Udara Cimahi selalu punya cara sendiri untuk menyapa pagi: dingin yang menusuk perlahan, merayap lewat celah piyama katun tipis yang kugunakan. Di luar, langit masih menyisakan rona kebiruan yang pekat, belum tersentuh warna keemasan matahari. Jam dinding berbentuk lingkaran sederhana di dapur menunjukkan pukul 04.30 WIB. Bagi kebanyakan orang, jam segini mungkin masih menjadi bagian dari lelapnya tidur. Namun bagiku, ini adalah simfoni pertama dari kehidupanku yang tenang.
Langkah kakiku yang bertelanjang menyentuh lantai keramik dapur yang dingin. Tanpa perlu menyalakan lampu utama agar tak mengejutkan ruangan, aku menyalakan lampu kecil di sudut counter. Tanganku bergerak secara refleks—gerakan yang sudah dihafal oleh otot-otot tubuhku selama bertahun-tahun. Menakar tiga mangkuk beras lokal, membilasnya dengan air keran yang dinginnya seperti es cair, lalu memasukkannya ke dalam rice cooker. Bunyi klik saat tombolnya ditekan ke bawah menjadi penanda resmi bahwa hari baru telah dimulai.
Di sebelahnya, aku menyalakan kompor gas. Nyala api biru kecil membelai bagian bawah wajan tebal. Minyak goreng memercik pelan saat tempe potong yang sudah dimarinasi garam dan ketumbar masuk ke dalamnya. Bau harum kedelai terbakar bersatu dengan uap air mendidih dari ketel teh. Aku menghela napas panjang, menikmati keheningan pagi yang murni. Tidak ada suara bising lalu lintas, tidak ada dering telepon. Hanya ada bunyi desir minyak, gemericik air, dan detak jantungku sendiri.
Setengah jam kemudian, saat nasi mulai mengepulkan uap wangi dan tempe goreng sudah tertata rapi di piring seng berenamel, aku melangkah ke kamar mandi belakang. Menyalakan keran untuk berwudu. Air dingin Cimahi yang menyentuh wajah, tangan, dan kakiku seolah membilas sisa-sisa kantuk, menggantikannya dengan rasa syukur yang membuncah. Di atas sajadah lusuh di sudut kamar, dalam sujud Subuh yang hening, aku menyatukan jiwaku dengan alam semesta.
Usai berdoa, aku berjalan ke teras depan yang masih diliputi kabut tipis. Saatnya ritual wajib berikutnya: menyalakan mesin motor. Motor bebek buatan tahun 2008 berawarna hitam pudar itu terparkir di halaman rumput yang masih basah oleh embun. Aku menarik tuas cuk, menekan kick starter dengan kakiku.
Brem… brem… brem…
Suara deru mesin tua itu memecah keheningan jalanan kecil di depan rumah. Suara itu nyaring, jujur, dan tidak sabaran. Dan seperti yang sudah terjadi selama ribuan pagi sebelumnya, suara mesin motor itulah “bel alarm” paling efektif di rumah kami.
Dari dalam rumah, terdengar derap langkah kaki kecil yang bersahutan, diselingi pintu kamar mandi yang dibuka-tutup, dan suara mesin cuci piring mandiri yang tak lain adalah anak-anakku yang mulai beraktivitas. Aku tersenyum kecil sambil mengusap jok motor yang agak basah terkena embun.
Tujuh tahun.
Tepat tujuh tahun aku menjalani ritme ini tanpa terputus. Mengingatnya membuat dadaku berdesir hangat. Aku ingat betul hari pertama ritme ini terbentuk. Waktu itu tahun 2019, si sulung—Nisa—baru berusia enam tahun, siap masuk TK. Rambutnya kriting kecil-kecil dan matanya selalu berbinar bingung tiap kali didudukkan di jok belakang motor bebek ini. Tubuhnya begitu kecil hingga tangannya hampir tak sampai melingkari pinggangku.
Lalu beberapa tahun kemudian, giliran adiknya, Rian. Anak laki-laki yang hiperaktif itu mengikuti jejak kakaknya. Dulu, mengantar mereka adalah perjuangan emosional: tangisan di pintu gerbang sekolah, sepatu yang tertukar, hingga tas bergambar kartun yang beratnya seolah melebihi bobot tubuh mereka sendiri.
Kini, waktu rasanya seperti helai daun kering yang tertiup angin—berlalu cepat tanpa suara, namun meninggalkan jejak yang dalam.
Pintu depan terbuka. Nisa keluar lebih dulu. Seragam putih-biru SMP-nya tampak rapi. Tinggi badannya kini sudah melewati bahuku. Wajahnya yang mulai beranjak remaja menyisakan sedikit kelelahan siswa kelas 3 SMP yang mulai berkutat dengan les dan persiapan ujian. Ia membawa tas punggung hitam yang cukup berat, mengangguk padaku tanpa banyak bicara, lalu duduk di kursi teras untuk memakai kaos kaki.
