Mendampingi Emak Saat Sakit (Sumber : Dokumen Pribadi/Dedeh)
Aku sebagai anak bungsu, melihat ketegaran adik bungsu bapak, seperti berkaca pada diri sendiri. Pria bernama Evi Sofian, adalah si anak bungsu yang tumbuh bersama ibu. Tumbuh bersama kasih sayang dan kelembutan, mentalnya harus bergelut dengan perasaan sakit yang disembunyikan.
Pagi ini, aku membereskan tempat tidur dan bagian tengah rumah yang berantakan sedari malam, bekas anakku bermain sampai ketiduran. Aku hari ini tidak berencana memasak apapun, sebab di meja masih ada ayam goreng yang kemarin tidak habis, akan kuhangatkan hari ini untuk sarapan kita bertiga. Saat aku melanjutkan bebenah rumah, tiba-tiba handphone suamiku berbunyi.
Adikku menelpon dan memberi kabar, bahwa nenek kami mengalami penurunan kondisi kesehatan. Mama meminta kami untuk segera ke rumah mama, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan rumah, dan bergegas mengganti pakaian untuk segera pergi ke rumah mama memboyong anakku, yang baru saja bangun dari tidur lelapnya.
Setibanya di rumah mama, di sana sudah ada adik dari bapak mertuaku yang tengah melamun, duduk menghadap nenek yang tertidur. Menurut penuturannya, nenek sedang mandi dan memang sudah biasa di bopong anak-anaknya. Salah satu yang membantu nenek mandi adalah dia, Mang Evi biasa aku sapa.
Dia adalah anak paling kecil yang dimiliki oleh nenek, sekaligus adik bungsu bapak mertuaku. Dia telaten mengurus emak, sapaanku sehari-hari pada nenek dari suamiku. Sedari masuk rumah sakit, kontrol, dan selama emak sakit, dia adalah anak bungsu yang selalu siap memangku mamanya setiap kali ada keinginan berpindah tempat atau beralih dari tempat tidur.
Dari berubah posisi, ataupun pergi ke kamar mandi. Mang Evi adalah orang yang sering membantu emak bangun dari tempat tidurnya, ia adalah sosok laki-laki yang tegar dan selalu menampakan wajah yang ceria disaat saudara-saudara lain tersedu menangis dan sedih karena sakitnya emak. Mang Evi justru datang dan menghibur emak tanpa lelah, meski dia sering mengunjungi emak sepulang dia bekerja seharian.
Dia pria baik hati dan pekerja keras, tapi di sisi keras kehidupannya, aku tetap melihat mental bungsu dari Mang Evi. Aku menulis ini, karena aku merasakan betul apa yang Mang Evi rasa. Selama ini, kehidupan menjadi anak bungsu selalu menjadi sesuatu yang tidak bisa diutarakan kepada semua orang, sebab tidak semua orang mudah memahaminya.
Aku mengerti betul dihati kecilnya, mamang adalah orang yang paling tidak ingin kehilangan emak. Orang yang paling menginginkan emak selalu ada di hidupnya, kulihat pun dia hari ini ditemani dan dituntun emak hingga fase berumah tangga.
Aku baru mengenal Mang Evi beberapa tahun belakangan ini. Jika dihitung, aku mengenal suamiku dan keluarganya belum genap 10 tahun. Tapi, diantara semua saudara-saudara bapak, Mang Evi adalah orang yang terlihat mudah menerima dongeng dan ceritaku, melalui alur bicaranya yang nyaman dan sekenanya.
Sampai ketika aku duduk di sampingnya, menghadapi emak yang sedang mengalami penurunan kondisi kesehatan, aku tak kuasa menahan tangis. Aku membaca surat Yaasin sambil menitikan air mata.
Mang Evi punya keyakinan yang sangat besar, bahwa emak akan kembali seperti sedia kala menemani dia menjadi dewasa, dan menjadi orang tua. Aku melihat dari tatap matanya.
” Aku yakin, Emak tadi cuma kedinginan,” ujarnya.
Afirmasi positif yang dimiliki oleh Mang Evi ternyata terbukti. Emak kembali segar dan bisa berbicara lagi dengan kami, padahal tadi emak lemas dan tiba-tiba hilang kesadaran. Kami sekeluarga kehilangan kontak matanya.
Aku benar-benar melihat sesuatu yang berbeda dari Mang Evi, mental bungsuku seperti terguar seketika. Mang Evi punya rasa yang sama denganku, namun ia tak menyentuh sisi luka masa kecil yang menganga begitu dalam dan besar. Kehidupan masa kecilku yang penuh luka mungkin masuk kategori trauma orang zaman sekarang.
Aku yang tak pernah ingin menghadiri kematian seseorang, aku tak pernah sanggup melihat orang sakit. Aku yang pernah kehilangan sesuatu yang sangat besar, dan itu adalah satu bagian fase kiamat di hidupku. Kehidupan tak pernah bisa ditebak siapa yang akan meninggalkan kita, dan siapa yang akan kita tinggalkan.
Tak bisa dipungkiri, aku memiliki luka yang tidak bisa dimaafkan oleh siapapun termasuk diriku sendiri. Aku kehilangan ibu saat usiaku masih sangat belia, aku belum mengerti apapun waktu itu. Efeknya sekarang, aku menjadi rapuh dan tidak sanggup menghadiri acara kematian. Siapapun.
Aku melihat ketegaran Mang Evi, seperti merasa melihat diriku sendiri. Ia begitu bersemangat setiap kali berjumpa dengan emak, ia selalu merasakan kesembuhan datang begitu dekat menghampiri emak. Hati kecilnya menggelembung, berisi gas harapan, harapan bahwa emak akan lebih sehat dari ini.

Aku berkaca, dan perlahan melihat diriku sendiri. Menjadi bungsu memang manja, punya perasaan yang melekat dalam diri bahwa dia akan memiliki perhatian lebih dari ibu, hal itu berpengaruh besar bagi kehidupan selanjutnya. Namun setelah disadari, anak bungsu itu lebih santai, humoris, dan penyayang.
Sisi lainnya adalah. Mereka lebih rapuh, dan lebih sakit saat menemui luka.
