Tautan asmara memang tidak selamanya berjalan mulus. Kadang kisah menyakitkan begitu pandai melukai perasaan dan meninggalkan trauma mendalam. Namun jangan pernah menyerah, bagi manusia berhati tulus selalu ada kejutan yang jauh lebih indah meskipun memerlukan perjuangan yang berat. Seperti kisah putri Kalynda dan Satria.
Sore itu hujan turun. Tidak terlalu lebat, tetapi mampu membuat genangan di pelataran rumah penduduk Desa Pringkadani.
Satria duduk termenung di teras rumah berbahan kayu Jati, rumah peninggalan sekaligus dibangn oleh tangan ayahnya semasa hidup dulu. Pemuda itu bertumpu pada kedua lututnya yang terbalut sarung. Kain lusuh yang belum dilepaskannya setelah ibadah sore tadi. Matanya menatap kosong ke arah pohon bunga Kenanga yang sedang berbunga lebat. Kelopak dan daunnya bergoyang perlahan tertimpa tetesan air yang jatuh dari pohon besar di atasnya.
Bunga Kenanga itu menghadirkan bau wangi yang sedap. Namun tidak untuk Satria. Bahkan ia membenci Kenanga. Hingga saat ini rasa pedih di dadanya belum sembuh karena sayatan luka yang ditorehkan gadis manis yang memiliki nama sama dengan bunga itu.
Kenanga, yang dicintainya sejak empat tahun lalu. Memilih untuk menikah dengan Handika anak seorang saudagar kaya di desa sebelah. Memang, siapa yang tidak tergiur dengan segala fasilitas yang akan didapatkan jika berhasil menjadi menantu pak Karto. Ayahnya Handika pemilik hektaran tanah, peternakan terbesar di desa, dengan suplai daging dan telur yang sudah menguasai pasar kabupaten di sana.
Satria. Hanya namanya saja begitu. Tidak sedikitpun ia berani melawan Handika ketika ia dicaci maki dan dihina tanpa pembelaan dari Kenanga kekasihnya. Namun bukan berarti ia tidak punya nyali untuk menghadiahi bogeman keras di wajah Handika pemuda besar kepala itu. Akan tetapi, ia masih menghargai dirinya. Tidak pantas jika ia harus baku hantam hanya karena seorang wanita yang telah berkhianat kepadanya.
“Maafkan aku, aku hanya mau menikah dengan orang yang siap membuat aku bahagia,” ucap Kenanga sambil lalu. Seolah semua usaha Satria selama 4 tahun untuk membuatnya selalu tersenyum itu sia-sia belaka.
Padahal, mahar sudah terkumpul dari jerih payahnya sendiri. Rumah peninggalan Ayahnya sepenuhnya adalah hak dirinya. Rumah itu cukup besar untuk ditinggali bertiga bersama ibunya.
“Kalau Kenanga tidak mau tinggal sama Ambu, biar Ambu yang pindah ke rumah Mbah, Satria,” ucap Ambu ketika Satria mengatakan bahwa Kenanga belum siap menikah dengan berbagai alasan.
Ada perasaan sedih yang luar biasa, ketika ia mendengar pernyataan itu. Bagaimana bisa, orang tua satu-satunya yang ia miliki harus tinggal terpisah darinya. Walaupun Ambu selalu berkata bahwa ia bisa menjaga diri karena jimat peninggalan dari ayahnya bisa menjaga keselamatan.
“Ambu tidak akan takut, Ambu bisa hidup tanpa penjagaanmu, Putraku. Jangan khawatir,” katanya lagi.
Satria hanya menggeleng pelan dan memeluk ibunya dengan erat. “Ambu tidak perlu meninggalkan rumah ini. Wanita yang akan kubawa sebagai menantu sudah tidak mencintaiku lagi. Ia memilih lelaki lain yang dianggapnya lebih mampu memahagiakan,” ucap Satria dengan suara parau.
“Kau lelaki. Kalau memang dia tidak ingin bersamamu, jangan pernah menangisinya. Cintanya palsu dan hanya tergiur dengan dunia. Kau tenang saja, Putraku. Dia hanya belum tahu siapa dirimu sebenarnya,” hibur Ambu sambil mengelus rambut putranya penuh kasih sayang.
Satria tersenyum lega, meski perih dalam hatinya masih terasa.