Tak lama kemudian, Rian menyusul. Langkah kakinya agak canggung. Ini baru hari keempat ia mengenakan seragam putih-biru yang masih terasa agak kebesaran di tubuhnya. Sebagai siswa baru kelas 1 SMP, ada campuran rasa bangga dan cemas yang terpancar jelas dari caranya membetulkan letak sabuk dan kerah bajunya.
“Sudah sarapan semuanya?” tanyaku lembut.
“Sudah, Yah. Nasi tempe sama kecap,” jawab Rian pendek sambil tersenyum tipis.
“Ayo naik. Nanti keburu jalanan padat,” ucapku.
Kami bertiga bertumpuk di atas motor bebek tua itu—sebuah pemandangan klasik keluarga kelas menengah di pinggiran kota. Nisa duduk di paling belakang, memegang pinggangku, sementara Rian menyelip cerdik di antara aku dan Nisa, atau kadang jika jalanan sepi, duduk paling depan dekat setang. Pagi ini, Rian memilih duduk di tengah, terapit aman di antara ayah dan kakak perempuannya.
Mesin motor kuputar pelan, lalu roda-rodanya mulai menggelinding membelai aspal dingin Kota Cimahi.
Jalanan pagi ini begitu memikat. Udara dingin pegunungan menyapu wajah kami tanpa ampun, namun justru kebekuan itulah yang membuat paru-paru terasa segar. Kami membelah jalanan Cimahi yang khas: melewati kompleks-kompleks militer bernuansa nostalgia dengan bangunan berarsitektur kolonial yang kokoh, berpagar pohon-pohon Mahoni dan Angsana tua yang menjulang tinggi.
Saat melintas di dekat area Alun-Alun Cimahi, matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Sinar pertamanya yang berwarna keemasan menerobos masuk di antara celah-celah dedaunan lebat pohon Angsana. Cahaya itu memantul di aspal yang basah, menciptakan pendar-pendar kecantikan sederhana yang tak ternilai. Komorebi—istilah yang pernah kubaca di sebuah buku tua di pasar kaget—momen ketika cahaya menyelinap di antara bayangan daun. Aku menahan napas sejenak, mengagumi sapuan garis cahaya yang jatuh di stang motorku.
Orang-orang sering bertanya padaku, atau setidaknya memandangku dengan tatapan kasihan. Apakah tidak bosan? Apakah tidak lelah menjalani hidup yang begitu-begitu saja selama bertahun-tahun? Bangun jam empat pagi, memasak, mengantar anak, bekerja, pulang, merawat rumah, dan mengulanginya lagi besok. Terjebak dalam pusaran rutinitas yang monoton di sebuah kota kecil yang tenang.
Namun mereka tidak mengerti. Di dalam monotoni itulah aku menemukan kedamaian yang sejati.
Bagi orang lain, mengantar anak ke sekolah mungkin hanyalah sebuah tugas, sebuah kewajiban yang harus diselesaikan sebelum memulai “hidup yang sebenarnya” di kantor atau tempat kerja. Namun bagiku, perjalanan 20 menit membelah Cimahi setiap pagi ini adalah inti dari hidup itu sendiri. Rasa hangat dari punggung kecil anak-anakku yang bersandar di tubuhku, hembusan angin dingin yang menerpa pipi, dan deru mesin motor tua ini adalah bentuk doa yang paling jujur.
Aku tidak memiliki mobil mewah, tidak punya karier mentereng yang dibicarakan orang dalam reuni sekolah, dan tidak pernah berlibur ke luar negeri. Namun saat ini, di atas motor tua ini, menikmati cahaya matahari pagi yang menembus dedaunan bersama kedua anakku yang tumbuh sehat, aku merasa menjadi manusia paling kaya di dunia. Aku tidak meminta lebih. Aku menerima diriku, hidupku, dan seluruh kesederhanaan ini dengan tangan terbuka.
“Yah, nanti Rian pulang jam dua, ya. Ada pengenalan ekstrakurikuler,” suara Rian berteriak kecil menembus angin pagi, memecah lamunanku.
“Iya, Nanti Ayah jemput. Nisa pulang jam berapa?” tanyaku sedikit mengeraskan suara agar terdengar sampai belakang.
“Nisa ada kelas tambahan sampai jam empat, Yah,” jawab si sulung singkat.
Aku mengangguk dalam helm. Roda-roda motor terus berputar, mendekati gerbang sekolah SMP negeri tempat kedua buah hatiku menuntut ilmu. Satu babak rutin baru saja dimulai lagi pagi ini. Sebuah rutinitas yang kupeluk erat-erat, tanpa menyadari bahwa roda waktu yang berputar lambat ini, perlahan-lahan mulai membawa perubahan yang tak bisa kukendalikan.
