Bagi Pak RT Jaka, sandal jepit adalah urusan prinsip. Bukan karena harganya yang tak seberapa, tapi karena ia merasa masjid seharusnya menjadi tempat paling aman di muka bumi. Namun, malam ke-23 Ramadan itu, prinsipnya runtuh.
Usai iātikaf yang syahdu hingga menjelang sahur, Pak Jaka berdiri mematung di teras Masjid Al-Barokah. Matanya menyisir setiap sudut ubin. Nihil. Sandal kulit warna cokelat merk ternamaāhadiah ulang tahun dari istrinyaātelah raib. Yang tersisa di sana hanyalah sepasang sandal jepit biru yang sudah tipis sebelah, warnanya pudar, dan talinya hampir putus.
“Waduh, Pak RT, kehilangan lagi?” tanya Abdul, sang marbot, sambil menyapu sisa-sisa gelas plastik takjil.
Pak Jaka menghela napas panjang, menahan diri agar tidak mengucap sumpah serapah di rumah Tuhan. “Iya, Dul. Padahal baru tiga bulan. Kenapa ya, di rumah Allah pun orang masih sempat-sempatnya mencuri?”
“Mungkin dia khilaf, Pak. Atau mungkin dia lebih butuh sandal itu buat pulang,” jawab Abdul enteng.
Pak Jaka terpaksa pulang dengan “sandal cadangan” milik masjid yang ukurannya kekecilan dan licin. Sepanjang jalan, hatinya menggerutu. Ia membayangkan si pencuri sedang tertawa bangga memakai sandal kulitnya di malam Lebaran nanti.
Tiga malam berlalu. Pak Jaka mencoba ikhlas, meski setiap kali melihat kakinya yang beralaskan sandal jepit murah, rasa kesalnya muncul kembali. Hingga pada malam ke-27, saat ia hendak pulang setelah shalat Tahajud berjamaah, sesuatu yang ganjil terjadi.
Di tempat ia biasanya menaruh sandal, tidak ada sandal jepit masjid yang ia pakai tadi. Justru, sandal kulit cokelat miliknya yang hilang itu kembali berada di sana. Kondisinya bersih, mengkilap seperti baru saja disemir, dan diletakkan dengan sangat rapiāujungnya menghadap ke arah jalan, seolah siap untuk langsung dipakai.
Di atas sandal itu, terselip secarik kertas kusam yang dilipat rapi. Dengan tangan gemetar, Pak Jaka membukanya di bawah lampu teras masjid yang temaram.
“Assalamuāalaikum, Bapak pemilik sandal ini…” tulisannya miring dan nampak ditulis dengan terburu-buru.
“Mohon maaf lahir batin, Pak. Saya yang mengambil sandal ini malam Selasa kemarin. Saya benar-benar terpaksa. Anak saya di rumah sakit, dan saya tidak punya alas kaki yang layak untuk mengantar dia pulang setelah rawat jalan. Saya malu terlihat seperti pengemis di depan dokter.”
“Sandal ini tidak saya jual. Saya hanya meminjamnya untuk menaikkan sedikit harga diri saya di depan anak saya yang sedang sakit. Sekarang anak saya sudah sehat, dan saya kembalikan sandal ini dalam keadaan bersih. Di dalam lipatan kertas ini ada uang dua ribu rupiah, hasil saya jadi kuli panggul tadi pagi. Hanya itu yang saya punya untuk ‘uang sewa’ atau sekadar pengganti rasa kesal Bapak. Tolong maafkan saya, jangan laporkan saya pada Tuhan.”
Pak Jaka terdiam. Dadanya sesak. Ia melihat selembar uang dua ribu rupiah yang sudah lusuh dan lecek di balik kertas itu. Uang yang mungkin bagi si pencuri adalah harga sebungkus nasi, tapi baginya mungkin tak cukup untuk membayar parkir di mall.
Ia menoleh ke arah Abdul yang sedang mengunci pintu gudang. “Dul, kamu lihat siapa yang naruh sandal ini tadi?”
Abdul menggeleng. “Tadi ada pria kurus, Pak. Pakai kaos oblong lusuh. Dia cuma naruh sandal, sujud sebentar di ubin teras, lalu lari sambil nangis. Saya kira dia orang gila, jadi saya biarkan saja.”
Pak Jaka duduk di anak tangga masjid. Ia tidak memakai sandal kulit itu. Ia justru memegangnya dengan erat. Tiba-tiba saja, sandal merk ternama itu terasa sangat berat di tangannya. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria “maling” itu.
“Ya Allah,” bisik Pak Jaka, air matanya menetes di atas kertas kusam itu. “Hamba yang sombong karena merasa kehilangan benda duniawi, padahal pria ini sedang bertaruh nyawa dan harga diri untuk anaknya.”
Malam itu, Pak Jaka melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia meninggalkan sandal kulit cokelatnya di sana. Ia mengambil kembali sandal jepit masjid yang licin itu, lalu menyelipkan sebuah amplop putih di bawah sandal kulitnya. Di amplop itu tertulis: “Untuk biaya sekolah anakmu. Sandal ini sekarang milikmu, pakailah dengan bangga di hari Lebaran.”
Pak Jaka pulang dengan kaki yang hanya beralaskan sandal plastik murah, tapi hatinya terasa seperti sedang berjalan di atas hamparan sutra surga.
Kita seringkali terlalu cepat menghakimi “tangan yang mengambil”, tanpa pernah mau tahu “beban yang sedang dipanggul”. Di bulan penuh ampunan ini, memaafkan bukan hanya tentang melupakan kesalahan orang lain, tapi tentang membebaskan hati kita sendiri dari penjara kesombongan. Karena terkadang, sepasang sandal yang hilang adalah cara Tuhan mencopot alas kaki duniawi kita agar kita bisa merasakan dinginnya bumi dan hangatnya rasa empati.
