Suatu sore saya diajak suami berkunjung ke rumah mertuanya. Sore itu terasa biasa saja. Kami duduk berbincang ringan sambil menikmati suasana kampung yang tenang. Tidak lama kemudian datang seorang perempuan paruh baya membawa sepiring makanan. Di sela jemarinya terselip sebatang rokok yang masih menyala.
Saya mengenalnya.
Beberapa tahun yang lalu, ia dikenal sebagai perempuan yang cantik. Wajahnya cerah, tubuhnya proporsional, dan penampilannya selalu menarik. Namun sore itu saya hampir tidak mengenalinya. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya dipenuhi gurat kelelahan, dan sorot matanya kehilangan cahaya yang dulu pernah saya lihat.
Setelah duduk bersama kami, ia mulai bercerita. Ia mengaku mengalami tekanan hidup yang berat. Berbagai persoalan keluarga membuat pikirannya terus dibayangi kecemasan. Untuk mendapatkan pertolongan, ia rutin berkonsultasi dengan seorang psikiater. Biaya yang harus dikeluarkan setiap kali berobat berkisar antara satu setengah hingga dua juta rupiah. Jumlah yang tidak sedikit. Bahkan ia mengaku harus berutang agar tetap dapat menjalani pengobatan.
Saya mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian. Dalam hati saya berkata, ternyata kesehatan mental memang sangat mahal harganya. Mahal bukan hanya karena biaya pengobatan, tetapi juga karena seseorang harus membayar dengan ketenangan hidup yang hilang, tidur yang tidak nyenyak, hubungan yang terganggu, dan beban pikiran yang terus menghimpit.
Saya pun pernah mengalami masa ketika hati terasa sangat terluka. Ada tekanan, ada kekecewaan, ada trauma yang membuat hidup terasa lebih berat daripada biasanya. Walaupun penyebabnya berbeda, saya percaya bahwa setiap luka batin memiliki rasa sakit yang nyata bagi orang yang mengalaminya.
Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan sebuah jalan yang sangat sederhana, tetapi begitu berarti. Saya mulai menulis. Awalnya saya hanya ingin menuangkan apa yang tidak mampu saya ucapkan kepada siapa pun. Saya menulis kemarahan yang tidak ingin saya ledakkan. Saya menulis kesedihan yang sulit dipahami orang lain. Saya menulis harapan yang hampir padam. Saya menulis doa-doa yang hanya ingin saya sampaikan kepada Allah.
Tanpa saya sadari, setiap lembar tulisan seperti mengurangi beban yang selama ini saya pikul sendirian. Saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah berdialog dengan diri sendiri. Menulis adalah memberi ruang bagi hati yang sesak agar dapat bernapas kembali. Menulis adalah cara menata pikiran yang semula berantakan menjadi lebih terarah. Menulis tidak menghapus masa lalu. Menulis juga tidak membuat semua masalah selesai.
Namun menulis membantu saya melihat luka dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang semula tampak sebagai akhir dari segalanya, perlahan berubah menjadi pelajaran yang mendewasakan. Barangkali karena itulah Allah memuliakan pena sebagai sarana belajar dan menyampaikan ilmu. Allah Swt. berfirman:
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 4–5)
Pena bukan sekadar alat untuk menulis ilmu. Pena juga menjadi sarana manusia mengabadikan pengalaman, menyusun kembali pikirannya, dan menemukan hikmah dari setiap perjalanan hidup.
Namun saya juga menyadari bahwa pena bukanlah satu-satunya jalan penyembuhan. Ada orang yang membutuhkan pelukan keluarga. Ada yang membutuhkan sahabat untuk mendengarkan. Ada yang membutuhkan konseling dengan psikolog. Ada pula yang memerlukan pengobatan dari psikiater.
Semuanya adalah bentuk ikhtiar yang patut dihargai. Tidak ada alasan untuk merasa malu mencari pertolongan ketika hati sedang sakit, sebagaimana seseorang tidak malu berobat ketika tubuhnya terluka.
Di atas semua ikhtiar itu, seorang mukmin memiliki tempat kembali yang paling menenangkan, yaitu mengingat Allah. Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan sejati tidak hanya diperoleh melalui kemampuan mengelola emosi, tetapi juga melalui kedekatan kepada Allah. Menulis menjadi lebih bermakna ketika ia ditemani doa, zikir, membaca Al-Qur’an, dan keyakinan bahwa setiap ujian pasti mengandung hikmah. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ»
“Bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan agar setiap Muslim menempuh ikhtiar yang membawa manfaat. Bagi saya, menulis adalah salah satu ikhtiar itu. Ia menjadi ruang untuk menumpahkan beban, mengurai pikiran, sekaligus mensyukuri setiap pelajaran yang Allah hadirkan dalam kehidupan.
Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memulihkan jiwanya. Ada yang menemukan ketenangan dalam sujud yang panjang. Ada yang merasakannya saat membaca Al-Qur’an. Ada yang memperolehnya melalui terapi bersama tenaga profesional. Dan saya menemukan salah satu jalan itu melalui menulis.
Mungkin tulisan-tulisan yang saya buat tidak akan mengubah dunia. Namun tulisan-tulisan itu telah membantu mengubah diri saya. Dari hati yang dipenuhi luka menjadi hati yang perlahan belajar menerima. Dari pikiran yang kusut menjadi pikiran yang lebih jernih.
Dari air mata yang terus mengalir menjadi doa yang menguatkan.
Kini saya memahami bahwa setiap lembar tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jejak perjalanan jiwa. Ia menjadi saksi bahwa di balik setiap luka selalu ada kesempatan untuk bangkit. Dan bagi saya, menulis bukan hanya melahirkan karya, melainkan juga menjadi salah satu terapi yang Allah anugerahkan untuk merawat hati agar tetap hidup, tetap berharap, dan tetap mampu melihat cahaya di tengah gelapnya ujian kehidupan.
