Rantang (gambar: 360floralflaves/Unsplash)
Ramadan #27. Kenangan yang Beraroma Rempah. Saya masih membaui harum kunyit dan daun salam yang mengepul dari dapur Ceu Asih setiap menjelang Ramadan. Tahun 1980-an di Bandung, udara pagi kerap diselingi gemericik air dan denting rantang yang disusun rapi. Di sudut dapur, Ceu Asih—dengan kebaya lusuh dan kerudung—sibuk mengaduk kari, menggoreng ikan, dan menata kue-kue dalam wadah bertingkat. Aa Oman, suaminya, selalu berpesan: “Nganteuran itu bukan sekadar bagi makanan, tapi bagi kanyaah.” Kalimat itu menggema dalam setiap langkah kecil saya mengantar rantang ke tetangga, bahkan hingga ke pelosok Cijulang, di mana sanak keluarga menanti dengan senyum yang hangat.
Nganteuran: Bahasa Cinta yang Terancam Punah
Nganteuran, dalam budaya Sunda, adalah ritual kebersamaan. Kata itu berasal dari anteur—mengantar. Bukan sekadar mengirim makanan, tapi mengirim doa, syukur, dan cerita. Rantang-rantang berisi nasi liwet, empal daging, atau kue putri salju menjadi jembatan antara satu hati dan lainnya. Tradisi ini tumbuh subur di Bandung, Pangandaran, atau Tasikmalaya, di mana masyarakat masih percaya bahwa silaturahmi harus dirawat dengan rasa, bukan rupa. Saat itu, Lebaran tak hanya tentang takbir, tapi juga tentang berbagi: anak kecil seperti saya pun bangga menjadi “kurir kanyaah”, berlari-lari antar kampung dengan rantang dijinjing.
Dari Dapur Ceu Asih ke Pintu-Pintu yang Semakin Tertutup
Keluarga Aa Oman, yang terbilang mampu, menjadikan nganteuran sebagai misi sosial. Ceu Asih kerap berujar, “Rezeki harus dialirkan, seperti sungai.” Dapur mereka seperti pabrik kecil: panci-panci besar berdesakan, perempuan-perempuan tetangga membantu mengulek bumbu, sementara laki-laki mengangkut kayu bakar. Saya, yang sering mendapat tugas mengantar, tak hanya membawa rantang, tapi juga mendengar cerita-cerita kakek-nenek di Cijulang yang matanya berbinja saat menerima kue basah. “Ini rasa masa kecilku,” bisik salah seorang nenek suatu hari. Saat itu, saya tak paham betapa makanan bisa menyimpan ingatan.
Gemuruh Zaman yang Menggerus Rantang
Kini, di Pangandaran yang mulai dipenuhi supermarket dan apartemen, tradisi itu nyaris mati. Generasi baru lebih memilih pesan antar online dengan kemasan plastik. Silaturahmi direduksi menjadi ucapan singkat di grup WhatsApp. Lebaran berubah jadi panggung: mobil mewah, ponsel terbaru, dan bercerita tentang gaji di meja makan. Rantang-rantang besi berdebu di gudang, digantikan kardus bermerek yang cepat jadi sampah. “Nganteuran ribet, Bu. Sekarang kan ada aplikasi,” protes seorang anak pada ibunya di depan saya, membuat hati saya tercekat.
Kanyaah yang Tertinggal di Pusaran Individualisme
Dulu, orang tua kami hidup pas-pasan, tapi kaya hati. Sekarang, kami kaya materi, tapi miskin waktu. Dulu, rantang yang sama bisa berputar—dikirim balik dengan tambahan sambal atau kue—seperti simbol bahwa kebaikan itu tak pernah habis. Kini, rantang itu cuma jadi pajangan, sementara silaturahmi terputus oleh ego dan kesibukan. Yang lebih menyedihkan: kami kehilangan filosofi di balik tradisi ini. Nganteuran bukan cuma soal makanan, tapi soal merajut rasa. Saat rantang diganti plastik, yang terbuang bukan cuma budaya, tapi juga makna kanyaah yang dulu diwariskan dengan susah payah.
Mungkinkah Kita Mengantar Kembali Rasa?
Terkadang, saya masih membayangkan Ceu Asih berdiri di dapur, menatap saya yang berlari dengan rantang. “Jangan dijatuhkan, nanti kanyaahnya tumpah,” candanya. Kini, saya ingin berteriak pada generasi sekarang: kanyaah itu bisa tumpah kapan saja, jika kita tak lagi peduli mengisinya. Mungkin, di tengah gempuran zaman, kita perlu kembali ke dapur—tak harus masak semur daging, tapi setidaknya masak niat untuk mengunjungi tetangga yang sakit, atau mengirimkan rantang sederhana pada janda tua di ujung jalan. Sebab, seperti kata Aa Oman: “Rezeki yang tak dialirkan, akan jadi kubangan yang membusuk.”
Nganteuran mungkin tinggal kenangan. Tapi selama masih ada yang mau membuka rantang dan hati, kanyaah tak akan benar-benar hilang.
