Persiapan Upacara 17 Agustus yang Ke 81 (Sumber: Dokumen Pribadi)
Tahun 2026 ini Indonesia merayakan kemerdekaan, tepatnya ke 81 tahun. Di tahun ini pula banyak inovasi pemerintah dan program baru yang diharapkan berpihak pada masyarakat. Masyarakatnya masih banyak terdengar menghadapi permasalahan hidup yang mendasar, padahal seharusnya Indonesia sudah merdeka, merdeka seluruhnya.
Agustus telah berlalu, hari ini kita sudah menginjak bulan September. Dimana di bulan September ini sering saya menonton film G30S PKI di televisi nasional, yang seringkali menjadikan September ini sebagai momen nasionalis sekaligus menayangkan film-film perjuangan di Indonesia. Namun setelah September ini datang, saya ingin melakukan kilas balik tentang apa saja yang saya lakukan di bulan Agustus.
Saya kemarin tak sengaja melihat di dalam galeri ponsel, terdapat sebuah gambar yang membuat saya jauh berpikir. Ada nyeri rasanya, bahkan ada perasaan yang berasal dari banyak keresahan, entah kecemasan apa ini namanya. Gambar yang saya punya ini pun, menggambarkan hal demikian.
Melalui gambar ini saja, saya bisa melihat ketimpangan. Visual semacam ini sangat terasa sampai ke hati, menyedihkan dan menyayat. Bagaimana tidak, klaim negara kaya telah membuat semua warganya menganga.
“Negara Kaya? Kaya Apanya?”
Sebab, alih-alih kekayaan itu membuat warga sejahtera, justru hari ini warga merasakan betul dampak dari efisiensi anggaran yang sampai ke desa. Bahkan sampai pada program-program terkecil sekalipun. Sebut saja perbaikan jalan desa dan infrastruktur fisik yang biasanya dibiayai oleh dana desa, sekarang banyak yang dipotong.
Realita sekarang, masyarakat membuat celengan sendiri untuk membuat dan memperbaiki jalan yang selama ini bergantung pada dana desa. Sedangkan jalan yang baik akan berimbas pada hal lain seperti transportasi yang langsung menghubungkan masyarakat di bidang ekonomi dan pendidikan masyarakat. Dana desa yang terkena potongan tinggi, membuat pembangunan fisik dan sumber daya manusia di daerah tidak seoptimal dulu.
Masyarakat mempertanyakan, mengapa pembangunan koperasi melambat. Waktu terus bergulir, namun masyarakat melihat bahwa pembangunan koperasi desa merah putih di Indragiri. Masyarakat pun tidak bisa banyak berkomentar, karena memang ini program nasional.

Pada momen 17 Agustus kemarin, masyarakat melaksanakan upacara bendera di lapangan desa, tepat di depan koperasi yang sedang dibangun. Saat itu hujan tiba-tiba mengguyur, namun semangat kemerdekaan tetap ada di dada masyarakat desa Indragiri. Sempat ditunda beberapa menit, dan gambar di atas diambil saat jeda sebelum upacara dilaksanakan.
Gambar ini saya ambil dengan penuh rasa haru. Potret ini dipenuhi doa yang padat dikirim ke langit. Berisi harapan semoga efisiensi anggaran yang ditujukan untuk pembangunan koperasi ini memang akan berdampak signifikan bagi perekonomian masyarakat ke depan.
Warga desa sangat berharap, bahwa koperasi ini akan berjalan baik dan tidak hanya menyerap anggaran untuk bangunannya saja. Semoga nantinya, koperasi bisa berperan sebagai wadah yang sesuai dengan fungsinya. Kembali pada cita-cita gotong royong dan kekeluargaan, yang berimbas pada kesejahteraan warga.
Gambarnya sederhana, hanya sebuah mic, lapangan, anak sekolah, dan bangunan koperasi yang belum rampung. Potret yang berisi harapan besar anak sekolah yang masih polos, suara masyarakat, dan semangat kemerdekaan masyarakat di desa. Melalui gambar yang sangat menyentuh hati ini saya banyak berdoa, semoga kebaikan menyertai program nasional ini.
Semoga kendala yang menyebabkan pembangunan koperasi Desa Indragiri terhambat, bisa segera teratasi. Pembangunan selesai, cepat berdampak, dan rupa-rupa pemberdayaan di desa bisa lebih optimal lagi setelah anggaran kembali pulih seperti semula. Negara pasti tak ada tujuan lain, selain mengupayakan ketentraman, damai dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Tulisan ini hanya berisi sudut pandang seseorang mengenai sesuatu, tidak bermaksud menambah provokasi atau menulis asumsi yang bisa mengakibatkan kegaduhan.