Kini empat bulan sudah Kenanga dipersunting oleh Handika. Lama sekali Satria tidak mendengar kabarnya. Lagi pula, siapa juga yang ingin mendengar kabar menyakitkan itu? Namun, meskipun sakitnya masih terasa, dalam lubuk hati Satria masih tersimpan nama Kenanga. Ya, memang begitulah pria jika sudah terlanjur jatur cinta.
“Sesakit apapu luka yang kau beri, aku masih menyimpan namamu, Kenanga. Aku tak tahu, apakah aku bisa jatuh cinta lagi pada wanita selain dirimu? Ataukah aku akan membujang hingga mati,” gumam Satria di antara gundah gulana.
**
Hari berlalu, dengan dukungan Ambu, satria mulai kembali bersemangat. Entah memang lukanya sudah mulai sembuh atau malah mati rasa dan menjalani hari-hari mengikuti arus kemana hidup membawanya pergi.
Pagi itu Satria pamit hendak berburu jauh ke hutan yang dalam. Mambawa panah dan belati tajam yang sudah sangat lama digantungnya dalam serangka. Ibunya tersenyum lega.
“Ambu senang kalau kamu sudah mulai semangat berburu lagi. Kemampuan memanaghmu pasti sudah bisa mengimbangi kemampuan ayahmu, Nak,” ucap Ambu dengan mata berkaca-kaca. Ada segunduk rindu dan pilu di raut wajahnya. Kerinduan yang tidak akan pernah bisa terobati. Arya Bayaka telah gugur di medan pertempuran ketika melawan gerombolan pengacau desa. Mereka adalah para musuh yang tidak senang dengan pemerintahan bupati Paderi yang menjabat sudah tiga periode lamanya.
Satria tersenyum dan meminta agar Ambu tidak bersedih lagi, “kalau Ambu rindu pada ayah, lihat saja aku. Sebentar lagi aku juga akan sehebat ayah, bahkan aku harus melebihinya,” ucap Satria.
Lelaki usia 25 tahun itu penuh pesona. Tubuhnya yang kekar memang sangat mirip dengan ayahnya di usia itu. Sayang sekali, Satria harus menjadi yatim sejak usianya 8 tahun. Menjadi pembela Bupati yang memiliki ketermapilan bela diri yang mumpuni, Arya Bayaka selalu menjadi target para pemberontak. Sampai pada suatu malam, Arya tewas karena dihunus belati saat sedang tertidur di kamarnya sendirian. Hari itu adalah hari yang sangat memilukan bagi Satria dan Ambunya, Sekar Wangi.

“Satria pamit ya, Ambu,” ucap Satria.
“Hati-hati, Nak. Baik-baik jaga diri!” pesan Ambu.
Belasan tahun berlalu, pemberontak sudah tidak banyak beraksi lagi di desa. Hanya saja berubah wujud menjadi para tengkulak yang tidak punya hati, atau saudagar kaya yang tidak memiliki perasaan membayar upah kecil para pekerja. Seperti bapaknya Handika misal.
Satria berjalan dengan mantap meninggalkan rumah diiringi dengan suara ambu yang tidak berhenti bicara sendiri. Seolah suaminya masih ada. “Lihatlah anak kita, sudah sehebat kamu, Arya. Lihatlah!” serunya dengan senyuman yang penuh kegetiran.
**
Di tengah hutan yang lebat. Satria kelelahan setelah memburu seekor kelinci. Hewan buruan kecil itu memang tidak sebesar rusa, tetapi memang tujuannya mencari binatang kecil saja untuk dimasak berdua dengan Ambu.
Latihan memanah hewan kecil dari jarak yang cukup jauh membuat Satria merasa lelah sendiri. Lalu pikirannya mendadak membayangkan kehadiran seorang istri. Akan sangat senang jika ia bisa membawakan daging kelici dan dimasak oleh istrinya dengan penuh suka cita.
“Ah, tapi Kenanga mana suka daging buruan. Ia kini sudah hidup berkelimpahan dengan makanan yang serba mewah yang disediakan dengan uang banyak dari Handika,” gerutunya kesal pada diri sendiri.
Karena berjalan terlalu jauh ke dalam ke hutan, Satria memilih untuk berhenti sejenak di bawah pohon rindang di tepi sungai. Airnya yang jernih mengalir tenang menandakan kalau sungai itu cukup dalam. Satria bahkan berpikir suatu hari ia akan mencoba berburu ikan dengan panahnya sekalian berlatih di sana.
