Pohon-pohon itu masih berdiri kokoh di tempatnya. Sejuk dan indah memanjakan mata. Liku jalannya yang—katamu menjadi tantangan tersendiri saat menyetir mobil, masih sama seperti empat tahun lalu saat kamu ikut pulang ke kampung halamanku. Lebaran tanpamu terasa sama saja.
Kamu bilang, “jalan ini selamanya akan menjadi kenangan bahwa aku pernah mencuri waktu untuk sampai di rumahmu, lebaran kala itu.”
Sayangnya hingga sekarang, jangankan lebaran bersama, untuk sahur dan buka puasa semeja pun kita tidak pernah ditakdirkan oleh-Nya.
**
Pagi itu, aku lupa, entah sudah hari keberapa. Hari raya idul fitri sudah lama berlalu. Merayakan hari kemenangan sendirian memang sama sekali tidak menyenangkan. Rumah sepi, semangkuk opor dan ketupat di meja tidak menarik sama sekali. Bagiku, yang selalu menarik adalah cita-cita hidup bersama, melalui hari sepanjang Ramadan dan hari raya bersamamu.
Dan hari itu ada janji yang selalu kutunggu—kamu akan menemai pulang ke kampung halaman bertemu dengan orang tuaku. Aku berharap dalam angan, mungkinkah kamu akan sekalian meminta restu pada ayah dan ibu?
Bodohnya, aku benar-benar tertipu. Menunggu selama apapun, kamu tidak pernah benar-benar pulang beramaku.
Di saat aku susah payah memendam rindu untuk pulang segera menemui keluarga, aku rela menunda kepulangan demi agar bisa merasakan hal yang indah itu: pulang ke sana bersamamu.
Hari berlalu, kamu hanya datang melalui panggilan telefon.
“Hallo, selamat lebaran ya. Maaf lahir batin, karena aku belum bisa menjadi orang yang sesuai kamu harapkan,” katamu di ujung telefon.
Aku menelan saliva demi mendengar kata-kata itu.
Kamu memang selalu sempurna di hari lain, tetapi di hari penting seperti ini kamu lebih sering menghilang, bisikku dalam hati.
“Tidak apa-apa. Aku selalu memaafkanmu bahkan sebelum kamu minta,” jawabku jujur. Entah apa yang membuatku seperti itu, memaafkanmu setelah berkali-kali dijatuhkan dalam harap adalah hobi paling aku sukai.
Kamu bicara banyak, dan tanpa sadar aku selalu larut dan merasa terhibur. Seolah nada bicaramu adalah hipnotis yang memanjakan telingaku hingga menembus lubuk hati dan membuatku selalu memaafkanmu.
Semudah itukah aku jatuh cinta? Hanya dengan perhatian yang berupa kata-kata? Ya, benar, tanpa aksi nyata pun kala itu kamu sudah berhasil membuatku mati kutu. Secinta itu dulu aku padamu.
Sambungan telefon kita pun lebih dari dua jam. Seolah kamu ingin hadir untuk menemani hari rayaku yang sepi. Namun pertanyaan besarnya adalah: jika bisa menelepon berjam-jam mengapa tidak bisa datang menemuiku. Tempat tinggal kita tidak sejauh Bandung-Papua. Bahkan kamu bisa datang kapan saja sebelumnya.
Sampai kenyataan pahit aku terima: ternyata ketika hari penting kamu gak bisa datang itu, ada alasan yang nyaris tidak bisa kuterima. Kamu harus mendampingi seseorang yang datang dari masa lalumu yang kamu bilang, “amat sangat butuh perhatian.”
**
Seperti alur cerita di sinetron atau drama Cina yang sering ku tonton. Seseorang dari masa lalu datang dengan penyakit kronisnya mendatangi keksih yang kita cinta dan sudah lama menjalin hubungan. Orang itu datang meruntuhkan segalanya. Hidupnya yang tidak akan lama lagi, menjadi alasan kuat untuk mengemis perhatian. Entah paslu atau bukan, dengan wajah pucat pasi datang dengan suara lemah menuntut belas kasihan dan perhatian, agar dia diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama.
Ceritamu pun begitu. Kamu habis-habisan memperhatikannya, terutama di waktu-waktu malam dan saat-saat penting yang—aku pun sangat membutuhkanmu. Berkali-kali aku membohngi diri sendiri. Mengatakan pada diriku, kalau aku bisa melakukannya sendiri.
Ya, aku memang bisa, tetapi rasa sakit itu selalu ada.
“Aku ingin kenangan terakhir yang aku rasakan adalah bersama kamu,” katanya kemudian, tepat di hadapanmu. Membuat sekujur tubuhmu melemas karena itu berarti kamu harus memilih antara aku dan dirinya. Saat itu aku berani menegaskan, bahwa aku bukanlah pilihan.
“Mau terus bersamanya, silakan!”
Kamu hanya diam, bengong tanpa bisa memberikan jawaban yang menenangkan.
Beberapa waktu kemudian, aku semakin terbiasa melihat perempuan berwajah pucat pasi itu menggandeng tanganmu dengan erat. Bergelayut mesra dan sama sekali tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Meski sedalam itu perasaanku padamu, aku selalu masih tahu batas.
Aku melihat dengan jelas, kamu begitu telaten mengurusnya. Mengantarkannya pergi kemana saja, belanja, menjemput dan mengantarkannya kembali bagai sepasang suami istri yang sudah hidup bersama sekian lamanya. Kamu tidak pernah memberi jeda, setelah ia memanggilmu datang, kamu selalu siap sedia. Pamit padaku dan membiarkanku tinggal dalam kehampaan. Menyakitkan.
Kamu tidak lagi menjaga jarak seperti bersamaku. Sentuhan itu, caramu membukakan pintu mobil di sebelah pengemudi, caramu menjaganya dari basahan hujan dengan payung besar itu. Dan—caramu menjawab telepon darinya meskipun sedang bersamaku. Semua itu begitu menyakitkan.
Ada dilema besar yang aku rasakan belakangan: aku begitu mencintaimu, tetapi benteng pemisah antara kita begitu kokoh. Pesona seseorang dari masa lalumu itu begitu hebat.
“Jangan marah, aku hanya sebatas ingin menjaga dan tak mau mengecewakannya.”
Kalimat sakti yang selalu kau lontarkan, begitu lancar. Seolah kamu tidak pernah paham bahwa aku punya hati yang bisa kapan saja terluka.
**
Kini, hari-hari sakitkku sudah berlalu. Aku tidak lagi mendamba tentang potret kita sahur bersama. Sahur, buka dan lebaran denganmu tak akan pernah terjadi. Mimpinya pun sudah aku kubur sedalam palung di lautan. Meski kadang, kenangan pulang bersama, liku jalan yang kita lewati dan pepohonan rimbun sejuk itu selalu menjadi penyebab air mataku kembali menggenang—nyaris berhamburan.
Lebaran tanpamu bukan sakit yang paling sakit. Namun menerima kenyataan bahwa kita tidak akan pernah merasakan lebaran bersama adalah hal yang paling sakit yang justru memaksaku jauh lebih kuat sampai saat ini.
Pernah dengar, bahwa hal-hal menyakitkan adalah hal yang justri bisa membuat kita jauh lebih kuat bukan?
Ramadan sudah setengah jalan. Aku berdoa semoga lebaran kali ini kamu lebih bahagia dengannya di sisimu.
