Perempuan itu bernama Salma. Ia tidak tercatat dalam peta kebijakan, tidak hadir di ruang rapat pembangunan, Namanya tak pernah disebut, alamatnya tak pernah ditanya, suaranya disimpan sunyi. Namun rumahnya selalu menjadiyang pertama menerima akibat.
Salma hidup dari pagi yang berulang, menyapu halaman,menanak nasi,menunggu suami pulang dengan bau tanah dan letih.
Baginya, hidup adalah kesinambungan bukan kejutan,bukan perubahan mendadak yang merobohkan arah.melainkan kesetiaan kecil pada hari.
Titme sabar yang ia rawat,agar dunia tetap utuh,meski rapuh oleh keputusan jauh kuasa.
Sungai di belakang rumah,dulu hanya garis air tempat anak-anak belajar sabar.
Tak pernah ada takut di sana,karena hutan di hulumasih setia menjaga hujan agar turun secukupnya,agar tanah tahu cara menahan,agar air mengalir tanpa amarah,dan kehidupan tumbuh tanpa perlu waspada.
Salma tak mengenal istilah ekologi.
Ia hanya percaya pada tanda-tanda lama,jika pohon berdiri,rumah akan aman.
Jika akar kuat,air akan tahu batasnya.
Pengetahuan itu ia warisi dari tanah, dari musim,dari hidup yang tak pernah diajarkan
di ruang ber-AC atau lembar kebijakan.
Sampai suatu malam,hujan turun seperti keputusan yang telah disahkan tanpa pernah singgah ke kampungnya.
Air datang tanpa aba-aba,mula-mula di mata kaki,lalu naik dengan keyakinan yang tak bisa ditawar.
Salma berdiri di ruang tamu,ketika batang-batang kayu ikut hanyut bersama arus.
Kayu-kayu itu terasa asing,namun seperti pernah dikenalnya barangkali dari berita tentang hutan yang dibuka atas nama kemajuan dan pertumbuhan.
Ketika air setinggi dada,Salma mengangkat anaknya ke bahu.
Foto pernikahan di dinding terlepas dan menghilang.
Bukan karena cinta rapuh, melainkan karena rumah kehilangan pijakan yang selama ini ia percayai. Seperti kepercayaan kecil pada negara yang tak pernah benar-benar hadir.
Di dadanya,kemarahan mengendap seperti lumpur. Ia ingin bertanya, ingin berteriak,ingin menunjuk ke hulu dan menyebut nama-nama. Namun suaranya tenggelam oleh gelombang kata-kata penguasa yang menghantam lebih keras daripada air.
Pidato datang bertubi-tubi, seperti tsunami kebijakan resmi, tinggi, dan tak tersentuh. Gelombang suara itu meluluhlantakkan makna, menenggelamkan kesaksian, menyapu bersih ruang tempat orang kecil bisa berbicara. Kemarahan Salma tak pernah sampai ke darat.
Di pengungsian, ia mendengar istilah-istilah yang dingin dan berjarak:
“fenomena alam”, “cuaca ekstrem”, “musibah tak terelakkan”. Tak satu pun menyebut izin-izin yang diteken jauh sebelum hujan memutuskan turun,jauh sebelum air memilih jalannya.
Negara hadir dengan spanduk. Kamera datang lebih cepat daripada pertanyaan.
Korporasi menghilang di balik istilah teknis dan anak perusahaan.
Sementara Salma belajar mengeja ulang hidup di atas kasur lembapdan bau lumpur
yang belum sempat mengering.
Ia pulang ke rumah yang tinggal rangka.Menjemur pakaian yang selamat, mencuci piring yang tersisa, dan kembali memasak, seolah dunia masih bisa dirapikan dari dapur kecilnya,
dari kesabaran yang dipaksa menjadi warisan. sebab tak semua luka diberi ruang untuk menuntut keadilan.
Salma tidak menuntut apa pun yang besar. Ia hanya ingin rumahnya tidak lagi menjadi tempat belajar berenang bagi perempuan-perempuan yang kemarahannya selalu ditenggelamkan.
Puisi ini bukan tentang hujan. Ia tentang kekuasaan yang suaranya menjelma gelombang,
menghantam tanpa mendengar. Dan tentang rumah-rumah kecil yang tenggelam lebih dulu sebelum negara sempat benar-benar bersuara.
Catatan Kaki
- Berbagai penelitian lingkungan menunjukkan bahwa penggundulan hutan di wilayah hulu dan daerah tangkapan air secara signifikan meningkatkan risiko banjir bandang. Hilangnya tutupan vegetasi menyebabkan tanah kehilangan daya serap, sehingga air hujan langsung mengalir ke wilayah hilir dengan daya rusak tinggi. Fenomena hanyutnya kayu gelondongan dalam banjir kerap menjadi indikator adanya aktivitas pembalakan di kawasan tersebut.
