Kepada Yth. Kang Maman Suherman
Penggiat Literasi Nasional
Di Tempat.
Salam hangat dari saya yang kini sedang berusaha menata pikir dan menghadapi realita kehidupan sehari-hari. Semalam, saya terjerat dalam kelelahan yang begitu mendera. Badan ini pegal-pegal, kepala sedikit pusing, dan mata berkunang-kunang menanti restu asap tidur. Jam sepuluh malam, saya terkulai dalam lelap, mengandalkan kursi sederhana sebagai tempat bersandar. Tidur tanpa selimut, rasanya hanya bisa disamakan dengan merindukan pelukan hangat dalam dekapan malam yang dingin.
Jam dua, terbangun merasakan dingin menusuk sampai ke tulang. Teringat, saya belum salat Isya. Selesai bersimpuh dan berdoa dalam hening, rencana untuk melanjutkan membaca naskah editan sirna seiring rasa ngantuk yang kembali merayap. Saya pun berpindah ke kasur, membalut diri dalam selimut tebal, dan larut kembali dalam mimpi hingga pagi menjelang.
Di balik lelap tidur saya, istri terkasih telah berjuang di dapur, berusaha menyiapkan nasi goreng meski rasa sakit gigi menyakiti dirinya. Sejak kemarin sore, dia sudah merasakan derita itu. Dan karena itu pula, saya memilih untuk tetap di rumah, menjaga rumah dan anak-anak agar tidak kekurangan, entah itu pasir, bata, atau keramik. Sebuah pilihan yang sering kali berat, namun saya tahu betapa pentingnya keberadaan saya di sana.
Pagi itu, cuaca terasa dingin dan murung. Dunianya pilu, seolah langit pun berusaha mengungkapkan rasa hatinya. Saya dengan semangat mengantar istri ke rumah sakit Mitra Kasih untuk pemeriksaan gigi. Namun, sesampainya di sana, ruang tunggu dipenuhi oleh penantian calon pasien lainnya. Saya pun memutuskan pulang, membawa anak-anak yang penuh rasa penasaran sekaligus kelelahan. Kanya, si sulung, tampak lesu dan panas ketika saya peluk. Bagja, yang masih membutuhkan popok, sepertinya tidak sabar menunggu perhatian saya.
Dalam perjalanan pulang dengan sepeda motor, hati ini bergetar. Saya melaju hati-hati, terutama karena Kanya yang dibonceng tak berdaya. Setibanya di rumah, saya memberikan makan dan minuman Sangobion agar dia tidak terlalu lemas. Mengganti popok Bagja menjadi tantangan tersendiri, namun semua itu saya jalani dengan sabar dan penuh cinta.
Hari ini, jadwal menjumpai rekan di Jatinangor terasa seperti tantangan baru. Siang hari, setelah istri pulang, cepat-cepat saya bersiap. Mandi, ganti baju, dan meluncur ke jalan tol Soetta semoga perjalanan tidak macet. Penuh harapan, pulang pergi dalam benak karena waktu yang dangkal, dan rasa kelelahan menggigit lebih dalam.
Sesampainya di daerah Cibiru, saya tak menemukan orang yang saya cari. Kecewa? Tentu. Namun, saya mencari solusi dengan menelepon dan berupaya menjemputnya. Saat itu, saya mampir di Toko Buku Ultimus, ingin sejenak beristirahat. Di situ, saya teringat akan bekal nasi dan lauk yang saya bawa. Entah kenapa, mengunyah makanan sambil membaca membuat saya merasa lebih hidup.
Kawan, semoga kesehatan senantiasa menyelimutiku untuk anak dan istri tercinta di rumah. Semangat adalah bagian hidup yang tidak boleh pudar. Mari kita terus berjuang dalam dunia literasi yang Anda gagas dengan penuh dedikasi. Dan jangan lupa, bacalah novel “Pasar Malam” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel itu seolah memberikan suntikan semangat, mengingatkan kita semua bahwa kehidupan tidak selamanya mudah, namun perjuangan yang tak henti adalah kunci menuju keberhasilan.
Di luar sana, hujan lebat membasahi bumi. Saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Cibiru, dan harapan selalu membara agar hari-hari esok lebih baik. Sampai di sini dulu, Kang Maman. Satu sambungan kisah yang penuh warna ini insya Allah akan saya lanjutkan dalam kesempatan berikutnya.
Salam hangat dan semangat untuk Anda.
Cimahi, 31 Mei 2025
Didin Tulus
