Sore itu, teras Masjid Al-Musafir sudah sesak. Udara pengap bercampur dengan aroma gorengan yang menguar dari piring-piring plastik di depan jamaah. Jam di dinding menunjukkan pukul 17.40. Sepuluh menit menuju kebebasan, atau bagi Aris, sepuluh menit menuju keselamatan nyawanya dari perih lambung yang sudah berteriak sejak ashar.
Di mimbar, berdiri Pak Kyai Sobirin. Beliau adalah sosok yang sangat dihormati, namun punya satu kelemahan fatal: beliau tidak punya sensor waktu jika sudah memegang mikrofon.
“Bapak-bapak dan anak-anakku sekalian,” suara Pak Kyai menggema, berat dan berwibawa. “Sore ini, saya hanya ingin menyampaikan kultum singkat saja. Lima menit, insyaAllah.”
Aris bernapas lega. Ia melirik kurma di depannya. Hanya lima menit. Aku pasti kuat, batinnya menyemangati diri sendiri.
Namun, menit ketiga berlalu, dan Pak Kyai baru saja menyelesaikan mukadimah yang panjangnya seperti silsilah kerajaan. Memasuki menit kelima, bukannya menyudahi, beliau justru membuka sebuah kitab kecil.
“Tadi saya katakan lima menit, tapi ada satu hal krusial tentang keutamaan sabar yang harus kalian dengar. Dalam kitab ini disebutkan…”
Aris menelan ludah. Rasa haus di kerongkongannya kini terasa seperti aspal kering yang pecah-pecah. Di sebelahnya, seorang bapak tua sudah mulai memejamkan mata, kepalanya terangguk-angguk kecil, entah karena khusyuk atau karena glukosa di otaknya sudah di titik nol.
“Pak Kyai, ini sudah menit kedelapan,” bisik Aris sangat pelan, nyaris seperti desisan ular, yang tentu saja tidak terdengar sampai ke mimbar.
Pak Kyai justru semakin bersemangat. “Sabar itu, anak-anakku, ada tiga tingkatan. Yang pertama adalah sabar dalam ketaatan. Nah, seperti kalian sekarang ini. Menunggu berbuka itu adalah ibadah yang paling berat bagi nafsu…”
Memang berat, Pak Kyai! Apalagi kalau nunggu Bapak berhenti bicara! jerit batin Aris.
Memasuki menit kedua belas, jamaah mulai gelisah. Suara kresek-kresek plastik pembungkus makanan mulai terdengar di sana-sini. Anak-anak kecil di barisan depan sudah mulai menjilat bibir, menatap gelas teh manis dengan pandangan predator.
“Duh, bumbunya rendang di piring sebelah aromanya sampai ke hulu hati,” bisik seorang pemuda di belakang Aris.
“Sst, dengerin dulu. Sebentar lagi juga kelar,” sahut temannya, meski nadanya terdengar ragu.
Pak Kyai Sobirin nampaknya sedang berada di puncak pencerahan. Beliau kini masuk ke sub-bab kelima tentang sabar dalam menghadapi cobaan. “Cobaan itu bisa berupa apa saja. Bisa berupa harta, bisa berupa sakit, atau bisa berupa… waktu yang terasa sempit.”
Aris melirik jam tangan. 17.52. Delapan menit menuju adzan, dan Pak Kyai baru saja memulai sebuah analogi tentang kisah Nabi Ayub AS.
“Bayangkan Nabi Ayub, beliau sakit bertahun-tahun tetap sabar. Masa kita baru nunggu beberapa belas menit saja sudah goyah?” ujar Pak Kyai sambil tersenyum tenang ke arah jamaah yang kini nampak seperti zombi kelaparan.
Aris merasakan amarah yang halus mulai merayap. Ia merasa Pak Kyai tidak empati. Ia merasa waktu miliknya “dicuri”. Namun, di tengah gejolak itu, ia menatap wajah Pak Kyai. Wajah itu nampak tulus. Beliau berbicara dengan keringat yang menetes di dahi, suaranya parau, dan Aris sadar—beliau juga sedang berpuasa. Beliau yang jauh lebih tua darinya, sedang berdiri tegak menguras tenaga demi menyampaikan kebaikan, sementara Aris hanya duduk manis menunggu disuapi makanan.
Seketika, rasa malu menyelinap di antara rasa laparnya.
Ya Allah, aku ini hamba macam apa? bisik Aris dalam hati. Aku meminta pahala puasa sebulan penuh, tapi mendengarkan nasihat agama sepuluh menit saja hatinya sudah menggerutu. Aku sabar menahan makan sejak subuh, tapi kenapa aku gagal sabar menunggu adzan hanya karena satu ceramah?
Aris memperbaiki posisi duduknya. Ia mencoba meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Pak Kyai. Ia tidak lagi melihat jam. Ia mencoba melihat “isi” dari kesabaran yang sedang diajarkan secara praktik itu.
Tepat pukul 17.59, Pak Kyai menutup kitabnya. “Demikianlah, semoga kita termasuk golongan yang sabar. Mari kita berdoa.”
Doa dipanjatkan. Dan saat kata “Aamiin” terakhir diucapkan, adzan maghrib berkumandang dengan gagah.
Aris meminum seteguk air putih. Rasanya jauh lebih nikmat dari biasanya. Bukan karena ia sangat haus, tapi karena ia merasa air itu membasuh noda ketidaksabaran di hatinya.
“Gimana, Ris? Lama banget ya tadi? Kultum lima menit tapi rasanya sejam,” goda temannya sambil menyantap bakwan.
Aris tersenyum, kali ini senyumnya tulus. “Nggak apa-apa. Tadi itu bukan cuma ceramah, tapi ujian praktikum sabar. Ternyata, kalau hatinya nggak sabar, lima menit memang bisa terasa sejam. Tapi kalau kita ikhlas, sejam pun cuma terasa seperti tarikan napas.”
Ia menatap Pak Kyai Sobirin yang sedang dikerumuni anak-anak untuk bersalaman. Di mata Aris, Pak Kyai tidak lagi terlihat seperti penceramah yang lupa waktu, melainkan seorang guru yang sedang memberikan ujian terakhir sebelum hadiah berbuka dibagikan.
Kesabaran sesungguhnya bukan terletak pada berapa lama kita mampu menunggu, melainkan pada bagaimana sikap hati kita saat menunggu itu berlangsung. Terkadang, Tuhan sengaja memperlama penantian kita hanya untuk menunjukkan seberapa banyak noda gerutu yang masih tersisa di dalam dada.
( Cerita ini hanya fiktif. Kesamaan nama tokoh dan tempat adalah ketidak sengajaan)
