Tampilan Ruang Pena saat masih blogspot
Semoga Akang dan Teteh para penulis Ruang Pena selalu ada dalam keadaan sehat. Pagi yang dingin, tidak mampu menutupi kehangatan yang terasa di dalam hati saya setiap hari. Memiliki ruangpena.id adalah sebuah kebanggaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Bagi saya, Ruang Pena adalah “anak” yang harus senantiasa saya rawat dan saya besarkan setiap harinya dengan penuh suka cita.
Sebagai inisiator hadirnya Ruang Pena, izinkan saya bercerita mengenang perjalanan mengapa ruangpena.id harus di tengah-tengah kita.
Saya adalah penyuka buku, membaca sejak usia Sekolah Dasar sampai mata minus di usia yang sangat belia. Saya juga anak yang lebih suka mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang ditulis dengan pena, tidak terkecuali ketika meluapkan emosi. Suka, senang, sedih dan bahagia saya tuliskan, meskipun hanya dalam kata-kata sederhana sekenanya ala anak ingusan bau kencur Sekolah Dasar zaman dulu.
Ketika saya sakit hati atau tersinggung dengan seseorang, saya akan memaki orang tersebut dengan menulis semua ungkapan kekecewaan itu di sebuah kertas, lalu membuang, menyobek, atau membakarnya. Seketika itu juga kekecewaan mereda. Saya bisa bernapas plong dan tersenyum kembali setelahnya.

Usia kian bertambah. Minat saya pada buku-buku bacaan semakin menanjak. Buku-buku di perpustakaan dibaca dengan hati yang riang. Terlebih saya dimandati sebagai seorang pustakawan yang ditunjuk dari kalangan siswa di SMP N I Panawangan kala itu. Jika bel istirahat berbunyi, saya sangat jarang jajan. Saya akan bergegas pergi ke perpustakaan menjadi seorang “penjaga perpustakaan”.
Duduk di bangku SMA favorit di kabupaten Ciamis tidaklah mudah. Ketika gengsi masih diperhitungkan dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) kala itu, maka tetap menjadi siswa yang kreatif dan pintar adalah sebuah keharusan, agar tidak kalah bersaing dan kalah keren dengan siswa lain.

Akhirnya di pertengahan tahun kelas 1 SMA, saya memaksimalkan kemampuan di pelajaran bahasa Indonesia dan pelajaran rumpun IPS. Sampai ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan, ketika teman-teman memberikan imbalan traktiran makan mie ayam karena saya telah berperan menjadi seorang Ghostwriter mereka; membuatkan tugas karya puisi dari guru bahasa Indonesia yang terkenal killer. Tidak diduga, setelah itu, tawaran traktiran terus berdatangan.
Dari sana keseriusan saya di bidang kepenulisan semakin meningkat. Kelas 2 SMA karya puisi saya mulai terpajang di Mading sekolah. Bahkan beberapa meminta dibuatkan kata-kata romantis untuk dikirimkan kepada orang yang sedang ditaksirnya. He he. Lucu sekali kalau ingat itu.
Saat kuliah, saya tetap mencintai buku. Bergabung di Gerakan Pramuka UIN Sunan Gunung Djati Bandung saya ikut Unit penegmbangan anggota yang ebrnama Perskom. Di sana belajar tentang kepenulisan juga walaupun masih sederhana dan minim pengajar. Sesekali kami hanya bertemu dengan para jurnalis jika ada kegiatan besar tingkat Kwarda.
Tahun 2013, saya mulai iseng mengikuti lomba yang informasinya didapatkan dari media sosial Facebook. Beberapa lomba lolos dan karya saya masuk di belasan buku antologi. Seiring dengan itu pula, saya mulai merasa harus memiliki ruang sendiri untuk mengasah kemampuan menulis. Akhirnya dibuatlah blog dengan nama Gerimis Rindu yang kemudian berganti nama menjadi “Ruang Pena Diantika IE“.
