Pukul delapan malam. Grand Atrium Mall ‘Galeria’ nampak seperti istana cahaya yang sedang berpesta. Musik instrumental yang menenangkan mengalun lembut, bercampur dengan aroma parfum mahal yang menyesakkan napas. Di dalam gerai ‘Aura Mode’, Maya berdiri tegak, memaksakan senyum porselennya yang paling sempurna.
Di luar, etalase toko memamerkan sebuah gaun beludru hitam pekat bertabur kristal Swarovski. Gaun itu nampak angkuh, seolah berkata pada setiap pelintas: “Hargaku adalah setahun gaji seorang pelayan toko.”
Sesosok wanita bangsawan, sebut saja Bu Ratna, masuk ke gerai. Aroma tubuhnya seperti perpaduan melati dan uang tunai. Di jari manisnya, sebongkah berlian berkilau, jauh lebih besar dari mata Maya yang sedang menahan kantuk.
Maya menghampiri Bu Ratna dengan gerakan yang sudah terlatih. “Selamat malam, Ibu. Ada yang bisa saya bantu? Kami baru saja menerima koleksi sutra terbaru dari Milan.“
Bu Ratna hanya mengibaskan tangannya, “Tunjukkan saja yang paling mahal,” jawabnya datar, bahkan tanpa melihat wajah Maya.
Maya melangkah menuju lemari kaca di pojok gerai, tempat koleksi terbatas disimpan. Tangannya gemetar saat menyentuh gaun sutra berwarna creme yang lembut. Pikirannya melayang pada secarik kertas di saku celemeknya: surat pemberitahuan dari kontrakan yang sudah menunggak sebulan. Hari ini seharusnya hari gajian, tapi seperti biasa, manajemen toko ‘menunda’ pembayaran gaji dengan alasan administrasi.
Saat Maya berdiri di dekat lemari kaca itu, tepat sebelum ia menyerahkan gaun creme itu pada Bu Ratna, matanya tak sengaja tertuju pada bayangan dirinya sendiri di cermin besar. Bayangan seorang pelayan toko dengan seragam standar.
Namun, dalam hitungan detik, bayangan itu seolah berubah.
Dalam khayalannya, Maya tidak lagi memakai seragam toko. Ia mengenakan gaun beludru hitam di etalase itu.
“Tuhan, bayangkan… jika hamba memakai ini,” bisik Maya di hatinya. Khayalan itu begitu kuat sampai ia bisa merasakan kelembutan beludru di kulitnya.
“Di pagi Idul Fitri yang cerah itu, hamba berdiri di shaf shalat sunnat Idul Fitri. Bukan di shaf paling belakang seperti biasa, tapi di shaf depan, tepat di belakang Bu Imam. Semua mata tertuju pada hamba. Saat takbir berkumandang, kristal-kristal di gaun hamba berkilauan, seolah menyambut kemenangan iman.”
“Lalu, saat hamba bersilaturahim ke rumah Nenek di kampung. Sepupu-sepupu hamba yang biasanya membicarakan seragam toko hamba, kali ini diam seribu bahasa. Tante-tante hamba yang suka membandingkan hamba dengan anak mereka, menatap hamba dengan tatapan tak percaya. Hamba tidak lagi menjadi pelayan, tapi menjadi pusat perhatian. Paling cantik. Paling anggun. Pasti terlihat berbeda dengan orang lain. Paling istimewa di hari kemenangan.”
“Hamba akan memberikan uang THR yang besar untuk adik-adik hamba, dan Ibunda hamba akan tersenyum bangga, melihat putrinya mengenakan kain sutra seharga setahun gaji.”
Maya tersenyum dalam khayalannya. Senyum yang penuh dengan kepuasan semu dan kerinduan untuk dihargai. Hatinya berbunga-bunga, merasa setidaknya sekali dalam hidupnya, ia pantas menjadi pusat dunia.
“Tuhan, nampaknya… fana ini begitu indah,” batin Maya lagi, kali ini dengan nada sinis.
“Maya! Jangan melamun! Cepat berikan gaun itu pada Ibu Ratna!” suara tajam sang manajer memecah khayalannya secara brutal.
Maya tersentak. Bayangan di cermin kembali menjadi dirinya yang letih dan lapar. Gaun beludru hitam itu masih ada di etalase, angkuh dan berkilau di bawah lampu sorot, seolah menertawakannya.
“Ya Tuhan, khayalan fana macam apa ini? Hamba merindukan kemuliaan kain, sementara hati hamba belum dimuliakan oleh kesabaran,” Maya beristighfar dalam hati. Khayalan tentang Idul Fitri yang istimewa tadi mendadak terasa hambar, bahkan sedikit menakutkan, karena ia menyadari betapa rapuhnya harga diri yang hanya digantungkan pada selembar kain.
“Hamba merindukan pujian keluarga di hari kemenangan, sementara hamba lupa bahwa kemenangan sejati datang dari rasa takut dan bersyukur pada-Mu.”
Bu Ratna mematut diri di depan cermin besar berbingkai emas. Gaun sutra creme itu pas sekali di tubuhnya.
“Lumayan. Berapa?“
“Seratus lima puluh juta, Ibu,” jawab Maya pelan.
