Pagi ini, sebuah pesan di grup WhatsApp menghadirkan kabar yang menyejukkan hati sekaligus membangkitkan ingatan lama. Pesan tersebut memberitakan adanya kegiatan rutinan Sima’an Al-Qur’an yang dilaksanakan di Desa Maguhan, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, kabar ini terasa seperti pengingat bahwa cahaya Al-Qur’an masih terus dijaga dan diwariskan.
Kegiatan Sima’an Al-Qur’an ini merupakan tradisi yang telah lama hidup di Kabupaten Ponorogo, bahkan telah dikenal sejak masa kecil banyak masyarakatnya. Hingga hari ini, tradisi tersebut masih dilestarikan dan dijaga kesinambungannya, salah satunya di Desa Maguhan. Kegiatan ini diprakarsai oleh Bapak Ahmad Fauzan Khumaidi, bersama para generasi muda Desa Maguhan, sebagai wujud nyata cinta kepada Al-Qur’an dan tanggung jawab menjaga tradisi ibadah leluhur.
Sima’an Al-Qur’an sebagai Ibadah Kolektif
Sima’an Al-Qur’an dilaksanakan secara rutin setiap bulan, tepat pada hari Rabu Pahing. Sejak selepas Subuh hingga menjelang Isya’, para ḥuffāẓ (penghafal Al-Qur’an) melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bergantian, dimulai dari juz pertama hingga khatam 30 juz. Bacaan dilakukan dengan tartil, penuh adab, dan suasana khidmat.
Sementara itu, masyarakat dari berbagai kalangan berbondong-bondong mendatangi lokasi kegiatan. Mereka datang dengan niat ibadah, menyimak bacaan Al-Qur’an, dan ngalap berkah dari kalam Allah. Tidak sedikit yang rela meninggalkan pekerjaan dan urusan dunia demi duduk bersimpuh mendengarkan ayat-ayat suci yang dibacakan.
Tradisi ini sejalan dengan perintah Allah Swt. dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dengan seksama dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A‘rāf: 204)
Ayat ini menegaskan bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan penuh perhatian adalah ibadah yang mendatangkan rahmat Allah Swt.
Peran Tokoh dan Generasi Muda
Yang patut diapresiasi, kegiatan Sima’an Al-Qur’an di Desa Maguhan tidak hanya digerakkan oleh tokoh masyarakat, tetapi juga melibatkan para generasi muda. Di bawah prakarsa Bapak Ahmad Fauzan Khumaidi, para pemuda desa mengambil peran penting dalam pengorganisasian, teknis pelaksanaan, hingga penyiaran melalui media digital.
Keterlibatan generasi muda ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak terasing dari kehidupan anak muda. Justru sebaliknya, Al-Qur’an menjadi pusat aktivitas, sumber inspirasi, dan identitas spiritual yang terus dirawat. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan seiring dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ruh dan maknanya.
Majelis Al-Qur’an dan Turunnya Rahmat
Sima’an Al-Qur’an juga merupakan bentuk majelis yang dijanjikan banyak keutamaan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam hadis sahih disebutkan:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Walaupun dalam sima’an para jamaah lebih banyak menyimak daripada membaca, hakikatnya tetap sama: berkumpul karena Al-Qur’an dan memuliakan firman Allah.
Menjaga Tradisi, Menjaga Masa Depan Iman
Di tengah tantangan zaman, keberlangsungan Sima’an Al-Qur’an di Desa Maguhan adalah nikmat besar yang patut disyukuri. Lebih dari sekadar kegiatan rutin, sima’an menjadi jembatan antara generasi terdahulu dan generasi masa kini, antara tradisi lisan dan media digital, antara kesalehan personal dan kesalehan sosial.
Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi langkah Bapak Ahmad Fauzan Khumaidi, para ḥuffāẓ, generasi muda Desa Maguhan, serta seluruh masyarakat yang memuliakan Al-Qur’an. Semoga tradisi ini terus hidup, mengalirkan cahaya iman, dan menjadikan Desa Maguhan sebagai salah satu penjaga denyut Al-Qur’an di bumi Ponorogo.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ، الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ.
Aamiin.
