“Kenapa gak pernah kelihatan di masjid?” tanya Marni, satu dari tiga perempuan yang menamai diri mereka geng centil. Tak kusangka mereka sedang membeli takjil di warung yang sama denganku.
Aku hanya bisa tersenyum, sambil memikirkan alasan apa yang lebih pantas. Lalu, “saya lebih senang salat di rumah saja,” jawabku.
Ketiga perempuan yang merupakan tetanggaku itu saling pandang. Raut muka mereka menunjukkan ketidak senangan.
“Padahal ke masjid dong! Suaminya saja pergi ke masjid masa istrinya nggak!” ucap Marni.
Ucapan itu terdengar bernada tajam dilanjutkan dengan bisik-bisik dan tawa cekikikan. Sayup-sayup terdengar mereka menyebut namaku. Entah apa lagi yang mereka bicarakan.
Dengan sedikit basa-basi aku melenggang meninggalkan mereka. Namun belum juga menjauh, Marni kembali memanggilku, “Dina, jangan salahkan kami jika nanti kamu tidak lagi kami anggap sebagai tetangga.”
Tanpa menghiraukan mereka aku mempercepat langkah meninggalkan geng centil hobi rumpi itu.
**
Aku, Marni dan dua orang tetangga lainnya yang kutemui tadi awalnya cukup dekat dan akrab. Sebalumnya aku pun rajin menunaikan ibadah salat terawih di masjid kampung kami. Namun setelah aku paham bahwa pergi terawih adalah ajang pamer barang baru dengan harga yang mahal dan bergosip, aku menjadi tidak nyaman berada di antara mereka. Ibadah terawih rasanya sia-sia saja jika pahalanya harus kembali gugur gara-gara berghibah. Satu-satunya cara adalah menarik diri dan memutuskan untuk tidak lagi terawih di masjid.
Mas Arman pun tidak keberatan ketika aku menyatakan diri mau salat di rumah saja.
“Gak apa-apa. Kata Nabi, salat perempuan lebih utama di rumahnya kok. Hadis itu kuat. Kamu tidak perlu merasa bersalah,” kata Mas Arman.
Aku merasa begitu lega saat suami mengijinkan aku diam di rumah.
Namun keadaan ternyata tidak sebaik yang aku harapkan. Gosip yang dibuat geng rumpi itu semakin keterlaluan. Setiap bertemu di jalan atau di warung mereka semakin membuat kesabaranku habis.
**
“Dina, semalam mas Arman mu ganteng sekali ya….” kataya dengan gaya centil. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba perempuan bernama Yani itu muncul di hadapanku.
Aku yang sedang memilih sayuran untuk makanan buka puasa soren ini merasa terganggu. Apalagi menyebut-nyebut nama suamiku.
Ingatanku melayang, semalam memang mas Arman aku pakaikan baju terbaik dan wewangian. Menurutku itu sah-sah saja dilakukan oleh seorang ellaki yang akan menghadap ibadah kepada Allah. Aku tidak menyanka itu malah menjadi pesona buat para perempuan gatel tersebut.
Aku tahu betul, Yani adalah perempuan kesepian yang suaminya bekerja jauh di kota dan baru akan pulang menjelang lebaran nanti.
“Hus kamu kalau suka sama laki orang jangan terang-terangan begitu dong!” ujar Mirna mengingatkan temannya.
Lagi-lagi, aku tidak tau kapan Mirna datang.
“Apakah aku terlalu kelihatan suka? Kan cuma ngasih komentar saja,” jawabnya dengan santai.
Aku yang sedang memasukkan cabai ke kantong kecil, rasanya ingin menyumpal mulutnya dengan segenggam cabai, biar mulut perempuan itu kepedesan.
“Bukan begitu, tapi kan nanti Dina jadi sedih,” ucap Mirna pura-pura berempati. Sayang sekali suaranya terdengar bernada meledek.
Jelas saja aku sedih. Perempuan mana yang suka ketika mendengar perempuan lain menyanjung suaminya? Tidak menyangka orang-orang yang selama ni aku anggap sebagai teman masa kecil dan tumbuh bersama di kampung akan sepicik itu. Namun bagaimanapun aku harus berusaha tenang.
“Ibu-ibu yang baik, permisi saya mau bayar duluan ya…”
Aku menyerahkan barang belanjaan untuk segera dihitung dan agar bisa segera pulang. Malas sekali menanggapi mereka terlalu lama.
“Kamu benar-benar tidak bisa diajak bercanda lagi ya Dina. Pantas saja kamu tidak mau lagi bareng sama kami. Rupanya memang kamu sombong sekali,” cibir Yani.
