Ilustrasi dibuat oleh Meta AI
Malam takbiran selalu menjadi momen yang kutunggu-tunggu setelah sebulan penuh menahan lapar, haus, dan ego. Saat itu, udara terasa berbeda: ada aroma haru, bahaya, dan kebahagiaan yang bercampur. Aku ingat betul malam-malam itu di kampung halamanku, di mana jalanan yang biasanya sepi selepas maghrib tiba-tiba hidup oleh suara takbir bergema.
Seperti ribuan lampion suara yang diterbangkan ke langit, mengabarkan bahwa kemenangan kecil telah kita raih.
Waktu kecil, takbiran adalah ajang pamer keberanian. Aku dan teman-teman sepantar sering berlomba siapa yang paling keras meneriakkan “Allahu Akbar!” sambil membawa obor dari bambu yang dibungkus kain dan minyak tanah. Jari-jari kami kotor oleh asap hitam, tapi tawa kami tak pernah redup. Orang tua di kampung membiarkan kami berlarian di jalanan, karena mereka tahu ini adalah cara kami—generasi yang masih lugu—memaknai kemenangan setelah berpuasa.
Tapi takbiran bukan hanya soal keriangan bocah-bocah. Di balik itu, ada denyut kebersamaan yang menyentuh.
Di daerahku, takbiran selalu diramaikan dengan karnaval kecil. Warga berkumpul di lapangan desa dengan membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid, dihiasi lampu warna-warni. Ada yang naik becak hias, ada yang berjalan kaki sambil membawa beduk mini. Para ibu-ibu dengan wajah sumringah membawa nampan berisi kue-kue kering buatan sendiri, dibagikan ke siapa saja yang lewat. Sementara bapak-bapak dengan suara serak tak henti mengumandangkan takbir, seolah ingin menguras semua dosa yang tersisa melalui getaran pita suara mereka.
Yang paling berkesan adalah saat semua orang, tua-muda, kaya-miskin, berkumpul di masjid. Suara takbir yang awalnya bersahut-sahutan dari sudut-sudut kampung, pelan-pelan menyatu menjadi satu harmoni. Seperti orkestra tanpa partitur, tapi semua tahu kapan harus meninggi, kapan harus merendah. Aku sering duduk di teras rumah, memandangi kerumunan itu sambil berpikir: inilah bentuk syukur yang paling jujur. Bukan dengan kata-kata indah di media sosial, tapi dengan lantunan suara yang menggetarkan langit.
Tapi, takbiran bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ada akar agama yang dalam di sini. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa takbir pada malam Idul Fitri adalah bentuk syukur atas nikmat menyelesaikan ibadah puasa. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 185). Kata “mengagungkan” di sini tak lain adalah bertakbir. Jadi, ketika kita berkeliling kampung atau berkumpul di masjid sambil meneriakkan “Allahu Akbar”, itu bukan sekadar adat. Ini adalah sunnah yang punya dasar kuat.
Aku pernah bertanya kepada Ustadz di pesantren: “Kenapa harus berisik-bersik di malam hari? Tidakkah lebih baik bertakbir dalam hati?” Beliau tersenyum. “Takbiran itu seperti teriakan seorang anak yang baru saja lulus ujian. Ia tak bisa diam karena kegembiraannya. Tapi, kegembiraan kita bukan hanya karena ‘lulus’ dari puasa, melainkan karena Allah masih memberi kesempatan untuk merasakan nikmat-Nya.” Jawaban itu membuatku tersentak. Selama ini, aku hanya melihat takbiran sebagai ritual, tapi lupa bahwa di baliknya ada dialog antara hamba dan Sang Pencipta.
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan cara bertakbir yang sederhana.
Dalam satu riwayat, beliau bertakbir sambil berjalan ke masjid untuk salat Id. Tak perlu pengeras suara, tak perlu kostum mewah. Cukup dengan hati yang ikhlas dan suara yang lantang. Tapi, bukan berarti tradisi karnaval atau hiasan itu salah. Selama esensinya tetap mengagungkan Allah, bentuknya bisa berbeda-beda. Di Jawa, ada tradisi “takbir keliling” dengan menabuh beduk. Di Sumatra, takbir dikumandangkan sambil membawa obor dari daun kelapa. Di kota-kota besar, anak muda mengadakan car free day bertakbir dengan sepeda hias. Semua sah, selama tak melupakan tujuan utamanya: merayakan kemenangan spiritual.
Sekarang, setelah dewasa, makna takbiran semakin dalam. Aku tak lagi berlarian dengan obor, tapi lebih sering membaur dalam kerumunan orang-orang yang saling memeluk dan bermaafan. Suara takbir yang dulu kudengar sebagai gegap gempita, kini terasa seperti bisikan lembut yang mengingatkan: “Kau tak sendirian.” Di tengah hiruk-pikuk dunia, malam takbiran adalah pengingat bahwa ada ribuan—bahkan jutaan—manusia yang sedang bersujud pada kebesaran yang sama.
Mungkin inilah keindahan takbiran. Ia bukan hanya tentang suara, tapi tentang getaran jiwa yang menyatukan kita. Seperti lampion-lampion suara yang diterbangkan ke angkasa, setiap “Allahu Akbar” adalah janji: bahwa setelah lelah berpuasa, setelah berjuang melawan nafsu, kita tetap kembali pada-Nya. Dengan kepala tertunduk, tapi hati membumbung tinggi.
Selamat Hari Raya, kawan. Mari bertakbir, bukan hanya dengan lisan, tapi dengan seluruh cerita yang kita bawa dari Ramadan.
