Menikah adalah hal sakral selama perjalanan manusia. Dalam Islam, menikah adalah ajang penyempurna agama. Tapi, bagaimana denganku yang mengalami jalan pernikahan yang selalu gagal?
Namaku Rina, orang di kampung sudah fasih betul kalau aku adalah seorang janda. Saat ini, usiaku lima puluh tiga tahun. Aku punya saudara kembar bernama Rida, dia memiliki dua orang anak sama sepertiku.
Kata ibu dulu, Rida lahir sekitar tujuh menit setelah aku lahir. Rida juga tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang sangat beruntung dalam hal asmara. Dia sudah menikah dengan perempuan baik, yang berasal dari kampung tetangga, dia saliha dan sangat berbakti pada suaminya.
Sedangkan aku sudah pernah mengalami tiga kali berganti bahtera pernikahan. Pada pernikahan yang pertama, Tuhan membuktikan rasa cinta dan kasihNya dengan memanggil suami tercintaku pulang lebih cepat dengan cara membuatnya celaka di perjalanan dinas. Jelas saja, anak pertama kami tumbuh tanpa sosok seorang ayah, dan aku harus kuat untuknya.
Setelah berkian lama aku sendiri dan sibuk menjadi penjaja sayur di pasar, akhirnya aku memutuskan untuk belajar membuka hati, dan kembali mengawali bab baru kehidupan berjudul pernikahan. Tapi tak berlangsung lama pernikahanku yang kedua, aku memutuskan untuk bercerai waktu itu. Alasannya, banyak yang tidak bisa dipertimbangkan bagiku waktu itu, mimpi kita sudah tidak sama.
Dari pernikahan keduaku dengan pemilik toko grosir, aku memiliki anak lelaki yang kembali harus merasakan belaian kasih dari orang tua tunggal sepertiku. Lelaki itu sebenarnya ayah yang baik, hanya saja aku memiliki jalan pemikiran yang tidak tumbuh seirama dengannya. Hal itu membuat aku ingin pisah dan memutuskan membawa anak kami, dan aku rasa pada saat itu ia tak perlu tahu ayahnya siapa.
Orang lain juga tahu kalau aku memutuskan untuk membesarkan anak sebisa mungkin, semampuku. Aku kembali menyendiri dan fokus menjadi penjaja sayur yang banyak dinanti orang. Aku menyukai pekerjaanku, selalu ku syukuri apapun yang terjadi pada hidupku. Namun ditengah waktuku menikmati kesendirian dan tak berniat membuka hati, hadirlah seorang pelanggan yang selalu memberi perhatian lebih.
Dia adalah penjaja sayur di kampung yang sering ambil barang dariku. Aku merasa kehangatan itu datang lagi, dan aku tiba-tiba sanggup menikah dengannya. Entah apa yang terjadi pada diriku, terutama perasaan aneh dalam diriku tetang caraku membuka hati.
Ternyata setelah dirasakan, seperti ada yang salah di dalam jiwaku. Terbukti di lima tahun pertama, pernikahanku yang ketiga, aku sendiri tak sanggup menghadapi diri sendiri. Aku tak sabar menghadapi orang baru dan kesulitan memahami mereka.
Kalau dongeng terdahulu, dalam kisah Bawang Merah dan Bawang Putih, aku seperti ibu tiri yang tergambar seperti Meriam Belina di mata mereka. Meski aku terus memperbaiki diri untuk dekat dengan mereka, tapi rasanya semakin banyak usaha yang kulakukan, maka semakin aku tidak diterima oleh anak-anaknya. Daripada aku tersiksa batin harus bergelut bertanya pada diri sendiri, siapakah yang suamiku sayang? Aku atau anaknya.
Pikirku, sebaiknya aku cepat mengalah daripada anak-anak menjadi durhaka pada ayahnya. Pikiran dan hati mereka tidak sejalan denganku. Aku rasa, berpisah adalah solusi paling baik untuk kedamaian batin mereka.
Aku sekarang memutuskan untuk hidup sendirian, aku hidup di rumah sendiri. Anak-anak kandungku sudah berkeluarga dan membawa istri-istri mereka. Mereka memiliki karir dan sudah bisa menemukan hidup mereka sendiri tanpaku.
Aku di sini sendiri menikmati hari tua, membuka warung kecil-kecilan di luar rumah. Sebenarnya tidak begitu lengkap isinya, tapi karena anak-anak mengirimiku uang jajan, warungku bisa sedikit berkembang. Aku rasa keadaan ini lebih baik jika dibandingkan hanya dimakan dan digunakan sehari-hari begitu saja.
Aku bersyukur, meskipun ada beberapa waktu dimana aku sakit-sakitan, rezeki selalu ada dan datang dari mana saja. Aku sering bertanya pada diri sendiri, betapa takutnya aku untuk menjalani kehidupan dengan orang-orang baru. Membuka lembar baru cerita hidup yang harus kembali mempelajari iklim keluarga baru, dan soal-soal kecil yang bisa memicu kepelikan masalah dalam keluarga nantinya.
Di cerita lain, saudara kembarku adalah pencari nafkah. Tapi dia adalah model pria yang perangainya tidak ingin ku jumpai selama menjadi wanita. Meski dia adalah saudara kembarku, tapi aku sangat tidak ingin jika keturunanku bertemu orang seperti dia.
Istrinya bangun dari pagi buta sekali, lalu menemani anaknya mengaji pagi-pagi. Setelahnya ia mempersiapkan bahan-bahan untuk bahan berjualan. Ia mempersiapkan pakaian, bekal makan untuk Rida jika sewaktu-waktu dia tidak sempat sarapan.
Istrinya kerap dibentak atau diperintah sebagaimana tuan pada budaknya. Dia adalah seorang pria patriarki, dia menempatkan peran dirinya sebagai pria yang tugasnya hanya mencari nafkah saja, bukan mendidik dan menaungi seperti peran pria yang diajarkan dalam Islam. Aku melihat betul perjuangan istrinya, ia sangat sabar dan tak pernah menuntut apapun.
Ia tak pernah melawan saking baiknya. Istrinya sangat memahami bahwa menikah adalah ibadah panjang. Aku sering berpikir, betapa sulit dan takutnya aku untuk membuka hati dan mempelajari kembali karakter pria, sedangkan saudara pria terdekatku pun berperangai menjengkelkan.
Akhir-akhir ini ku sadari bahwa, aku harus berkaca pada saudara terdekatku, Rida. Orang-orang memandangnya bak raja yang bicaranya tak boleh ditimpali oleh rakyatnya. Seperti evaluasi kecil bagiku, tentang karakterku yang terdalam.
Bisa saja, aku adalah bentuk lain dari Rida. Pria diluar sana melihat banyak sisi negatifku seperti orang lain menilai Rida. Aku saudara kembarnya, siapa tahu memang karakter kami memerlukan pemahaman yang lebih.
Rida punya istri yang tangguh dan sabar, sedangkan aku adalah wanita yang juga bermental seperti Rida. Sudah bukan waktunya lagi aku berkelana mencari arti hidup. Aku hanya butuh teman hidup yang bersedia menemaniku di masa tua nanti.
Hari ini hanya jadi renungan saja, betapa berharganya jalan hidupku hingga tak ku harapkan menimpa anak cucuku kelak nanti. Cukup aku saja yang tak menemui keberuntungan itu.