Satria menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon Dadap yang berdaun lebat. Angin semilir menyapu dedaunan, kicau burung bersahutan membuat telinga Satria begitu nyaman. Diletakannya kelinci buruan yang terbungkus karung goni di sebelah tubuhnya. Tidak terasa ia pun tertidur dengan pulasnya.
**
“Tampan sekali pemuda ini,” sayup-sayup terdengar suara seorang wanita lembut sekali. Terasa sesuatu yang dingin dan lembut mengelus pipi Satria. Antara sadar dan tidak, Satria tetap memejamkan matanya berharap bahwa ini hanya mimpi indahnya siang bolong di tengah hutan.
Namun usapan jari jemari itu semakin lama semakin terasa. Satria pun bisa mendengar helaan napas lembut seseorang di dekat tubuhnya. Perlahan Satria membuka mata, dan lihatlah! Seorang wanita dengan kecantikan luar biasa duduk di hadapannya. Ia mengenakan pakaian serba putih berbahan kain sutra yang lembut. Rambutnya yang berwarna pirang tergerai indah. Di kepalanya terpasang sebuah mahkota berwarna emas dengan hiasan mutiara yang disusun menyerupai bunga.
“Siapakah kamu?” tanya Satria gugup. Ia menjauhkan tubuhnya dari sosok itu.
Gadis itu pun sama terkejutnya. Pipinya memerah membuat rona wajahnya semakin cantik jelita. Tidak bisa dipungkiri, degup jantung Satria berpacu berpuluh kali lipat dari sebelumnya. Bukan hanya cantik jelita, wanita itu juga bertubuh wangi yang membuat Satria terlena.
“Ma- maaf, aku mengganggu tidurmu,” ucap gadis cantik itu dengan terbata. Matanya sayu dengan tatapan yang sendu membuat Satria merasa iba.
“Sepertinya kamu bukan warga Desa Pringkadani. Dari mana sebenarnya kamu berasal?” tanya Satria lagi.
“Namaku Putri Kalynda Nirwana. Aku juga bukan berasal dari bumi. Aku datang dari negeri kahyangan,” jawab gadis itu sambil membetulkan posisi mahkotanya. Seolah ingin memberi tahu bahwa ia benar-benar seorang putri.
Satria menelan saliva nya. Tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Namun jika melihat penampilannya, gadis itu memang sangat berbeda dengan kaumnya. Warna rambut, pakaian dan kecantikannya memang seperti datang dari negeri Kahyangan yang sering digambarkan Ambu dalam dongeng-dongeng sebelum tidurnya masa kecil dulu.
“Apa kau bidadari?” tanya Satria. Tatapan matanya tidak bisa lepas dari wajah cantik itu membuat sang putri semakin tersipu malu.
Dengan obrolan ringan yang semakin akrab, akhirnya Satria tahu kalau Kalynda adalah putri seorang raja langit yang melarikan diri sampai ke bumi karena dijodohkan oleh ayahnya untuk menikah dengan seorang putra mahkota kerajaan Naga yang berperangai buruk.
“Aku tidak mencintainya. Perangainya buruk. Itu yang membuat aku terpaksa melarikan diri sampai ke sini untuk menhilangkan jejak dari ayah dan bala terntara yang sedang memburuku,” ucapnya pilu.
Satria tertegun berusaha mencerna semua yang dikatakan gadis itu. Meskipun cerita Kalynda begitu meyakinkan, tetapi nalarnya belum sepenuhnya bisa menerima. Sampai akhirnya Kalynda memperlihatkan sebuah keajaiban yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Kalynda mampu terbang dan menari di udara. Dengan gerakan yang lemah gemulai, Kalynda mempertontonkan kebolehannya. Membuat mata Satria tidak berkedip sedikitpun.
“Sekarang kamu percaya kan?” tanyanya setelah kembali menurunkan kakinya yang berwarna putih pucat ke tanah dan berdiri di hadapan Satria.
Satria mengangguk yakin.
**
Ambu hanya tersenyum ketika Satria panjang lebar menjelaskan bahwa Kalynda adalah manusia dengan jenis yang berbeda. Bagi dirinya kisah itu bukan sekadar kisah dongeng khayalan belaka. Sosok manusia Kahyangan memang benar adanya. Bahkan salah satunya pernah membuatnya berterima kasih berkali-kali karena menolong nyawa Arya Bayaka saat kalah dalam pertempuran dengan gerombolan jahat. Namun sayang, sosok itu terlambat datang ketika Arya Bayaka suaminya tewas malam itu.