Sekitar tahun 2016 mulai berani beli hosting dan domain. Dengan dibangun oleh seorang programmer andal yang selalu siap sedia direpotkan (nama develover tercantum di bagian bawah web), jadilah website dengan domain ruangpena.com. Satu tahun lebih saya merawat dan terus menulis di sana. Sampai akhirnya ada kejadian yang membuat saya benar-benar harus mengambil keputusan besar. Saya salah mempercayai orang untuk mengelola web. Namun ada perbedaan visi misi dan orang tersebut malah… Ah sudah lah bagian ini tidak perlu saya ceritakan.
Dengan berat hati saya menon aktifkan website dengan tidak memperpanjang hosting dan domain dengan harapan suatu hari bisa mengawalinya kembali.
Waktu berlalu, saya aktif sana-sini di berbagai komunitas, 2018 saya mencoba merintis kembali web. Sayang sekali domain (nama) ruangpena.com sudah dibeli seorang broker dengan bandrol harga Rp 11.000.000. Beruntung domain ruangpena.id yang hingga sekarang dipakai masih tersedia.
Saya memutuskan bahwa website ini hanya sebagai website pribadi. Saya merawatnya dengan semangat yang naik turun karena berbenturan dengan peran sebagai istri, ibu sekaligus bekerja di sebuah lembaga pendidikan. Sampai akhirnya kini bertransformasi menjadi ruang menulis kita semua dengan tujuan siapapun penulisnya, baik pemula ataupun yang sudah profesional, ruangpena.id mampu menjadi wadah untuk mempromosikan karya dan mengenalkan nama penulis ke khalayak ramai. Makanya slogan dari Ruang Pena sendiri adalah “Free writing to promote yourself”.
Saya merasa harus menghaturkan rasa terima kasih kepada para penulis ruangpena.id yang senantiasa setia menulis dan meramaikan website ini.
Berusaha untuk tetap konsisten menulis memang tidak mudah. Namun ternyata kita bisa melakukannya. Website kita ini memang belum sebesar website yang lain. Namun dengan semangat yang membara, kita akan terus menyalakan Ruang Pena.
Saya pribadi sangat bangga. Sejak dibangun, Ruang Pena memang diperuntukan bagi teman-teman penulis pemula seperti saya, yang belum berani dan belum percaya diri mempublikasikan tulisannya di media online. Saya berharap teman-teman semua bisa mendobrak keraguan tersebut. Karena nyatanya, setiap tulisan pasti ada pembacanya.
Akhirnya kini ruangpena.id sudah memiliki 20 penulis aktif yang sudah bersedia menuangkan ide berharganya di sini. Kalian luar biasa. Proses belajar teman-teman sangatlah cepat. Saya berharap, setelah terbiasa menulis di ruang pena, jangan lupa menuangkan ide di manapun, di mana saja. Kembnagkan sayap selebar mungkin, kenalkan nama kalian kepada dunia.
Puncak keharuan saya adalah, beberapa di antara penulis ruangpena.id adalah para penulis yang sudah andal jauh sebelum ikut menulis di ruangpena.id yang dengan rela hati ikut berkontribusi menuliskan idenya.
Bagi saya, tidak ada tulisan yang gagal. Semua ide itu luar biasa. Semoga apa yang kita tulis menjadikan bekal berupa amal jariyah bagi kita semua para penulis ruang pena.
Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikannya berupa aliran ide tulisan yang semakin deras, rejeki yang berkah dan berkelimpahan, tubuh yang selalu sehat dan hati yang selalu dilipiti kebahagiaan dan kesyukuran. Tanpa teman-teman semua website ini bukanlah apa-apa. Mari sama-sama besarkan nama kita sebagai penulis, dimulai dari Ruang Pena.
Untuk para penulis atau bahkan calon penulis yang ingin bergabung sebagai penulis dan mempronosikan tulisannya di Ruang Pena boleh mendaftar dengan klik tautan ini ya.
Salam hangat dari saya yang belum bisa membalas semua kebaikan Akang dan Teteh semua.
