ia harus berbagi dengan istri Doni yang sama sekali tidak pernah ditemuinya. Amara sendiri merasa maklum. Mungkin memang Doni tidak ingin mengenalkannya.
Di kantor, Doni adalah atasan Amara. Meskipun Doni bukan pejabat utama di perusahaan itu tetapi posisi Doni sangat terbilang penting. Amara yang menjadi sekretaris pribadinya telah berperan besar kepada kesuksesan Doni. Banyak proyek-proyek besar yang unggul di tangan Doni dan Amara. Tidak ada dalam bayangan amara jika atasannya itu akan menjadi suaminya kini. Berkali-kali amara mencoba mencari alasan mengapa ibunya meminta mereka menikah. Mungkin karena mereka setiap hari bekerja bersama. Agar tidak menjadi berdosa maka ibunya menikahkan Amara dan Doni dengan segera.
Semakin hari cinta kian tumbuh di antara keduanya. Doni yang tertarik dengan kecerdasan Amara, akhirnya memutuskan untuk menyetujui permintaan perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya untuk menikahi perempuan yang selalu seiring sejalan dengannya dalam pekerjaan.
Amara sendiri yang selama ini sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari mantan suami seakan mendapatkan oase aliran air segar yang menyejukkan di tengah gurun pasir yang panas.
Hari-hari diliputi dengan kebahagiaan mereka lebih giat bekerja dan lebih bersemangat pergi ke kantor. Proyek-proyek baru selalu berakhir baik.
Namun semuanya berubah ketika Amara mulai mengandung anak dari Doni. Amara mulai kepayahan dan memerlukan kehadiran Doni di sisinya. Tetapi Doni tidak selalu ada untuknya di saat Amara membutuhkan. Doni harus membagi waktu dengan istri pertamanya yang kini mulai sakit-sakitan.
Doni sering beralasan bahwa istri pertamanya juga sangat membutuhkannya di rumah. Perempuan yang telah menemaninya dalam pernikahan selama sepuluh tahun lamanya itu membutuhkan pendampingan yang lebih intens dari sebelumnya.
“Aku tidak tega membiarkannya sendirian dalam keadaan sakit,” ucap Doni meminta pemakluman Amara.
Belakangan, Doni sering absen dari mengurus kehamilan yang membuat Amara akhirnya menghadapinya sendirian.
“Mas sebentar lagi anakmu akan lahir. Aku sudah sangat kepayahan. Apakah kamu bisa menemaniku kontrol ke dokter kandungan?” pinta Amara dengan ragu karena ia sudah tahu jawaban Doni. Suaminya itu tidak akan punya waktu untuk mengantarnya sekadar mengecek kesehatan anak mereka.
Dengan nada sedih Doni menjawab telepon, “Amara aku akan mengusahakannya datang. Kamu bersabar sedikit ya. Aku masih mengurus istriku yang sedang terapi,” katanya. Doni selalu berusaha berkata jujur kepada istri keduanya. Walaupun tidak selamanya kejujuran itu membuat Amara merasa lebih tenang.
“Terapi?” tanya Amara. Kepalanya diliputi banyak tanda tanya. Selama ini Doni tidak pernah menceritakan apapun.
Sebenarnya sakit apa istrinya mas Doni?
“Iya, Amara. Aku harus menemaninya,” jawab Doni di ujung telefon.
Meskipun amara tidak mengerti apa yang dikatakan Doni tentang apa yang terjadi pada istrinya, Amara hanya menelan ludah. Menghela napas panjang berusaha menenangkan diri. Bahkan kali ini ia berusaha mengerti, “mungkin sama saja denganku. Istri Mas Doni pun memerlukan kehadirannya,” gumamnya.
“Mas, aku disini kepayahan. Apa kamu sama sekali tidak ingin mengantar istrimu ini sekadar untuk memeriksakan kandungan kepada dokter?” Sekali lagi Amara mencoba bernegosiasi. Siapa tahu Doni memberikan jawaban yang membuatnya tenang.