“Jadi Ambu percaya?” tanya Satria antusias.
Ambu mengangguk. Lalu, “tinggallah di sini untuk beberapa hari. Sampai kamu mempunyai alasan untuk kembali kepada keluargamu nanti,” ucap Ambu kepada Kalynda.
Hari berganti, Kalynda dan Satria semakin sering melakukan kegiatan bersama. Berburu, memancing ikan di sungai, bertani, membantu Ambu di ladang dan banyak lagi. Membuat putri Kayangan itu mulai terbiasa menjadi sosok manusia bumi yang sama dengan Satria. Sampai suatu hari, Kalynda menyatakan perasaannya kepada Satria dan mengatakan bahwa ia tidak ingin kembali lagi ke negeri langit.
Kenyataan itu membuat Ambu senang sekaligus berat hati. Senang karena akhirnya Satria bisa memiliki tambatan hati lagi. Ambu bisa melihat dari binar mata Satria ketika memandang Kalynda; tatapan tulus yang penuh cinta. Ambu bisa melihat hati Satria yang sempat mati kini sudah hidup kembali bahkan bersemi indah sekali.
Namun satu sisi, jika sampai hal itu diketahui negeri Kahyangan, maka bersiaplah semua akan hancur berantakan. Kahyangan tidak akan pernah memberi restu jika kaumnya menikah dengan mahluk bumi.
Sejak saat itu, hari-hari Ambu dihantui rasa takut dan khawatir yang tidak berujung. Sementara Satria dan Kalynda malah mantap untuk meresmikan jalinan kasihnya menjadi sepasang suami istri. Mereka bertekad akan pergi ke langit untuk meminta restu sang raja agar pernikahan nya jauh dari bencana.
Maka sebagai seorang ibu yang tidak mungkin mematahkan cinta di antara putra dan kekasihnya, Ambu alias Dewi Sekar Wangi bertekad untuk kembali kepada wujud aslinya sebagai wanita sakti mandraguna dan melatih sang putra bertarung utuk penjagaan diri dan keselamatannya di perjalanan menuju kerajaan langit.
Kalynda merasa bahagia dan ia pun tidak berhenti melatih kebolehan yang dimilikinya sebagai persiapan kembali ke negeri asalnya.
**
Berkat ketekunan Ambu/Dewi Sekar Wangi, Satria dan Kalynda kini menjelma menjadi sepasang kekasih yang memiliki kesaktian luar biasa. Kemampuan bertarung mereka sudah jauh dari layak untuk pergi ke tempat yang jauh. Meskipun semua orang tidak akan pernah bisa menduga bahaya apa yang akan menimpa mereka di atas sana.
Ambu menitipkan jimat pemberian Arya Bayaka sang ayah untuk dijadikan senjata sakti ketika ada dalam situasi mendesak.
“Ingat anakku, jimat ini hanya akan berfungsi ketika kamu mampu menggunakannya dengan hati yang tulus dan suci. Jika sedikitpun ada benci dan dendam atau apapun hal buruk yang menghinggapi hatimu, maka sama sekali jimat ini tidak akan berarti apa-apa,” ucap Ambu sebelum keduanya pergi meninggalkan desa di pagi buta.
“Terima kasih, Ambu. Karena sudah setangguh dan sehebat itu mengajarkanku,” ucap Satria. Dengan berat hati Satria melangkahkan kaki mengikuti Kalynda setelah sebelumnya memeluk erat tubuh Ambu yang sudah kembali kepada sosok aslinya. Seorang perempuan tua biasa-biasa yang sangat dicintainya.
Selepas kepergian Satria dan Kalynda, ada doa-doa yang tidak berhenti dipanjatkan kepada Sang Maha Kuasa dari mulut Dewi Sekara Wangi. Berharap putranya selamat menghadapi tantangan sepanjang perjalanan menuju kerajaan langit.
Ya, tantangan itu tentu tidak akan mudah. Sekar Wangi sangat memahaminya. Pengalaman beberapa tahun ke belakang telah memberinya banyak sekali pelajaran. Namun kali ini ia harus mempercayakan semuanya. Bahwa Satria putranya akan mempu melewati semuanya. Karena pemuda itu memiliki hati yang tulus luar biasa.
