Yogyakarta
: taufik ampera
perjalanan ini perjalanan pikiran
yang merenik
dan menukik ke lorong kelam.
2000
(Dinukil dari buku Lagu Liwung sajak Teddi Muhtadin, hlm 45)
Gerbong kereta malam itu berayun lembut, membelai rel yang membentang di kegelapan. Di pangkuanku, buku kumpulan sajak “Lagu Liwung” karya Teddi Muhtadin terbuka, siap mengantarkan pada perjalanan yang tak kalah panjang dari rel yang kulalui. Malam itu, Yogyakarta terasa jauh, namun justru di sanalah hatiku tertambat, bersamaan dengan setiap bait yang kurasakan.
Sajak “Yogyakarta” menyentuhku dengan cara yang tak terduga.
“Perjalanan ini perjalanan pikiran yang merenik,” bisik Teddi Muhtadin, dan aku pun terhanyut. Benar, perjalanan ini bukan sekadar tentang kilometer yang kutempuh, tetapi juga tentang lorong-lorong pikiran yang mulai kuselami. Di antara denting roda kereta dan desah napas penumpang yang terlelap, aku menemukan diriku merenungi setiap kata.
“Menukik ke lorong kelam,” lanjutnya, dan bayangan masa lalu pun menari-nari di pelupuk mata. Ada luka, ada kenangan pahit, tetapi juga ada kekuatan yang tumbuh dari sana. Seperti kereta ini, hidup terus bergerak, meski kadang harus melewati terowongan gelap.
Dalam kesederhanaan bahasanya, Teddi Muhtadin mampu merangkai metafora yang begitu kuat. “Lorong kelam” bukan sekadar tempat yang menakutkan, tetapi juga ruang introspeksi, tempat kita berdamai dengan diri sendiri. Di tengah malam yang sunyi, di antara gemuruh kereta yang membelah kegelapan, sajak ini menjadi teman perjalanan yang setia.
Setiap baitnya mengajakku untuk merenungkan kembali perjalanan hidup. Bukan tentang tujuan akhir, tetapi tentang setiap langkah, setiap persimpangan, setiap lorong yang telah dilalui. Seperti kereta ini, hidup adalah perjalanan yang tak pernah berhenti, penuh kejutan, dan terkadang penuh liku.
Ketika kereta mulai memasuki stasiun Yogyakarta, fajar mulai menyingsing. Kota itu menyambutku dengan hangat, seperti pelukan seorang sahabat. Di dalam hatiku, “Lagu Liwung” masih berdendang, mengiringi langkahku menyusuri jalanan Malioboro yang mulai ramai. Perjalanan ini, perjalanan pikiran ini, telah membawaku pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.
Di Yogyakarta, aku menemukan kedamaian, seperti yang kurasakan saat membaca sajak-sajak Teddi Muhtadin. Kota ini, dengan segala keindahannya, menjadi latar yang sempurna untuk merenungkan perjalanan batin yang baru saja kulalui. “Lagu Liwung” bukan sekadar buku, tetapi juga peta perjalanan, yang membimbingku menemukan makna di setiap langkah.
Di Yogyakarta, aku menemukan diriku.