“Mas sangat ingin mengantarmu, Amara. Namun tolong bersabarlah sedikit saja. Mbak Lastri benar-benar sedang membutuhkan Mas di sini,” jawabnya sambil menutup telefon.
Amara merasa frustasi. Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Air ketuban pecah mengalir deras membasahi kakinya. Amara mencoba memanggil Doni sekali lagi. Namun tidak apa yang didapatnya kini? Doni membentaknya dengan kalimat yang sangat menyakitkan hati Amara.
“Aku dari tadi memintamu untuk sedikit bersabar. Namun tetap saja menghubungiku. Apa tidak pernah berpikir, bahwa disini pun aku dalam posisi yang tidak mudah. Sudah kubilang, Lastri juga membutuhkanku, Amara. Cobalah untuk memanggil taksi online, nanti aku menyusul,” ucap Doni. Lagi-lagi menutup pembicaraan secara sepihak.
Amara menggenggam teleponnya dengan tangan gemetar, lalu ia mengelus perutnya yang semakin sakit.
“Sabar ya, Nak. Ayahmu belum punya waktu untuk kita,” ucapnya seolah sedang bercakap dengan sang jabang bayi dalam perutnya. Sakit semakin menjadi. Basahan ketuban semakin deras. Dengan sisa tenaganya Amara memesan taksi online menuju rumah sakit terdekat.
**
Amara melahirkan anaknya sendirian tanpa pendampingan suami. Ibunya baru datang sesat sebelum Masuk ke ruang bersalin.
“Mengapa gak bilang ibu sejak awal?”
Ibunya terus bertanya. Namun Amara sudah tidak tahan lagi menahan sakit di perutnya. Dengan proses persalinan normal, seorang bayi mungil terlahir ke dunia. Amara tersenyum kepada ibunya, cucunya telah lahir dengan selamat.
Doni baru datang ke rumah sakit ketika Amara sudah melahirkan dalam masa perawatan selama dua hari.
“Sayang, maafkan aku datang terlambat. Mana anak kita? Izinkan aku menggendongnya,” kata Doni.
Amara memalingkan muka. Sungguh sakit harus melahirkan sendiri. Padahal Doni itu Ayah biologis dan suami sahnya. Mereka menikah di KUA, hanya saja belum tercatat di negara; karena menunggu kepastian.
“Kapan kamu berterus terang kepada istrimu, Mas, bahwa kamu pun memiliki aku sebagai istri yang lain?” tanya Amara dengan sedih.
“Sabar, Sayang. Akan ada waktu yang tepat untuk membuat semuanya lebih baik,” jawab Doni. Raut mukanya sangat sukar ditebak. Sebagai istri, Amara pun tidak mengerti hal apa yang selama ini disembunyikan Doni darinya.
“Aku tahu, hatimu pasti sakit ketika aku belum bisa memberikanmu kepastian. Namun yang penting kita sudah menikah bukan? Kita tidak dalam zina,” ucap Doni berusaha menghibur istrinya.
“Kalau memang kamu tahu bahwa aku sakit, mengapa kamu selalu menunda, Mas? Apapun perlakuan mbak Lastri nanti akan aku terima, Mas,” ucap Amara lirih. Apa yang baru saja diucapkannya sangat jauh berbanding terbalik dengan rasa yang ada dalam hatinya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa begitu bersalah kepada Lastri.
Mengapa sejak awal aku tidak mempertimbangkan ini sebelumnya?
Ada sesal yang menggelayut di pikiran Amara. Namun bayi kecil di sampingnya membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bayi mungil itu pun harus tahu bahwa ia memiliki ayah.
“Ini sudah mau 2 tahun. Aku pun sudah punya anak darimu. Apakah kehadiran anak tidak membuatmu memiliki pertimbangan yang lebih berpihak kepadaku dan anak kita? Apa kamu tega anakmu nanti disangka adalah anak haram tanpa seorang ayah? Padahal kita benar-benar menikah. Kita adalah suami istri yang sah, Mas,” keluh Amara.