**
Rintangan demi rintangan bisa dilewati dua sejoli yang sedang memperjuangkan restu untuk cinta mereka. Tentara kerajaan langit pun tidak semua patuh kepada perintah raja untuk melenyapkan siapa saja yang berani memasuki wilayah mereka. Beberapa tentara bersikap lembut dan tunduk ketika mengetahui bahwa yang datang bersama “manusia bumi penyusup” itu adalah putri mahkotanya sendiri.
“Mohon izin, Tuan Purti. Apakah manusia bumi yang datang bersama Anda tidak akan membuat Baginda Raja murka?” tanya salah seorang tentara mengingatkan dengan penuh tatakrama.
“Aku yang menjamin. Kalau dia tidak akan membahayakan kerajaan kita,” jawab putri Kalynda dengan kesungguhan.
Pintu demi pintu langit terbuka setiap lapisannya. Sampailah pada lapisan terakhir menuju kerajaan. Seorang pria bertubuh kekar dengan secepat kilat menyambar tubuh putri dan mencengkramnya dengan erat. Tangannya yang besar berotot memegang kasar rahang sang putri, hingga wanita cantik itu meringis kesakitan.
“Lepaskan aku, Pangeran!” pekik putri Kalynda.
Satria memasang kuda-kuda siap menyerang dan menolong Kalynda. Rupanya sosok tersebut adalah putra mahkota kerajaan Naga yang akan dijodohkan dengan kekasihnya.
“Tahan gerakanmu, Satria. Jangan buang energimu! Kau tidak akan mampu melawan manusia ini,” sergah Kalynda ketika menyadari bahwa kekasihnya sedang bersiap menyerang Rahwa pria keji yang kini sedang mencengkramnya.
Satria menahan langkah tetapi masih dalam posisi kuda-kuda. Ia kembali teringat bahwa jika terlalu banyak menggunakan kekuatan ia tidak akan bisa bertahan lama untuk berada di negeri yang berbeda dengan negeri asalnya. Ia tidak boleh gegabah. Kemampuan untuk bisa datang ke negeri langit pun berkat Kalynda yang rela membagi energinya sebelum mereka naik dari bumi tempo hari.
“Jadi ini pria yang telah membuatmu lari dan menghilang dari langit, hah?” tanya Rahwa dengan suara yang menggelegar. Suaranya memekikan telinga. Orang biasa tidak akan mampu mendengarkan suaranya yang seperti guntur di tengah badai.
“Aku tidak akan membiarkan kerajaan dan rakyatmu hidup dengan tenang, karena kau dan ayahmu sama saja. Kalian sama-sama pembohong!” ucapnya lagi dengan murka. Sekonyong-konyong Rahwa melempar tubuh putri Kalynda hingga berdebam di hamparan awan yang keras .
Sejenak kemudian, Rahwa bergegas terbang meninggalkan Kalynda yang meringis menahan sakit. Satria langsung menghampirinya penuh iba.
“Kita harus bergegas menemui ayahanda. Rahwa pasti marah besar. Aku khawatir peperangan akan terjadi. Sebelumnya aku tidak mengira kalau Rahwa ada di langit kerajaaku dan menemukan kita sebelum kita sampai di istana,” ujar Kalynda dengan terengah-engah menahan efek rasa sakit yang ditimbulkan dari bantingan Rahwa.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Karena rasa cintaku, negaramu mungkin hancur berantakan,” keluh Satria pilu. Suaranya yang pilu itu menimbulkan getaran perlahan di antara awan-awan. Membuat mahluk-mahluk yang ada di sana berterbangan menghindari tempatnya berdiam.
Menyadari bahwa getaran itu berasal dari kepiluan dari hati Satria, Kalynda segera mengingatkan.
“Tahan sedihmu. Tidak ada yang harus ditakutkan, Sayang. Selama aku masih bersamamu dan selama ada cinta di hati kita yang saling berpaut satu sama lain, maka semua akan baik-baik saja bukan?” ucap Kalynda dengan penuh kelembutan seraya menyentuh pipi Satria membuat pemuda itu kembali tenang. Getaran pelan semacam gempa bumi pun kembali reda.
Dengan sisa kekuatan, Kalynda dan Satria melanjutkan perjalanannya ke kerajaan.
**
Kedatangan putri raja disambut dengan tangis haru sang ibunda, wanita cantik yang hampir sama mudanya dengan sang anak. Mungkin di Kahyangan tidak akan ada orang yang terlalu tua. Semuanya bertubuh indah persis seperti manusia-manusia negeri dongeng yang sering dibahas Ambu atau yang diidamkan oleh Kenanga untuk bertemu sosok itu ketika mereka bercerita bersama dulu.
