Sore itu saat Akmal sedang sibuk-sibuknya membantu karang taruna mempersiapkan persiapan perlombaan esok hari. Aku menghampiri Akmal dan berniat basa-basi saja. “Halo Mal apa kabar? Gimana nih progress perempuan yang fotonya sempat kamu unggah di sosial media?” tanyaku, berharap mereka akan segera melangsungkan janji suci pernikahan.
Akmal tersenyum padaku, dia memegang pundakku dan menatap dalam. Mengangguk, tersenyum, memberi isyarat dengan mengacungkan jempol. Setelah aku mengangguk tanda mengerti, Akmal memberikanku isyarat.
Dia memberikan kode dengan mengacungkan 5 jari kiri, dan satu ibu jari kanannya. Isyarat angka 6 yang kutangkap di kepalaku. Aku sedikit tertegun, lalu mengiyakan semua yang Akmal sampaikan.
Tanpa kusadari di belakang kami ternyata ada Bu Diah memperhatikan komunikasi kami. Aku lantas menerjemahkan apa yang di sampaikan Akmal, aku mengoreksinya langsung di hadapannya. “Apa Mal? Kamu mau nikah tanggal 6 nanti?” Tanyaku sambil mebgerinyitkan dahi.
Bu Diah lantas tertawa melihatku menerjemahkan semua isyarat dari Akmal. “Intan, itu si Akmal minta hadiah. Sawer katanya, mentang-mentang mau nikah ya.” Seketika Akmal melepaskan tangannya pandangannya dariku dan dia terkekeh malu.
Akmal adalah sahabatku sejak kecil, kata orang-orang tua di sekelilingku sebenarnya di masa balita Akmal mulai bisa berbicara. Tapi entah apa yang salah saat pertumbuhannya, yang jelas Akmal kesulitan berkomunikasi sampai sekarang. Sekolah Akmal sebenarnya SDnya formal sama seperti kami di kampung.
Namun setelah SMP dan SMK Akmal memutuskan untuk masuk ke SLB yang tempatnya jauh dari kampung kami. Akmal anak yang cerdas dan sangat pandai, meskipun cara komunikasinya yang terbatas tapi teman-teman tak bisa memungkiri dia adalah pebisnis yang andal. Akmal adalah pedagang buah, pengepul barang bekas, pengangkut pupuk dan beras, dan banyak lagi pekerjaan yang ia jajal.
Seketika teringat, bahwa Akmal serinng mengungkapkan padaku kalau dia menyukai beberapa perempuan kampung kami. Tapi Akmal hanya mengungkapkannya saja, dia tak pernah mengajak siapapun berpacaran. Sebab atas kekurangannya Akmal sangat menyadari kalau dia tidak mudah diterima.
Aku menggunakan bahasa isyarat mengingatkan dia pada hal-hal jail yang dilakukannya pada perempuan yang disukainya dulu. Dia tertawa, mengangguk-angguk dan menggerakan jari dan tangannya mengungkapkan kalau aku harus berhenti membahasnya sebab dirinya akan segera menikah. Ia berharap hal itu jadi rahasia kami saja, tak usah orang lain tahu. Apalagi calon istrinya.
Kami lantas bernostalgia dengan beberapa gerakan tangan yang saling kami pahami. Beberapa pemuda teman Akmal memang tahu dan hampir hafal betul beberapa bahasi isyarat yang diajarkan untuk komunikasi dengan tuna wicara, kami diajarkan Akmal sambil bercanda. Akhirnya kami banyak memahami apa yang dia sendiri sampaikan.
Di akhir percakapan aku menjabat tangannya “Selamat ya Mal, Alhamdulillah aku ikut seneng. Siap Insa Allah aku datang.” Ucapku pada Akmal sore itu. Aku lantas berpamitan dan mengajaknya beristirahat terlebih dahulu.
“Sudah Mal, sudah sore ini. Kita istirahat dulu ya, makan dan tiduran sebentar untuk tenaga kita yang baru besok.” Pintaku padanya. Akmal hanya menggerakan alisnya sedikit tanda setuju.
Entah mengapa, sejak kecil aku seperti mudah mengerti apa yang dia sampaikan. Bahkan ketika mendengarkan aku curhat pun Akmal sangat telaten memahamiku, dia mengangguk dan selalu menyampaikan informasi yang dia dapat. Anehnya meski tanpa bantuan gerakan isyarat aku juga sangat mengerti apa yang Akmal sampaikan hingga hari ini.
Lima hari berselang, setelah aku bertemu dengan Akmal. Tiba waktunya Akmal menikahi seorang perempuan yang rumahnya jauh dari desa kami. Aku ikut bahagia mendengarnya, kabarnya perempuan itu adalah seseorang yang memiliki keistimewaan yang sama dengannya.

Mereka saling mencintai, menjalani hubungan dengan bahasa isyarat dan bahasa cinta mereka. Akmal pernah memberi penjelasan padaku kalau dia memang bisa jatuh cinta pada banyak perempuan, namun Akmal tidak pernah memaksa untuk meminta perempuan itu menerima dirinya beserta cintanya. Cukup mereka hanya sekedar tahu, kalau Akmal punya perasaan yang istimewa.
Akmal sering memendamnya dalam diam, tidak pernah mengungkapkan, tidak pernah ditunjukkan dengan gesture yang berlebihan pula. Jika orang lain saat bertemu dengan seseorang yang disukai akan salah tingkah dan mengubah perilakunya,berbeda sekali dengan Akmal yang justru saat ia jatuh cinta ia akan malu-malu. Menariknya, Akmal akan sangat menjaga perasaan seseorang yang ia cintainya, Akmal tak mau gadis-gadis yang dicintainya diolok-olok teman lain dengan julukan “Dicintai Si Gagu”
Sekarang Akmal menemukan kesempurnaan dan kehangatan itu sendiri. Akmal bagiku adalah sosok sahabat, keluarga, dan hati yang mendengarkan dalam kesunyian. Meskipun respon yang dia berikan padaku sering tak seberapa, tapi justru ketika dia memiliki keterbatasan dalam bicara aku merasa tidak dihakimi. Sebab aku hanya butuh didengar dan diperlakukan dengan baik.
Akmal melakukan hal itu padaku dengan sangat sempurna. Aku yakin, pasti perempuan yang beruntung mendapatkan hati Akmal itu mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari Akmal. Saat akad nikah Akmal ditemani oleh penerjemah, suasananya sangat hening dan tenang.
Akmal dituntun dengan isyarat yang pelan-pelan dan khidmat. Akmal terlihat sangat bahagia, ia tersenyum sambil menganggukan kepala, berdoa tanda khusyuk. Aku sangat bangga, akhirnya Akmal menemukan pasangan yang selama ini ia nantikan.
Wanita yang menerima dirinya dengan segala kurang dan cintanya yang penuh. Di tengah banyaknya penolakan perempuan-perempuan di sekitar, Akmal ternyata menemukan kehangatan itu di tempat yang jauh. Aku di sini selalu berdoa untuk semua yang kamu impikan, sekarang kamu telah menapaki babak dan jejak baru di kehidupan kamu yang sekarang.
Terima kasih atas telinga dan cerita yang hangat selama ini. Meski sunyi, tapi hal itu akan tetap hangat. Peluk istrimu erat-erat, berikan kehangatan yang lebih daripada kamu memberikan kehangatan pada orang lain.