“Maaf ya, nyonya Yani. Sebenarnya saya pun ingin sekali merobek mulut Anda. Sayangnya saya lebih peduli pada ibadah puasa saya,” jawabku dengan suara lantang namun tetap berusaha tenang.
Yani tergagap demi mendengar apa yang aku katakan. Selesai pembayaran, tanpa pamit aku langsung bergegas pulang.
**
Aku tidak sabar menunggu mas Arman pulang dari tempat kerja. Ketika ia sampai di pintu, langsung saja ku tarik dan mengajaknya duduk.
“Mas, apa yang mereka lakukan padamu tadi malam?” tanyaku buru-buru. Sungguh aku tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu.
“Waduh… suaminya baru pulang langsung diwawancara nih,” jawab mas Arman seraya menghela napas panjang. “Boleh Masmu ini bernapas dulu?” tanya Mas Arman sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada sebagai bentuk permohonna.
Aku mengangguk patuh. Lalu beranjak dari tempat duduk berniat pergi ke dapur melanjutkan masak. Jujur saja ada kesal yang belum sembuh sejak tadi siang setelah bertemu dengan dua perempuan ganjen itu.
“Lho mau kemana? Kok Mas baru datang ditinggal?” rengek mas Arman sambil memegangi pergelangan tanganku.
Aku yang berbalik sekaligus tidak sengaja menginjak kaki mas Arman dan menyebabkan aku terjatuh tepat di pangkuan Mas Arman. Jantungku berdetak kencang. Meskipun kami sudah cukup lama menikah, wangi tubuh mas Arman sepulang kerja adalah aroma yang paling kusuka. Bagiku, itu adalah aroma ketulusan seorang suami yang senantiasa memperjuangkan nafkah untuk keluarganya.
Mata kami sejenak saling beradu. Mas Arman tersenyum manis.
“Mas sudah cukup bernapas. Coba ulangi apa yang ingin Dina katakan!” ucapnya lenbut dan aku masih di pangkuannya.
“Eh, enggak. Aku hanya mau tanya, apa Yani dan Mirna menggodamu semalam?” tanyaku gugup.
“Mas memang ketemu mereka ketika pulang tarawih, bahkan bisa dibilang mereka berada di belakang Mas saat pulang dari Masjid. Namun gak ada yang istimewa. Mereka Cuma menyapa,” jawab Mas Arman.
Jantungku berdetak kencang penuh emosi saat mendengar mereka jalan beriringan.
“Mas yakin gak ada apa-apa lagi?” tanyaku menyelidik. Aku mengibaskan tangan mas arman yang tanpa kusadari masih memeluk tubuhku di pangkuannya. Namun mas Arman malah mencengkram pinggangku dan mempererat dekapannya. Wangi parfum maskulin dan keringat bercampur menjadi aroma yang memikat.
“Apa istri mas sedang cemburu?” tanyanya. Aku cukup kikuk ketika menyadari mata mas Arman penuh selidik saat memandang wajahku.
Aku tidak bisa menjawab apa-apa selain mengangguk.
“Hm,” gumamku.
“Mas tidak akan suka perempuan yang berdamdan berlebihan tidak sesuai ajaran agama. Juga memakai wewangian yang harum semerbak di hadapana pria. Bagi lelaki lain mungkin itu meggoda, tapi bagi Mas yang paham hukum agama, semua itu sudah tertolak seluruhnya. Bagi Mas, perempuan salihah yang senantiasa menjaga diri lah yang paling berharga,” katanya. Tangan mas Arman mencubit hidungku lembut.
Aku tersipu malu sekaligus merasa bersalah karena sudah menaruh curiga tanpa sebab.
“Maafkan Dina, Mas,” pintaku.
Mas Arman mengganggu dan kembali memelukku. Seperti anak kecil yang sedang digendong ayahnya aku malah betang dalam pangkuannya.
Tanpa sadar, kami malah larut dalam obrolan hangat sore hari yang biasa kami lakukan sepulang suami kerja. Biasanya sambil minum teh hangat dan makan cemilan. Tapi karena kami sedang puasa, maka kami hanya mengobrol saja.
**
“Assalamualaikum,” suara Naya anak kami yang baru pulang mengaji mengejutkan.
“Mama sudah santai, apa sudah selesai masak buat buka? Mama bikin apa buat takjil Naya?” tanyanya polos.
Deg! Aku baru sadar bahwa aku belum selesai memasak.
Melihatku panik mas Arman langsung berinisiatif, “karena mama belum selesai masak, Papa ajak Mama dan Naya makan di luar. Cepat kalian pakai jaketnya!”
Naya melompat bahagia. Begitu juga aku. Ada perasaan lega luar biasa. Keluargaku adalah segalanya bagiku.