Namun ini bukan dongeng Ambu. Bukan pula khayalan Kenanga wanita tidak setia itu. Kini semua di depan mata Satria. Berkali-kali ia mencubit dan menampar pipinya sendiri. Sudah sejauh itu perjalanannya, masih saja ia belum percaya bahwa itu nyata. Kerajaan yang megah berdiri di atas hamparan awan dengan ornamen-ornamen yang indah.
Raja dan ratu dengan pakaian yang indah, serta pelayan-pelayan yang langsing, tinggi dan cantik nyaris sama bentuknya. Para pengawal tidak ada satupun yang bertubuh gemuk bahkan tua. Semuanya tampak seusia dirinya, usia sekitar 25.
Berada di antara pengawal, Satria merasa minder sendiri. Kulitnya yang berwarna sawo matang kalah jauh dengan para pengawal yang memiliki kulit terang dengan bola mata biru yang indah. Ya, semuanya serba rupawan.
Sesampainya di kahyangan, Kalynda pun beratus kali berubah menjadi jauh lebih cantik karena telah berganti pakaian dengan secepat kilat seperti sihir. Satria dibuat melongo menyaksikan semuanya. Memancing tawa sang ratu yang diam-diam mengamatinya dari kejauhan.
“Pemuda itu terlihat sangat polos,” gumam ratu pada suaminya yang sejak tadi termenung seperti memikirkan sesuatu yang serius.
Ratu dan raja adalah pasangan orang tua yang tidak pernah membiarkan putri Kalynda anak semata wayangnya menderita. Ia akan melakukan segala hal yang terbaik demi kebahagiaan putrinya. Namun karena merasa kerajaan dan rakyatnya terancam, ia terpaksa menyepakati perjodohan Kalynda dengan Rahwa putra mahkota kerajaan pesaingnya.
Tindakan itu adalah tindakan terkejam yang dilakukannya kepada sang putri. Sampai Kalynda melarikan diri karena sakit hati dengan perlakuan sang ayah dan tidak mau dijodohkan dengan pria kejam seperti Rahwa.
Kini lelaki itu bergeming, semakin tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah tahu bahwa putri satu-satunya malah pulang dengan pria dari alam yang berbeda. Berbagai bayangan kekacauan menyelimuti kepalanya. Ia pun berdiri dalam gamang. Jika ia sampai memenuhi keinginan sang putri untuk menikahi bangsa manusia bumi, maka seluruh rakyatnya akan menjadi korban pemerasan dan kekejian Rawa yang selalu menghalalkan segala cara demi kekuasaan.
“Hamba mengaku salah, Ayahanda yang mulia. Hamba ke sini hanya ingin mohon restu dari ayahanda dan ibunda. Biarlah hamba dikutuk menjadi manusia bumi yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Diusir dari istana tidak mengapa, karena hidup bersama pria seperti Satria jauh lebih membuat hamba merasa tenang daripada bersama pria keji seperti Rahwa,” tangis putri Kalynda kepada kedua orangtuanya.
Air mata sang raja menetes penuh kedukaan. Ia benar-benar berada dalam pilihan yang sangat sulit. Antara memilih rakyat dan putrinya sendiri.
Satria lalu berlutut dan menyatakan kesiapannya untuk menanggung hukuman dari raja asalkan diberikan izin untuk menikahi putrinya.
“Hamba siap dihukum menjadi apapun asalkan hamba bisa selalu dekat dan melihat putri Anda tersenyum, Tuan. Hamba sadar hanya sebagai manusia biasa. Hamba mohon ampun yang sebesar-besarnya, Tuan. Hamba telah lancang memadu kasih dengan putri,” ucap Satria dengan penuh harap.
“Siapa orang tuamu, Nak?” tanya raja lembut.
Raja dan ratu terkesiap ketika ia mendengar nama Arya Banaka dan Dewi Sekar Wangi disebut. Bagi bangsa langit, nama makhluk bumi pemilik kekuatan dahsyat yang timbul dari ketulusan hati itu sudah tidak asing lagi. Raja dan ratu saling tatap. Dan akhirnya merestui jalinan cinta mereka.
