Komunitas Hong Pelestari Permainan Tradisional Jawa Barat (Sumber: traverse.id)
Halo generasi milenial. Pasti kalian setuju kan? Kalau Olahraga Tradisional patut dilestarikan. Pergeseran cara dan pandangan hidup manusia masa kini, perlahan mengikis banyak hal, termasuk olahraga tradisional.
Setelah masa kecil kita berlalu, rasanya olahraga tradisional juga ikut berhenti di usia kecil kita ya. Tepatnya, berhenti di awal tahun 2000-an. Rasanya seketika abad 21 ini lebih cepat berputar dan beranjak dari satu waktu ke waktu lainnya.
Saking cepatnya, sampai-sampai kita tak sempat memperkenalkan dan mempraktekan permainan tradisional. Entah karena jadwal belajar anak-anak yang lebih padat, atau karena aktivitas mereka yang lebih tertata, sehingga mereka tak sempat bermain. Atau memang pada kenyataannya, ruang bermain mereka yang beralih ke media lain.
Hari ini kita jarang menjumpai anak-anak yang melakukan permainan tradisional, hal ini jadi pemicu hadirnya komunitas olahraga tradisional di Indonesia. Dikutip dari laman traverse.id, di Indonesia Komunitas Hong adalah pelopor pelestari olahraga tradisional, dan satu-satunya di Indonesia. Mereka berkonsentrasi pada pelertarian permainan tradisional, khususnya ‘kaulinan barudak’ Yakni permainan tradisional dari Jawa Barat.

Kabar baiknya hari ini di dalam lingkaran dunia pendidikan, olahraga tradisional diangkat kembali menjadi sesuatu yang istimewa dan diperlombakan. Sifatnya bergengsi, dan tentunya memiliki peraturan yang baku, dan diterapkan dalam seluruh regulasi permainan yang diperlombakan. Salah satu yang menjadi magnet adalah adanya perlombaan egrang dan bakiak.

Bagaimana tidak, kita sebagai anak yang lahir di era 80 dan 90-an mungkin akan tercengang dengan kenyataan yang terjadi di lapangan saat ini. Bayangkan, kita yang dulu merasa sangat bodoh karena tidak mahir akademik di sekolah, tapi bisa main egrang sambil main bola, main galah sampai bau matahari, dan main sumpitan sampai dimarahi ibu gara-gara peluru nyasar. Siapa sangka, hari ini keahlian itu sangat diperlukan dan patut dilestarikan.
Tampaknya jika ada lembaga kursus, kita cocok ya kan jadi trainer? Karena kita mahir dulu, cuma belum ada wadahnya saat itu. Olahraga tradisional, saat ini dipertandingan dengan mempertaruhkan nama-nama sekolah dan daerah.

Geliat ini sangat positif dan patut didorong oleh semua unsur di dalam masyarakat. Mengingat banyak aspek tradisional hampir hilang ditelan zaman.
Kita sudah cukup sulit menemukannya di pelosok desa sekalipun, di tempat yang kita anggap tradisi akan hidup subur. Jangan sampai olahraga tradisional kehilangan jati dirinya, kita harus lestarikan bersama-sama. Jadi, acara ini cukup menggugah dan memberikan semangat pada generasi baru, memberikan alarm pada kita semua, bahwa olahraga tradisional tidak bisa diremehkan.
Olahraga tradisional mencerminkan pembentukan karakter, keberadaannya hampir dilupakan. Padahal di dalamnya terdapat banyak proses pembentukan karakter seseorang. Dalam permainan tradisional ada latihan konsentrasi, berdiskusi, hidup berkelompok, kepemimpinan, hingga kecakapan emosional. Didalamnya ada pembangunan individu melalui simulasi sederhana dan mendidik anak untuk belajar menjalani proses bermasyarakat.
Banyak yang lupa kalau olahraga tradisional adalah sesuatu yang berangkat dari masyarakat itu sendiri. Sifatnnya yang beregu dan mengajarkan kerja sama tim, membuat anak-anak mempelajari dan mengontrol dirinya. Olahraga ini banyak khasiatnya, seperti melatih koordinasi, fokus dan proses bekerja sama.
Olahraga tradisional lebih dari itu, anak-anak hari ini harus tahu bahwa nenek moyangnya hidup dalam tradisi. Permainan adalah salah satu bentuk yang harus dijaga dan dilestarikan.
*Artikel sudah tayang di Kompasiana
