Dunia literatur sering kali bekerja dengan cara yang misterius. Kadang ia mempertemukan pembaca dengan penulisnya melalui kata-kata, namun di lain waktu, ia menciptakan jarak yang begitu lebar hingga sang tokoh terasa seperti mitos yang sudah lama moksa. Selama bertahun-tahun, itulah yang saya rasakan terhadap sosok Ajip Rosidi.
Dalam ketidaktahuan yang naif, saya sempat menyangka bahwa lelaki yang namanya abadi dalam jagat sastra dan budaya Sunda itu sudah tidak ada di dunia ini. Namanya bagi saya adalah monumen, bukan lagi manusia yang bernapas.
Hingga tibalah tahun 2008, sebuah kabar mampir ke telinga saya dan seketika meruntuhkan segala prasangka. Universitas Padjadjaran (Unpad) mengumumkan sebuah acara penyambutan: kepulangan Ajip Rosidi ke tanah air. Ternyata, selama dua puluh dua tahun, ia menetap di Jepang, mendaraskan ilmu di sana sebagai pengajar, jauh dari hiruk-pikuk tanah kelahirannya.
Kabar itu menghantam saya dengan gelombang haru yang tak terlukiskan. Ada rasa kaget yang bercampur dengan kerinduan yang mendadak meledak. Saya ingin datang, saya ingin melihatnya, saya ingin berada di dekat sang Begawan.
Namun, tepat di ambang pintu keberangkatan, langkah saya tertahan oleh sebuah pertanyaan yang menusuk relung hati: Siapakah saya?
Di hadapan raksasa literasi seperti Ajip, saya merasa tidak lebih dari sebutir debu yang kebetulan gemar membaca. Ia tentu tidak mengenal saya. Saya bukan siapa-siapa dalam peta intelektualnya. Maka, saya memutuskan untuk datang ke pesta penyambutan itu bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai saksi bisu. Saya berdiri di kejauhan, menyaksikan kerumunan orang-orang penting yang berebut menjabat tangannya.
Di tengah riuh rendah percakapan dan tawa, saya merasa menjadi manusia paling asing. Tak satu pun wajah di sana yang saya kenali, dan saya yakin, tak satu pun dari mereka yang memedulikan kehadiran saya. Saya pulang dengan hati yang penuh, meski tanpa sepatah kata pun terucap kepada beliau.
Namun, justru di situlah api itu mulai menyala. Jika saya tidak bisa mengenalinya secara fisik melalui perjumpaan langsung, maka saya akan mengenalnya melalui setiap jengkal pemikiran yang ia tuangkan dalam kertas. Saya tidak peduli lagi apakah ia mengenal saya atau tidak. Saya memilih jalan sunyi untuk mencintainya: lewat buku-buku.
Bandung menjadi saksi bisu awal pengembaraan ini. Setiap sudut kota, dari lapak-lapak buku bekas yang berdebu di pinggir jalan hingga toko buku besar yang harum pendingin ruangan, saya sambangi. Selama bertahun-tahun, fokus saya hanya satu: Ajip Rosidi. Jika ada buku yang sampulnya memuat nama itu, saya akan mengejarnya layaknya mencari harta karun. Tanpa lelah, tanpa jeda.
Kegigihan ini lama-kelamaan membuahkan sebuah identitas baru bagi saya di kalangan kawan-kawan. Saya dijuluki “Ajipis”. Sebuah gelar yang disematkan untuk menandai obsesi saya yang tak masuk akal terhadap karya-karyanya. Saya menerimanya dengan bangga, sebagaimana kawan saya di Yogyakarta yang dijuluki “Pramis” karena kecintaannya yang luar biasa pada Pramoedya Ananta Toer. Kami adalah para peziarah kata, yang mencari tuhan-tuhan kecil kami di sela-sela rak buku.
Pencarian saya tidak berhenti di batas kota Bandung. Kaki saya melangkah lebih jauh, menyeberangi provinsi, membelah pulau. Yogyakarta, Surakarta, Solo, hingga Bali saya datangi.
Setiap ada kesempatan untuk bepergian, tujuan utama saya bukan tempat wisata atau kuliner yang sedang viral, melainkan toko buku tua yang tersembunyi. Di kota-kota itulah, satu demi satu potongan sejarah mulai terkumpul. Saya mulai mendapatkan buku-buku keluaran lama, edisi-edisi awal yang kertasnya sudah menguning dan rapuh, namun isinya masih sangat bernyawa.
Mungkin banyak yang bertanya, dari mana uangnya? Saya bukan orang yang berlimpah harta. Kehidupan saya sederhana. Uang yang saya gunakan untuk menebus buku-buku itu berasal dari honor menjaga stand buku. Setiap rupiah yang saya hasilkan dari jerih payah berdiri seharian di pameran-pameran buku, saya sisihkan dengan sangat ketat. Saya menabung bukan untuk membeli pakaian baru atau barang mewah lainnya. Saya menabung hanya untuk Ajip. Tidak ada yang lain.
Tentu saja, jalan ini tidak selamanya mulus. Cibiran datang silih berganti. Ajip Rosidi adalah sosok yang tegas, terkadang keras dalam prinsip dan kritiknya, sehingga tak jarang ia memiliki orang-orang yang tidak menyukainya. Kebencian mereka sering kali tumpah kepada saya. Mereka mencemooh kesetiaan saya yang dianggap berlebihan.
Namun, semua itu hanya menjadi angin lalu. Bagi saya, mencintai karya seseorang adalah hak prerogatif pembaca yang tidak memerlukan validasi dari para pembenci.
Seiring berjalannya waktu, dedikasi yang awalnya sunyi ini mulai membuahkan pengakuan di “dunia bawah tanah” perbukuan. Para pedagang buku bekas, makelar naskah, hingga kolektor mulai mengenal saya. Kini, keadaan berbalik. Jika dulu saya yang memohon-mohon informasi, sekarang merekalah yang pertama kali menghubungi saya.
“Mas, saya punya karya Ajip terbitan tahun 60-an, mau?” begitu bunyi pesan yang sering mampir di ponsel saya.
Menjadi seorang Ajipis bukan sekadar tentang mengumpulkan tumpukan kertas. Ini adalah tentang merawat ingatan atas budaya, tentang menjaga marwah literasi yang diperjuangkan oleh sang Begawan seumur hidupnya. Melalui setiap buku yang saya simpan, saya merasa sedang bercakap-cakap dengan Ajip.
Ia menceritakan sejarah Sunda yang luhur, ia mengajari saya tentang integritas seorang penulis, dan ia menunjukkan bahwa kecintaan pada tanah air bisa diwujudkan lewat ketajaman pena.
Kini, jika saya melihat kembali ke tahun 2008 saat saya berdiri asing di pojok aula Unpad itu, saya hanya bisa tersenyum. Saya memang masih bukan siapa-siapa, dan mungkin Ajip tetap tidak pernah benar-benar mengenal wajah saya. Namun, di dalam perpustakaan pribadi saya, di setiap halaman yang telah saya baca dan saya jaga, kami telah lama bersahabat. Mencintai Ajip Rosidi adalah perjalanan mencari jati diri saya sendiri, dan dalam perjalanan itu, saya telah menemukan rumah.
