Hidup bertetangga memang tidak selamanya indah. Banyak yang menyenangkan, tetapi tidak jarang ada juga hal yang sangat mengganggu dan menyakitkan tanpa bisa diungkapkan dan dibicarakan secara langsung. Dalih menjaga hubungan baik adalah benteng terbesar yang sulit dirobohkan. Akhirnya penderitaan berlanjut tanpa ada penyelesaian yang berarti. Misalkan saja yang dialami oleh Tuti dan Marni (nama samaran) yang mungkin bisa menjadi bahan renungan untuk kita ambil hikmahnya.
“Mbak, titip bawain karung sayur ini ke warung ujung ya! Mau dipakai masak buat jualan soalnya. Udah ditungguin sama yang punya warung!” ujar Tuti pada tetangganya yang bernama Marni suatu pagi. Sikapnya dibuat semanis mungkin, tampak segan pada tetangga. Seharusnya yang bertugas mengantar karung sayur itu adalah suaminya. Karena kebetulan semalam habis begadang, suaminya masih tidur lelap tidak bisa melawan kantuk.
Dengan baik hati Marni siap menolong mengantarkan karung berisi kentang itu ke warung yang ditunjuk.
“Maaf merepotkan ya, Mbak,” ucap Tuti dengan ramah.
“Gak apa-apa, Mbak. Toh, sambil lewat juga kok. Kebetulan searah jalan menuju tempat kerja,” jawab Marni sambil menaikan karung berisi kentang ke motornya dengan sedikit kepayahan. Rok kerjanya sedikit kotor terkena debu karung.
Besoknya, Tuti minta tolong lagi membawa karung sayur ke tempat yang sama. Kali ini dua karung, satu karung berisi kentang dan satu lagi berisi buncis dan sawi. Karena memang searah tempat kerja, Marni masih mau, dengan alasan membantu tetangga.
Namun keesokan harinya, ternyata Tuti keenakan nitip karung. Sampai lama-lama Marni merasa bahwa membantu mengantar karung adalah menjadi kewajibannya. Pernah beberapa kali secara tidak sengaja Marni melihat suami Tuti tengah bersantai minum kopi di rumahnya sambil membaca koran. Sungguh pemandangan yang benar-benar berhasil merusak keikhlasan Marni.
Padahal tidak jarang, pagi-pagi sebelum berangkat Marni ingin santai dulu menikmati sarapan. Ingin ngobrol dulu sama anak dan keluarga. Apalagi kalau kerjaan lagi lengang, gak harus buru-buru.
Akan tetapi karung sayur yang dititip Tuti sudah ada di depan rumahnya lagi. Dengan tanpa rasa bersalah, Tuti berteriak, “Mbak Marni, karungnya saya simpan di teras ya!” Setiap hari seperti itu.
Suatu hari motor Marni mogok. Sudah hampir pukul tujuh Marni belum bisa berangkat kerja. Tuti ketar-ketir. Mondar-mandir dengan gelisah. Tangannya begitu repot mengirim pesan permintaan maaf ke warung nasi pelanggan sayuran segar itu.
Hari itu, Tuti cemberut sepanjang hari. Marah-marah gak jelas. Bicaranya pun ketus pada Marni. Mulutnya terus merutuki nasib si karung sayur hingga nasib kerja sama dengan warung makan di ujung jalan. Seolah-olah keterlambatan pengiriman karung itu menjadi kesalahan Marni.
Sebagai tetangga, Marni pun merasa gak enak hati. Mau nolak sejak lama, tapi perasaan nggak enakkan lebih mendominasi. Perasaan takut hubungannya buruk dengan tetangga selalu menghantui. Lihat saja, pagi ini pun Tuti ketus gara-gara motornya mogok.
Padahal Marni sadar betul. Ia pun punya hak untuk menikmati hidup. Kadang pengen santai, kadang pengen ngapain dulu, Kadang perutnya mules pagi-pagi, Kadang …, banyak hal yang semestinya berjalan lebih indah di pagi hari andai karung sayur itu tidak ada lagi.
Akhirnya Marni pasrah pada keadaan. Tetap menjadi pengantar gratis untuk tetangga. Tanpa biaya bensin (karena searah), tanpa biaya perawatan motornya yang makin hari performanya semakin menurun karena terus membawa beban berat. Tanpa apresiasi dan …, tanpa basa-basi yang terdengar lebih enak di telinga dari pihak Tuti dan suami.
Akhirnya Marni sampai pada puncak sabarnya. Ia tidak marah, tetapi tetap diam—manut dan tetap mengantar. Tidak peduli motornya yang semakin sering mogok, tidak peduli baju kerjanya yang wangi harus beraroma sayuran basah. Semuanya tetap berjalan seperti biasa, tetapi terasa semakin hampa.
Akhirnya, Marni hanya bisa melangitkan doa diam-diam. Mengadukan tetangganya kepada Allah yang ia yakini hanya Dia yang mampu mengerti perasaannya.
Sebab, pernah sekali waktu ia bercerita pada orang lain, ia malah mendapat nasihat, “kamu tegas dong buat bilang enggak!”
Sementara Marni masih berpikir panjang, bagaimana hubungan keluarganya nanti. Rumah mereka berhadapan, rasanya akan terasa semakin tidak nyaman jika tinggal dengan tetangga tanpa hubungan baik. Anak-anak mereka tidak lagi bisa main bersama, bahkan mungkin tak akan ada lagi tegur sapa. Semua benar-benar dipikirkan Marni.
**
Namun ini bukan hanya tentang Marni dan sekarung sayur mentah. Ini tentang empati pada tetangga dan kepada siapapun di sekeliling kita.
Jangan sampai karena mereka baik pada kita, kita jadi semena-mena memanfaatkan kebaikan mereka. Justru ketika mereka baik, kita harus jauh lebih baik memperlakukan mereka sebagai bentuk rasa hormat dan ungkapan terima kasih atas kebaikannya.
Semoga gak ada Tuti lain yang senang menindas pelan-pelan. Kalaupun ada, semoga lekas disadarkan. Semoga Marni-Marni di luar sana semakin berkah rezekinya. Dan mulai bisa berkata tidak dengan cara yang lebih elegan (entah bagaimana caranya, pasti cukup sulit soalnya).
Tuti dan karung sayur mentahnya hanya sekelumit contoh kasus yang masih kecil. Barangkali tanpa kita sadari ada Marni lain yang kita tindas dan kita menjadi Tuti yang semena-mena. Lekaslah berhanti dan mulailah saling menghormati satu sama lain.
Jangan sekali-kali menggangungkan hidup dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain. Karena orang lain pun berhak menikmati kehidupannya sendiri tanpa ditambahi beban tanggung jawab yang kita limpahkan padanya, tanpa bayaran, tanpa penghargaan yang sepadan.
Mari mengoreksi diri masing-masing. Sebaik apapun mereka, sedekat apapun hubungannya entah itu saudara kandung, sahabat, rekan kerja di kantor, sadarilah mereka pun manusia sama dengan kita. Jangan hanya karena mereka baik lalu kita memanfaatkan kebaikanny.
Berilah mereka kebebasan hidup, berhentilah bergantung padanya.
Semoga menjadi bahan renungan.