Satria dan Kalynda bersimpuh penuh syukur dan berterima kasih kepada raja dan ratu. Bayangan masa-masa indah dan binar wajah Ambu di bumi pun terbayang sudah ketika mereka benar-benar bisa bersatu dan hidup bahagia di bumi.
**
Pesta pernikahan digelar secara sederhana. Penduduk negeri langit di bawah kekuasaan raja hanya diambil perwakilan. Sebagian lagi dikirimi makanan sebagai bentuk syukur dan pengganti pesta secara sembunyi-sembunyi. Tidak lupa raja menyisipkan pesan agar semua rakyatnya mendoakan kebahagiaan sang putri dengan suaminya. Raja berjanji akan menggelar pesta besar-besaran yang mengundang rakyat secara terbuka dalam waktu yang belum bisa ditentukan.
Namun di tengah gelaran pesta sederhana itu, tiba-tiba guntur menyambar menyebabkan kaca-kaca dan benda yang terbuat dari kristal pecah. Istana terbakar di beberapa bagian. Suasana pesta menjadi carut marut. Serangan dari kerajaan Naga di bawah pimpinan Rahwa datang tanpa diduga.
Raja memohon agar Satria menyelamatkan ratu dan putri Kalynda. Lelaki oaruh baya itu menghadapi musuh sendirian dan Satria membawa lari putri dan ratu ke tempat aman atas petunjuk raja.
Pertempuran tidak bisa dihindarkan. Sang raja berkelahi dengan mengerahkan segala kekuatannya. Namun tentara yang diutus Rahwa adalah tentara pilihan. Mereka begitu kuat bukan tandingan. Bala tentara kerajaan Kalynda berguguran. Tinggalah ia dan dua orang wanita yang harus benar-benar diselamatkannya.
Di tengah perjalanan pelarian, ratu meminta berbalik arah. Ia ingin menemui suaminya karena khawatir sang raja gugur dalam pertempuran. Kalynda juga demikian ia khawatir akan kehilangan sang ayah yang sangat dicintainya.
Satria bergeming penuh sesal karena ego dan cintanya, kerajaan Kalynda menjadi kacau balau. Namun ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa mengatakan, “aku akan kembali kepada kalian dengan membawa raja hidup-hidup dalam keadaan selamat. Berjanjilah untuk tetap bersembunyi di tempat yang aman jangan sampai Rahwa atau bala tentaranya menemukan kalian,” pesan Satria.
Kemudian ia pergi secepat kilat menuju medan peperangan.
Ketika Satria sampai di pertempuran yang kacau, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Rahwa. Pria biang kerok yang menjadi sebab pertempuran ini terjadi.
Setelah netranya menemukan sosok itu ia langsung menghampirinya dengan gagah berani. Rahwa yang sedang murka menendang, dan menghajar Satria habis-habisan. Namun Satria tetap tenang menggunakan jurus-jurusnya. Meskipun luka memar di sekujur tubuhnya, ia masih berusaha bangkit untuk melawan Rahwa.
Namun apa mau dikata, Rahwa adalah sosok pria yang bertubuh lebih besar. Belum lagi, kemampuan bertarung yang dimilikinya tidak sebanding dengan kekuatan Rahwa. Satria tersungkur di antara reruntuhan bebatuan istana dengan tersisa setengah kesadarannya.
Tidak lama kemudian, telinganya menangkap sebuah suara. Rintihan tangis dari dua orang wanita. Kalynda memanggil namanya berulang kali sambil meminta pertolongan. Satu lagi tangisan ratu yang mengeluhkan kehancuran negara dan rakyat-rakyatnya yang ikut gugur.
Satria perlahan membuka mata. Di depan mata kepalanya sendiri, kehancuran begitu nyata. Pertempuran sudah usai dan Rahwa berdiri di ujung arena dengan bangganya. Di sampingnya Kalynda berdiri sebagai tawanan. Tangannya diikat rantai. Gadis itu tertunduk lesu penuh kesedihan. Kalynda tidak berhenti memanggil nama Satria meminta pertolongan. Satria yang lemah, bertambah semakin lemah dibuatnya. Setiap lengkingan suara Kalynda memanggil, setiap kali itu pula perih di jiwa Satria semakin terasa.
Rahwa berbicara dengan lantang, bahwa mulai hari itu kerajaan Kalynda adalah miliknya. Semua rakyat termasuk raja dan ratu harus tunduk kepadanya. Karena sebentar lagi ia akan menikahi Putri Kalynda. Karena raja dan ratu dinilai curang, maka seluruh kerajaan kini menjadi di bawah kekuasaannya.
