Di Sumedang, pada 16 Juni 1938, lahirlah seorang anak yang kelak akan menyalakan obor bagi dunia sastra dan teater Indonesia: Saini K.M. Sejak muda, ia telah akrab dengan panggung dan kata-kata, bahkan sebelum menapaki bangku kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Dari sana, tumbuh keyakinan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan jalan hidup yang menuntut keberanian, ketekunan, dan pengabdian.
Dorongan batin itu kemudian menjelma menjadi langkah besar: mendirikan jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Sebuah keputusan yang bukan hanya menandai kiprahnya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai perintis yang membuka ruang bagi generasi muda untuk menemukan panggungnya sendiri. Di STSI Bandung, ia tak hanya mengajar, melainkan juga menanamkan semangat bahwa teater adalah cermin kehidupan, tempat manusia belajar memahami dirinya dan orang lain.
Namun, panggung bukan satu-satunya ruang yang ia isi. Dunia kata-kata pun menjadi medan perjuangan. Saini menulis puisi dan esai dengan ketekunan seorang petani yang merawat sawahnya. Tiga kumpulan puisi lahir dari tangannya: Nyanyian Tanah Air (1969), Rumah Cermin (1979), dan Sepuluh Orang Utusan (1989). Setiap buku adalah jejak perjalanan batin, sekaligus refleksi atas zaman yang ia lalui. Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan nyanyian yang mengikat tanah air dengan suara hati.
Di ranah esai, ia menorehkan Protes Sosial dalam Sastra (1983). Judul itu sendiri sudah menjadi pernyataan: bahwa sastra tak pernah berdiri di menara gading, melainkan hadir di tengah masyarakat, menyuarakan kegelisahan, dan menantang ketidakadilan. Saini memahami bahwa kata-kata bisa menjadi senjata, bisa pula menjadi pelipur, tergantung bagaimana ia dipakai.
Membaca karya-karyanya, kita seakan diajak masuk ke ruang cermin: melihat diri, bangsa, dan zaman dengan jujur. Ia menulis dengan kesadaran bahwa sastra adalah bagian dari denyut kehidupan, bukan sekadar hiasan. Di panggung teater, ia mengajarkan tubuh dan suara; di halaman buku, ia mengajarkan pikiran dan rasa.
Kini, jejak Saini K.M. tetap hidup dalam karya dan institusi yang ia dirikan. Ia adalah sosok yang menjembatani kata dan panggung, menjadikan keduanya ruang belajar sekaligus ruang perlawanan. Dari Sumedang hingga Bandung, dari puisi hingga teater, ia menegaskan satu hal: seni adalah cara manusia merawat kemanusiaannya.
