Pertemanan adalah satu ikatan yang bukan hanya berisi tentang kentalnya persaudaraan, namun tentang kenangan yang terukir di dalamnya. Perjuangan dan perasaan bernasib sama, yang sering membuat kita menemukan perasaan yang berbeda. Ikatan khusus berteman, bersahabat lalu menjadi saudara adalah tahap yang sangat hangat. Tidak terkecuali persahabatan ayah dengan temannya yang merupakan pembudidaya buah.
Persahabatan yang Sangat Rekat
Tahap itu pula yang dirasakan oleh ayah saya. Ayah adalah seorang pensiunan Kepala Sekolah, yang pernah menempuh pendidikan di Majalengka. Ia habiskan masa-masa Sekolah Menengah sampai berkuliah di sana.
Namun menurutnya daerah yang paling membuatnya berkesan adalah tempat tinggal sahabatnya. Ayah biasa menyebutnya dalam cerita dengan sapaan Ki Endang. Terbaca sudah dalam ingatan saya, sudah pasti orang-orang yang akan ayah saya temui adalah teman-teman seangkatannya dengan usia yang sebaya, dan riwayat karir yang sama.
Bernostalgia
Tepat di hari Minggu kemarin, Ayah saya diundang oleh Ki Endang. Ia mempersilakan Ayah untuk membawa anak dan cucunya. Katanya di sana musim buah-buahan, tentu saja Ayah sangat bersemangat karena sahabat Ayah itu memiliki kebun mangga dan jambu kristal yang notabene cukup terkenal dan menjadi icon khas dari Majalengka.

Ayah saya menawari anak saya untuk ikut, katanya sahabatnya ingin berkenalan dengan anak dan cucu ayah. Supaya suatu saat nanti jika pun hidup tidak panjang umur, maka silaturahmi akan berkelanjutan sampai anak dan cucu mereka. Harapan yang hangat, dijalin oleh lingkungan persahabatan ayah saya.
“Urang teh karolot, duka ari hirup saratus taun ewang mah. Tah sugan atuh anak incu nyaho mah silaturhami urang teh panjang.”
Salah satu teman ayah yang lain mengungkapkan harapan. Mungkin jika terjadi hal yang kurang baik pada salah seorang diantara mereka, anak cucunya bisa ingat bahwa ada sahabat-sahabatnya yang harus dikabari. Ayah saya sebenarnya sirclenya itu-itu saja, tapi cara berpikir dan ketenangan hidup yang mereka miliki tidak main-main.
Terdengar dari percakapan yang menarik saat mereka beradu pendapat. “Beruntung ya kita di zaman sekarang sudah merasakan momen pensiun. Tak terbayang sudah jika kita masih bekerja ditengah banyaknya kebijakan yang rumit hari ini.” Mereka seketika tertawa kecil.
Wajar saja, Ayah saya pun berusia 64 tahun. Mungkin usia mereka sudah bukan lagi membahas teknologi dan kemajuan cara mengajar. Melainkan berbicara mengenai pengalaman pembentukan mental calon pendidik dan segudang catatannya.

Saya pun melihat ketenangan yang begitu nyata di wajah mereka. Salah satunya adalah pola kehidupan yang dijalani Ki Endang yang rumahnya kita sambangi. Hingga sekarang di masa pensiun dengan istrinya, tampak sekali dia ketenangan dan rasa syukur yang luas.
Saat pertama kali datang kami disuguhi camilan dan dipersilakan makan. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup menyita waktu, yakni sekitar 2 jam. Kami lantas makan, lalu kami bercengkrama sebentar.
Bercerita Tentang Budidaya Tanaman
Bercerita tentang pohon-pohon buah yang sedang tren dan cerita budidayanya. Tak lama kami dipersilakan memetik buah, buah yang kami ambil adalah pertama kali adalah Rambutan. Lalu sahabat Ayah tiba-tiba membawa Pisang yang ia panen di kebunnya.

Namun Ayah lebih tertarik untuk mengambil bibitnya, Pisang yang dilihat di rumah, bibit pohonnya pun dibawa pulang. Ki Endang mempersilahkan untuk membawa banyak hal yang memang diinginkan oleh teman-temannya. Selanjutnya, momen yang paling utama ditawarkan adalah pengalaman memetik Jambu.
Kami dipersilakan memetik Jambu langsung dari pohonnya. Pohonnya memang tidak banyak, tapi dalam satu periode panen bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang lumayan. Menurutnya sudah ada yang membeli Jambu-jambu ini sebelumnya.
Jagung Sebagai Komoditi Utama
Akan tetapi di penawaran yang berulang, ia sengaja menolak karena sudah diniatkan untuk menjamu para sahabatnya. Kabarnya, ia sering mengundang sahabatnya untuk memetik Jambu secara cuma-cuma di belakang rumah. Selain itu ia juga menanam Jagung sebagai tanaman utamanya di kebun itu.

Jagungnya lantas dipanen dan dijemur untuk mendapatkan hasil terbaik. Belum kami benar-benar beristirahat, sahabat ayah mengambil Sirsak sebagai tambahannya. Menurutnya, sirsak yang ia punya beda dengan daerah lain, karena rasanya manis sekali.

Tanaman yang Dibudidayakan
Ada hal yang menarik bagi saya adalah adanya pohon pacar air yang dibudidayakan. Masyarakat lokal menyebutnya Bunga Kingkong. Meskipun hanya ditanam dan ditinggal begitu saja ketika pohonnya berbunga, tetapi bunganya itu bisa menjadi komoditi ekonomi yang menjanjikan untuk masyarakat sekitar.

Adapula tanaman Kanikir (Di Majalengka berbeda penyebutan) yang dibudidayakan, bahkan di jalan sempit sekitar rumah. Terjawab sudah penemuan saya di tengah kebun Pisang tadi, kenapa tiba-tiba ada kumpulan tanaman bunga yang dibiarkan begitu saja. Setelah kami berjalan-jalan, mengambil banyak buah, lalu kami pulang membawa masing-masing buah tangan dari sahabat Ayah itu.

Seru sekali mba diantikaaa 😀
Seru ya mbak. Apalagi kalau kita merasakan sendiri sensasinya..
Terima kasih sudah berkomentar di tulisan kami, Mbak Rinta.
Ini tulisan kontributor ruangpena.id (Nida Nafisah) memang selalu seru. Sehat selalu.