Bagi Arini, sepuluh malam terakhir Ramadan bukan lagi tentang berburu pahala, melainkan berburu glowing. Kamar tidurnya kini lebih mirip laboratorium farmasi daripada tempat peristirahatan. Di atas meja riasnya, berderet botol-botol kaca mungil dengan label nama kimia yang sulit diucapkan: Niacinamide, Hyaluronic Acid, hingga Retinol yang dosisnya ia naikkan secara sembunyi-sembunyi agar hasilnya instan.
“Targetnya satu, Ma,” ujar Arini pada ibunya suatu sore. “Pas salaman sama sepupu-sepupu dari Jakarta nanti, wajah Arini nggak boleh terlihat kusam. Harus licin, putih, dan bening seperti porselen.”
Ibunya hanya menghela napas panjang sambil terus menguntai biji tasbih di tangan. “Wajah bening itu bagus, Nak. Tapi apa gunanya kalau setiap kali melihat wajah sepupumu, hatimu langsung panas karena iri?”
Arini pura-pura tidak mendengar. Ia sedang sibuk mengoleskan masker seharga cicilan motor di wajahnya, sembari menghitung menit demi menit agar nutrisinya meresap sempurna. Baginya, Lebaran adalah panggung sandiwara, dan wajah yang glowing adalah kostum utama yang tak boleh cacat.
Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, saat di mana para malaikat turun ke bumi membawa rahmat bagi mereka yang bersujud, Arini justru sedang duduk di depan cermin. Ia bukan sedang bertahajud. Ia sedang melakukan ritual tujuh tahap perawatan wajah yang tak boleh terlewatkan.
Ia sangat takut akan satu hal: Kusam. Baginya, wajah kusam di hari Lebaran adalah aib sosial yang tak termaafkan. Ia rela menghabiskan waktu dua jam untuk memijat wajahnya agar sirkulasi darah lancar, namun ia enggan menghabiskan sepuluh menit untuk memijat nuraninya yang mulai kaku.
Di sela-sela mengoleskan serum, pikirannya melayang pada sosok Sarah, sepupunya yang paling sukses. Tahun lalu, Sarah memamerkan tas barunya yang seharga rumah. Tahun ini, Arini bertekad akan membalasnya, bukan dengan kekayaan, tapi dengan kecantikan yang paripurna. Di balik masker emasnya, Arini sedang menyusun kalimat-kalimat pedas yang akan ia lontarkan sebagai peluru dendam yang sudah ia simpan setahun penuh.
“Lihat saja nanti, Sarah. Biarpun tasmu baru, wajahmu pasti kalah cerah dariku,” gumamnya sinis.
Malam ke-27 Ramadan tiba. Malam yang diyakini banyak orang sebagai puncak keberkahan. Di masjid kampung, suasananya begitu magis. Suara isak tangis jamaah yang memohon ampunan terdengar seperti nyanyian kesedihan yang indah.
Arini hadir di sana. Namun, bukannya menunduk khusyuk, ia justru sibuk membenarkan posisi mukenanya agar tidak merusak tatanan alis yang sudah ia rapihkan. Ia juga terus-menerus memegang pipinya, memastikan tidak ada jerawat yang berani muncul secara tiba-tiba akibat kurang tidur karena bergadang mengurus skincare.
Tepat di sampingnya, duduk Mbok Sum, seorang janda tua pembersih jalanan. Wajah Mbok Sum penuh dengan kerutan, kulitnya legam karena terbakar matahari setiap hari. Tak ada satu pun produk kecantikan yang menyentuh kulitnya. Namun, saat cahaya lampu masjid yang temaram mengenai wajahnya yang sedang berdoa, Arini tertegun.
Ada sebuah cahaya yang tidak berasal dari pantulan lampu atau efek serum. Cahaya itu memancar dari dalam kulit Mbok Sum yang kasar. Wajah tua itu tampak begitu damai, begitu tenang, seolah-olah seluruh beban dunia sudah ia serahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Mbok Sum sedang menangis, namun bibirnya tersenyum tulus saat mengucapkan “Amin”.
Arini melirik bayangannya sendiri di layar ponsel yang hitam. Wajahnya memang putih bersinar, namun matanya tampak kuyu, sorot matanya tajam dipenuhi ambisi dan kebencian yang belum usai. Ia merasa seperti melihat sebuah gedung mewah yang megah di luar, namun di dalamnya dipenuhi sampah dan rayap.
Puncak dari segala kepalsuan itu terjadi pada malam takbiran. Arini bangun dengan perasaan puas karena wajahnya benar-benar tampak glowing seperti yang ia impikan. Namun, sebuah pesan singkat dari Sarah masuk ke ponselnya: “Rin, maaf ya, tahun ini aku nggak bisa mudik. Ibuku sakit parah, aku harus menjaganya di sini. Mohon maaf lahir batin ya atas semua kesalahanku yang lalu.”
Seketika, seluruh persiapan Arini terasa sia-sia. Peluru dendam yang ia siapkan setahun penuh mendadak kehilangan sasaran. Ia merasa hampa. Kecantikan yang ia kejar dengan harga mahal itu ternyata tidak memberinya kepuasan apa pun.
Ia berdiri di depan cermin besar di ruang tamu. Ia melihat wajah yang sangat cantik, sangat putih, dan sangat glowing. Namun, di dalam dadanya, ia merasakan sesuatu yang sesak. Hatinya kuyu. Ia tersadar bahwa selama Ramadan ini, ia telah mencuci wajahnya dengan ribuan tetes serum, namun ia lupa mencuci hatinya dengan satu tetes air mata penyesalan.
Ia masih menyimpan dendam pada Sarah. Ia masih menyimpan rasa iri pada teman-temannya. Ia masih memiliki kesombongan yang terbungkus rapi di balik kulit wajah yang mulus. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit: Skincare tercanggih di dunia tidak akan pernah bisa menyamarkan bau busuk dari hati yang dipenuhi penyakit.
Arini terduduk di atas sajadah, malam itu juga. Ia menghapus sisa-sisa makeup mahalnya, bukan untuk ritual tidur, tapi karena ia ingin menghadap Tuhan dengan wajah yang jujur. Ia mulai menangis, memohon ampun karena telah lebih takut pada penilaian manusia daripada penilaian Penciptanya.
“Kecantikan sejati bukanlah apa yang terpantul di permukaan cermin, melainkan apa yang terpancar dari kedalaman jiwa yang bersih. Janganlah engkau sibuk menghias ‘bungkus’ duniawimu hingga lupa bahwa Tuhan tidak melihat rupa dan warnamu, melainkan melihat hati dan amalmu. Wajah yang kusam karena sujud lebih mulia daripada wajah yang bercahaya karena sombong, sebab cahaya surga hanya akan menyentuh hati yang sudah merdeka dari dendam.”