“Jangan berpikir macam-macam, Amara. Bagaimanapun kondisinya aku akan tetap bertanggung jawab atas semuanya. Kau tetap istri keduaku dan bayi kecil kita adalah darah dagingku yang harus aku didik dan jaga selamanya,” jawab Doni.
Seemosi apapun Amara, Doni selalu memiliki sikap yang tenang. Meskipun Amara sendiri tahu bahwa yang mereka hadapi adalah hal terumit dalam hidup.
**
“Istri keduaku.”
Kalimat yang diucapkan Doni terus terngiang di telinga. Namun sesal tiada guna. Sampai kapanpun dan apapun alasannya menjadi istri kedua tidaklah mudah.
Amara memandangi wajah manis peri kecilnya yang sedang terlelap dalam pangkuan. Buah cintanya dengan Doni lelaki yang telah membuat hidupnya berubah drastis menjadi lebih berwarna sekaligus penuh kejutan melelahkan.
“Mas, kalau Mas masih membuat penomoran antara istri kesatu dan kedua dan memberikan perlakuan yang lebih istimewa kepada istri yang pertama, maka aku mundur dari pernikahan ini. Aku tak mau lagi bersabar sebagai istri kedua. Aku tarik kata-kataku yang telah berjanji akan setia kepadamu Mas,” gumam Amara. Bahunya berguncang hebat, ia menangis sesenggukan.
Bayi mungilnya terbangun dari tidur karena guncangan tubuh Amara. Dalam keadaan seperti itu, ia membayangkan ada sosok suami yang menggantikannya menggendong bayinya. Dengan tangan gemetar, Amara memberanikan diri menghubungi Doni.
“Mas di mana?”
Sebuah pesan dikirimkannya kepada Doni, suami yang telah berjanji akan menjemput dan mengeluarkannya dari ruang rawat inap.
“Maaf, Mas gak jadi kesana sekarang. Istri Mas masuk IGD.”
Jawaban itu cukup membuat Amara tahu posisi dirinya seperti apa. Sekali lagi, Doni tidak pernah akan membuatnya menjadi nomor satu. Pun tidak akan pernah benar-benar membawanya ke dalam kehidupan yang lebih baik. Ikatan rumit di antara keduanya hanya akan membuat mereka jauh lebih menderita. Entah cinta atau sebuah izin dari agama bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu, alasan itu tidak menjadikan pernikahan mereka bisa diterima diterima oleh kebanyakan manusia.
Seakan terkoneksi dengan kesedihan ibunya, makhluk mungil dalam pangkuannya menangis sedih menambah pilu di hati Amara. Perempuan itu berusaha untuk menenangkan anaknya, tetapi ia sendiri sedang tidak baik-baik saja. Bimbang merajai perasaan. Pikiran dipenuhi dengan tanya. Tangisan bayinya semakin kencang, hati Amara semakin diliputi keresahan.
**
Hari semakin gelap. Doni tidak kunjung datang menjemput seperti apa yang dijanjikannya. Dengan kekuatan yang belum sepenuhnya pulih, Amara menggendong bayinya pulang menggunakan taksi online. Ibunya telah berjanji akan menyambut kedatangan sang cucu di rumah, karena Doni akan menjemputnya.
Serpihan luka yang ia rasa sudah tidak dihiraukannya lagi. Yang ia tahu, ia harus kuat menjalaninya seorang diri.
Hujan menemani perjalannya pulang ke rumah. Dalam hatinya telah terbangun sebuah tekad yang mendorongnya mengambil keputusan penting dalam hidup.
Semua perempuan layak bahagia dengan lelaki yang dicintainya. Namun tidak sepatutnya ia merebut kebahagiaan yang dimiliki orang lain. Istri Doni tentu saja sakit jika ia harus berbagi suami. Seperti sakit yang dirasakannya.
Ketentraman sebuah pernikahan kedua tidak akan pernah diraih jika istri pertama tidak mengizinkan. Hanya baginda Khadijah istri-istri shalihah lah yang mampu bersabar dengan alasan ibadah berbagi suami dengan perempuan yang lainnya.
