Bagi Bambang, Ramadan bukan sekadar bulan suci; itu adalah program diet kilat yang direstui semesta. Selama sebelas bulan ia gagal total menaklukkan perut buncitnya. Segala macam diet—dari Keto sampai ‘Diet Tidak Makan Apa-apa’—selalu kandas di hadapan aroma mi instan rebus di tengah malam.
“Bulan ini adalah pembuktian,” gumam Bambang di depan cermin, menatap perutnya yang bergelambir dengan penuh tekad. “Empat belas jam tidak makan. Logikanya, berat badanku pasti turun drastis. Lebaran nanti, celana jeans jaman kuliah harus muat!”
Sahur pertama. Bambang hanya makan sebutir telur rebus, satu buah pisang, dan dua gelas air putih. “Protein dan serat,” katanya pada istrinya, Ratna, dengan nada sok tahu. “Biar tahan lama dan pembakaran lemak maksimal.”
Siangnya, di kantor, Bambang adalah juara bertahan kesabaran. Saat teman-temannya yang tidak berpuasa (atau yang pura-pura tidak berpuasa) diam-diam ngopi, Bambang hanya tersenyum meremehkan. “Hawa nafsu,” batinnya, merasa imannya setebal tembok Berlin.
Ia membayangkan metabolisme tubuhnya sedang bekerja keras, memakan cadangan lemak di perutnya dengan sangat efisien. “Bagus, makanlah lemak-lemak itu,” bisiknya, seolah-olah sedang berbicara pada pasukan kecil di dalam tubuhnya.
Pukul 16:30. Pertahanan tembok Berlin itu mulai retak. Penyebabnya adalah satu kata: Ngabuburit.
Bambang, yang seharusnya pulang ke rumah dengan tenang, justru memutuskan untuk melewati pasar takjil terbesar di kampungnya. Itu adalah kesalahan strategis terbesar dalam sejarah dietnya.
Udara sore itu tidak lagi berisi oksigen; itu adalah campuran mematikan dari aroma kolak pisang, tempe mendoan panas, es campur serut, dan ayam bakar bumbu rujak.
“Cuma lihat-lihat,” kata Bambang pada dirinya sendiri. Tapi matanya berkilat liar. Ia merasa perutnya bukan lagi lapar, tapi sedang melakukan kudeta militer.
Ia melihat penjual gorengan, dan dalam pikirannya, tempe mendoan itu tersenyum manja padanya. Ia melihat es campur, dan bayangan kelezatan kuah santan gula arennya membuatnya hampir pingsan. Niat dietnya mulai goyah, digantikan oleh satu dorongan primal: Balas Dendam.
Pukul 17:58. Bambang tiba di rumah dengan tiga kantong belanja besar. Di meja makan, Ratna sudah menyiapkan takjil sederhana: kurma dan air hangat.
Bambang menaruh “hasil buruannya” di meja. Ada lima tusuk sate ayam, seporsi bakso, dua bungkus takjil gula aren, dan lima potong gorengan.
“Mas, ini buat dietnya?” tanya Ratna, mengangkat alis.
Bambang tidak menjawab. Matanya tertuju pada jam dinding. Ia sudah tidak sabar untuk menghancurkan musuh-musuh duniawi di depannya.
Allahuakbar… Allahuakbar…
Adzan Magrib berkumandang. Bambang tidak menenggak air hangat atau makan kurma terlebih dahulu. Tidak. Itu terlalu lambat.
Ia langsung menyambar es campur dengan rakus. Glek… Glek… Glek… Separuh mangkuk lenyap dalam hitungan detik. Tanpa jeda, jemarinya menyambar sate ayam. “Hap!” Tiga tusuk sate hilang di balik mulutnya yang terbuka lebar.
“Pelan-pelan, Mas! Nanti keselek!” seru Ratna panik.
Bambang tidak mendengar. Pikirannya kosong, hanya ada insting makan. Ia adalah serigala kelaparan yang baru dilepas dari kandang. Ia memakan gorengan sambil mengunyah bakso. Kuah bakso muncrat kemana-mana.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, meja makan yang tadinya penuh sesak, kini bersih licin. Piring sate kosong, mangkuk bakso habis, bungkus takjil kering, dan sisa gorengan lenyap.
Bambang duduk bersandar di kursi, perutnya membuncit dua kali lipat dari ukuran semula. Ia merasa sesak napas. Bajunya yang tadi pagi terasa longgar, sekarang menekan ulu hatinya dengan sangat kuat.
Ia ingin berdiri untuk shalat Magrib, tapi kakinya seolah lumpuh. Ia hanya bisa mengerang pelan, memegangi perutnya yang penuh dosa.
Ratna masuk ke dapur, menatap suaminya dengan kasihan. “Katanya mau diet, Mas?”
Bambang menatap istrinya, matanya kuyu karena food coma. “Iya… besok. Besok aku pasti diet benar-benar. Hari ini… aku cuma… ‘pemanasan’.”
Ia tahu, ia telah gagal total. Ia telah menghabiskan hari untuk menahan lapar, hanya untuk menghancurkan segalanya dalam waktu sepuluh menit. Diet Ramadannya telah berubah menjadi Tragedi Ramadan, di mana ia berbuka bukan dengan syukur, melainkan dengan dendam kesumat yang melahap jiwanya (dan perutnya).
“Kita seringkali terlalu sibuk menghitung jam untuk menahan lapar, sampai lupa menghitung nikmat untuk disyukuri. Berbuka puasa bukan tentang membalas dendam pada perut kosong, melainkan tentang menghormati tubuh kita dengan cara yang santun dan beradab. Jangan sampai kita menjadi orang yang hafal lokasi pasar takjil, namun buta arah menuju jalan pulang kepada-Nya.”