Ada perih yang teramat perih. Jauh beratus kali lipat saat ia ditinggal pergi Kenanga yang lebih memilih Handika di bumi. Kini, Rahwa mengambil istri yang sangat dicintainya dalam keadaan yang masih suci.
Rahwa memeluk tubuh Kalynda di depan semua orang. Bahkan, Rahwa telah memerintahkan para punggawa untuk menyiapkan pesta pernikahan. Suaranya menggelegar memenuhi langit.
Satria berusaha bangkit, tetapi tubuhnya yang remuk terasa begitu sulit untuk berdiri. Ia hanya bisa bergerak perlahan mendekati raja dan ratu yang sama luluh lantaknya. Sementara Kalynda dibawa pergi oleh Rahwa tanpa bisa dihentikannya.
**
“Aku titipkan putriku padamu, kuatlah wahai anak muda,” ucap raja dengan suara terbata. Raja itu tampak begitu iba mendapati Satria yang lemah tiada berdaya.
“Terlalu banyak yang sudah kami korbankan. Seluruh rakyat dan semua kerajaan. Jangan sampai kau pun harus kehilangan satu-satunya yang sangat berharga. Kuatlah!” ujar ratu. Entah mengapa itu terdengar seperti suara Ambu.
Satria menangis tersedu. Lalu bersimpuh di hadapan Raja dan ratu. Bahunya berguncang keras. Lalu Satria berteriak dalam tangisannya, melepaskan segala beban yang bersarang menysakkan dadanya. Di saat yang bersamaan, istana bergetar kencang dibuatnya.
“Wahai raja dan ratu, akulah penyebab semua ini. Akulah penyebab kehancuran ini. Akulah yang pantas kau hukum seberat-beratnya andai nanti aku tidak bisa menyelamatkan sang putri. Hukumlah aku, hukumlah aku!” pinta Satria dengan tangisan yang semakin pecah. Perasaannya bercampur aduk antara rasa sesal karena telah menjadi penyebab kehancuran seluruh kerajaan dan sakit pedih karena Rahwa telah mengambil istrinya.
Suaranya tangisannya yang pilu semakin memekik. Sisa-sisa reruntuhan terbenam ke dasar langit, dan langin mendung seketika. Guntur menggelegar lebih dahsyat dari serangan guntur ketika Rahwa dan tentaranya datang. Seluruh penduduk kerajaan yang masih hidup dan tersadar merinding ketakutan.
Satria telah mengeluarkan jimat pemberian ibunya. Hatinya yang pilu dan rasa cintanya yang begitu tulus kepada putri Kalynda telah membuat kekuatan terbesarnya muncul. Secepat kilat Satria terbang melesat menuju keberadaan Rahwa. Ia menghajar pria keji itu dengan seluruh kekuatan. Tanpa ampun dan membuat Rahwa yang terkenal sebagai pria terkuat di seantero langit ambruk luluh lantak dan bersujud di hadapannya.
“Ampuni aku. Kini aku tahu, ada pria yang lebih kuat dariku dan memang pantas menjadi lelaki yang bisa menjaga putri Kalynda seumur hidupnya. Aku yang juga memiliki cinta untuknya tidak pernah bisa menunjukkannya dengan benar. Sungguh aku malu kepadamu,” ucap Rahwa penuh penerimaan.
Purti Kalynda berhambur ke pelukan Satria. Raja dan ratu tersenyum lega. Peperangan telah usai. Rahwa menghembuskan napas terakhir setelah sebelumnya berikrar bahwa seluruh kerajaan diserahkan kepada Satria.
**
Satria telah menjadi raja. Pria bumi pertama yang berkuasa di alam lain karean kekuatan cinta. Beberapa bulan kemudian Kalynda mengandung dan melahirkan anak kembar yang tampan dan cantik jelita. Satria berjanji, suatu hari akan dibawa turun ke bumi bertemu Ambunya.
Turun ke bumi, dari Ambu mereka mendapatkan kabar. Bahwa Kenanga hidup dalam penderitaan. Karena nyatanya Handika juga menjelma menjadi pria keji seperti Rahwa. Namun tentu saja itu versi manusia bumi. Membuat Kenanga tidak berhenti menyesali pilihan hidup yang telah diambilnya.
*Cerita fantasi ini sudah tayang di media online Pisau Sastra