Bu Ratna hanya mengangguk kecil, nampak acuh, seolah Maya baru saja menyebutkan harga sekantong beras. Ia mengeluarkan kartu kredit berwarna platinum dari dompet kulit buaya-nya.
Saat kartu itu digesek ke mesin EDC, terdengar suara beep yang sangat familiar. Bagi Bu Ratna, itu adalah suara kepuasan. Bagi Maya, itu adalah suara derita.
“Seratus lima puluh juta. Hanya dalam satu gesekan,” Maya menatap angka di layar mesin EDC. “Itu adalah biaya operasi ibunya dua bulan lalu yang terpaksa dibatalkan. Itu adalah biaya sekolah adik-adiknya sampai kuliah. Dan itu… adalah harga dari kebanggaan fana yang sempat hamba dambakan tadi.”
Maya menyerahkan tas belanja eksklusif itu pada Bu Ratna dengan kedua tangannya, seperti seorang abdi yang menyerahkan takhta. “Terima kasih, Ibu. Selamat datang kembali di Aura Mode.“
Bu Ratna keluar toko, meninggalkan Maya yang kembali sendirian di balik etalase.
Maya menatap kembali etalase toko. Gaun beludru hitam itu masih ada di sana, angkuh dan berkilau di bawah lampu sorot. Di balik kaca etalase itu, ia melihat bayangan dirinya sendiri. Sosok pelayan toko yang pucat, letih, dan lapar.
Ia merasakan kehausan yang luar biasa. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang retak. Ia ingin menangis, tapi ia takut air matanya akan merusak make-up dan ia akan ditegur oleh manajer.
Maya berjalan ke sudut toko, tempat sebuah tasbih kecil miliknya tersembunyi di balik tumpukan kotak. Ia memutar biji-bijinya satu per satu.
“Ya Tuhan, hamba tahu, Engkau adalah Tuhan di balik etalase ini,” bisik Maya, suaranya kini bergetar oleh air mata yang tak bisa ditahan lagi. “Engkau ada di balik gemerlap kristal Swarovski itu. Engkau ada di balik kelembutan sutra Milan. Engkau ada di balik kekayaan Bu Ratna. Dan Engkau… juga ada di balik lapar dan dahaga hamba. Bahkan Engkau ada di balik khayalan fana hamba tentang Idul Fitri tadi.”
Maya menutup matanya. Di tengah hiruk pikuk Galeria Mall, ia menemukan kesunyian yang paling sunyi.
“Ya Tuhan, kenapa hamba Engkau takdirkan untuk melihat semua kemewahan ini setiap hari, sementara hamba sendiri harus mengemis hak hamba?”
Maya tersenyum dalam kesunyian itu. Kali ini bukan senyum porselen, tapi senyum yang penuh dengan penerimaan.
“Tuhan, hamba tidak lagi mendambakan Idul Fitri yang paling cantik di mata manusia. Hamba mendambakan Idul Fitri yang paling suci di mata-Mu. Hamba tidak lagi merindukan pujian fana tentang selembar kain, tapi hamba merindukan keridhaan-Mu atas kesabaran hamba dalam menahan lapar dan dahaga ini.”
Di balik noda kaca yang sirna, Maya melihat gaun beludru itu semakin berkilau. Tapi ia tidak lagi melihatnya dengan rasa dengki atau kerinduan yang sia-sia. Ia melihatnya sebagai simbol kehendak Tuhan yang misterius.
Malam semakin larut. Adzan Maghrib yang ditunggunya sebentar lagi akan berkumandang. Ia tahu, di saku kontrakan yang kosong itu, ada iman yang penuh. Gaji mungkin ditunda, tapi kasih sayang Tuhan tidak pernah ditunda.
Sambil menggosok kaca etalase, Maya menyadari satu hal yang paling mendalam malam itu.
“Tuhan di balik etalase toko tidak memanggil hamba untuk memiliki gaun beludru itu. Dia memanggil hamba untuk mengagumi keindahan-Nya, meski hamba berdiri di sisi yang lapar. Dia memanggil hamba untuk belajar sabar, meski hamba berdiri di sisi yang diuji. Karena Dia tahu, gaun beludru ini akan fana, pujian keluarga akan sirna, tapi iman hamba, yang dibangun dalam lapar dan dahaga ini, adalah sesuatu yang akan abadi.”
Malam itu, di bawah temaram lampu Galeria Mall, Maya tidak lagi merasa dirinya sebagai pelayan toko yang malang. Ia adalah seorang pejuang. Seorang penjaga rahasia Tuhan yang tersembunyi di balik gemerlap kemewahan. Ia menanti maghrib dengan senyum paling tulus yang pernah ada di Aura Mode. Karena di dalam perut yang lapar itu, ada hati yang paling kenyang.
“Kekayaan bukanlah tentang seberapa banyak sutra Milan yang bisa kau beli, melainkan tentang seberapa damai hatimu dalam menerima kehendak-Nya di tengah kekurangan. Tuhan mungkin menunda gaji di tangan, tapi Dia tidak pernah menunda ketenangan di hati bagi jiwa-jiwa yang memilih untuk bersyukur. Dan kemuliaan sejati bukan terletak pada seberapa cantik kau terlihat di mata manusia pada hari kemenangan, melainkan seberapa tulus imanmu dalam menanti kemenangan itu di hadapan-Nya.”
