Kawan, pagi ini Cimahi cerah, tapi dinginnya tetap menggigit. Udara seperti menusuk tulang, membuat saya tak bisa jauh dari cangkir kopi susu panas yang setiap hari saya seduh dengan harapan bisa menghangatkan bukan hanya tubuh, tapi juga hati yang murung. Cuaca seperti ini membuat saya ingin menulis, bukan karena ada yang penting untuk disampaikan, tapi sekadar melepas jenuh yang menggumpal di dada.
Hidup terasa begitu datar, Kawan. Seperti jalan lurus tanpa tikungan, tanpa kejutan. Saya melihat para elit politik bersorak karena gaji mereka naik, sementara di bawah sana, masyarakat seperti saya dan kakak saya bergulat dengan kesusahan yang tak kunjung reda. Rasanya seperti menonton sandiwara yang tak lucu, di mana aktor utamanya tertawa di atas panggung, sementara penonton menangis di kursi belakang.
Kakakku, yang kini sudah tua dan tak berdaya, sedang sakit. Mencari bantuan pengobatan untuknya seperti meniti jalan berbatu di tengah hujan deras. Saya yang hanya adik seibu beda ayah, harus “katempuhan” mengurus semuanya. Tapi saya tak mengeluh, Kawan. Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang hidupnya, agar kau tahu bahwa di balik wajah kerasnya, ada kisah yang tak kalah getir.
Dulu, saat saya masih kecil, kakakku sering muncul tiba-tiba di rumah kontrakan ibu saya di Cijerah. Waktu itu saya belum tahu bahwa dia adalah anak ibu saya dari suami sebelumnya. Sehari-harinya dia jadi preman calo di terminal Kebon Kalapa Bandung. Hidupnya keras, jalanan adalah rumahnya. Tapi sesekali, ia datang dan duduk di hadapan ibu saya, diam, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu bagaimana.
Tahun 80-an, dia pindah ke Pangandaran. Memang, dia lahir di sana. Ayahnya, sebut saja Efen, adalah orang asli Pangandaran. Sebelum menikah dengan ibu saya, Efen sudah punya dua istri. Dari istri pertama, lahirlah Oman Rochmana dan Owan—dua nama yang kelak akan saya kenal lebih dekat karena saya sempat tinggal bersama mereka. Dari istri kedua, ada Obay di Purwakarta dan Rahmat, serta satu lagi yang namanya saya lupa. Dari istri ketiga, lahirlah Endang, yang kini hidup terkatung-katung di Bandung.
Dari ibu saya, Efen punya anak bernama Endang juga. Efen meninggal di usia 61 tahun. Setelah itu, ibu saya menikah lagi dengan Pak Adang, orang Garut. Dari pernikahan itu, lahirlah Nani yang kini tinggal di Cililin. Tapi pernikahan itu tak bertahan lama. Mereka bercerai, dan ibu saya menikah lagi dengan Asikin—ayah saya.
Dari Asikin, ibu saya dikaruniai tiga anak: Didin (saya), Wiwi, dan satu lagi yang konon katanya lahir sebelum saya tapi meninggal saat masih bayi. Asikin pun punya sejarah panjang. Sebelum menikah dengan ibu saya, ia sudah punya dua istri. Dari istri pertama, lahirlah Yoyoh dan Yayah yang tinggal di Banjarsari. Istri ketiga Asikin bernama Omah, dan dari pernikahan itu lahir delapan anak. Ibu saya, Nunung, adalah istri keempat.
Kawan, hidup kami seperti benang kusut. Tapi di balik kekusutan itu, ada cinta, ada perjuangan, dan ada luka yang tak selalu bisa sembuh. Saya menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengingatkan bahwa di balik dinginnya pagi Cimahi, ada hangatnya kenangan dan pahitnya kenyataan yang harus saya telan.
Saya harap kau membaca ini dengan hati terbuka. Karena meski hidup membosankan dan politik menyebalkan, kita masih punya cerita. Dan cerita itu, meski tak selalu indah, adalah milik kita sepenuhnya.
Salam dari Cimahi yang dingin,
Didin
09 Oktober 2025
—