“Aku merelakanmu kembali beristri satu, Mas. Mulai hari ini, aku tidak akan lagi menghubungimu dan mengganggu kehidupan pernikahan kalian,” bisiknya seolah menguatkan diri sendiri.
Taksi online berhenti di depan rumah Amara, disambut oleh ibunya. Bayi mungil itu mendapatkan perawatan istimewa.
“Jangan banyak pikiran, Amara. Fokus pada kesehatan, agar ASI-mu lancar,” ucap ibunya mengingatkan.
Hari-hari selanjutnya adalah kehidupan yang menyenangkan. Ditemani ibunya yang selalu membantunya mengurus bayi kecilnya, Amara mulai terbiasa merawat anak dan menjalani hari-hari tanpa kehadiran Doni.
**
Sabtu pagi. Pintu rumah Amara diketuk seseorang. Amara membukakan pintu. Doni dan seorang perempuan cantik berjilbab panjang berdiri di depan Amara dengan keintiman yang begitu lekat.
Perempuan yang sudah pasti istrinya itu menggandeng lengan Doni dengan mesra. Senyumnya begitu manis meskipun wajahnya terlihat sedikit pucat. Matanya yang memiliki sorot yang begitu teduh menatap Amara dengan ramah.
“Alhamdulillah akhirnya kita bisa bertemu, Amara. Perkenalkan saya Lastri, istrinya mas Doni,” ucap Lastri sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Amara menyambutnya dengan gugup. Lalu mempersilakan keduanya masuk.
“Saya pikir kamu sudah banyak mendengar cerita tentang saya dari mas Doni. Namun ternyata mas Doni bilang belum bisa bercerita apa-apa,” ucapnya kemudian sambil tertawa. Rahangnya yang tirus memperlihatkan lesung pipinya
Andai saja tidak sekurus ini, pasti perempuan ini jauh lebih cantik.
Batin Amara masih bergejolak. Dirinya kikuk tidak mengerti apa-apa.
“Eh, Nak Lastri sudah datang.”
Sambil menggendong cucunya yang baru saja dimandikan, Ibu Amara datang memberikan sambutan. Memecah beku pada tubuh Amara. Lastri mencium tangan perempuan paruh baya itu. Lalu meminta izin menggendong cucu yang sedang digendongnya. Lastri menggendong bayi mungil itu dan mengajaknya berkomunikasi bak seorang ibu yang sedang menimang anaknya sendiri.
Amara masih terbengong, tidak mengerti atas apa yang terjadi.
“Bu, kok Ibu kenal sama mbak Lastri?” tanya Amara setengah berbisik dengan dahi mengernyit.
“Jelaskan, Bu..!” perintah Lastri dengan lirikan yang penuh misteri. Lalu perempuan berjilbab panjang itu menuju teras depan sambil menimang bayi mungil milik Amara.
Seberendel penjelasan dipaparkan oleh sang ibu. Beberapa tahun lalu, Lastri dan Doni datang ke rumah meminta agar ibu Amara mengizinkan Doni menikah dengan Amara. Sepuluh tahun pernikahan dan belum diberikan keturunan dan sebuah penyakit yang menggerogoti tubuhnya beberapa tahun belakangan membuat Lastri meminta Doni mencari istri lain. Dan baru akan berterus terang jika misalkan perempuan tersebut sudah bisa melahirkan anak Doni yang juga akan menjadi anaknya Lastri.
Penjelasan itu membuat perasaan Amara campur aduk. Doni tersenyum lega karena semuanya telah semakin jelas.
“Dua minggu lagi, kita gelar syukuran pernikahan ya,” ucap Lastri tiba-tiba. Amara yang masih canggung memeluk perempuan itu.
“Apapun, Mbak. Aku ikut saja. Asalkan Mbak bahagia,” ucap Amara.
Lastri membalas pelukan yang sama eratnya. Lalu, “aku senang ketika aku pergi nanti mas Doni sudah ada yang menjaganya,” ucap Lastri dengan perasaan lega.
